Monday, April 6, 2015

[ FamilyFile] Kartu Keluarga

Kayaknya udah basi banget ya kalau mau tulis pengalaman saya mengurus Kartu Keluarga sekarang. Secara Kartu Keluarga saya selesai dari bulan maret 2015 kemarin.

Bayangkan sejak menikah November 2013 sampe akhir tahun 2014, kami masih dianggap single. Pikiran malasnya berhubungan dengan administrasi pemerintahanlah yang mendukung kemalasan kami.

Tapi berhubung adanya tragedi hilangnya motor suami, sehingga kami harus mengandalkan mobil untuk sarana transportasi dan itu bener-bener bikin nyesek dompet. Akhirnya untuk kepentingan masa depan jika punya anak, beli sesuatu, dan menghindari kami diarak masyarakat karena dikira kumpul kebo (KTP masih beda soalnya), maka kami memutuskan mengurus dokumen-dokumen untuk membuat Kartu Keluarga dan KTP.

Berhubung suami memiliki KTP Jakarta dan saya memiliki KTP Tangerang (dimana alamatnya tidak sesuai dengan tempat tinggal saya), kami memutuskan membuat KTP dengan domisili sesuai tempat tinggal kami sekarang. Tentu saja alasannya agar kami mudah mencari RT RW jika membutuhkan sesuatu, lah kalau jauh2 gitu gak kenal makin repot. Makan waktu dan biaya toh. 

Langkah pertama yang kami ya urus kepindahan masing-masing. Suami ke jakarta cari RT RW minta surat keterangan pindah dan saya dengan bantuan papa lebih tepatnya mengurus ke Benteng Makasar (belakang Sekolah Santa Maria Daan Mogot). 
Ya tau sendirilah ya jaman sekarang apa-apa butuh duit. Saya lupa berapa nominalnya, lumayanlah buat makan diluar berdua. Itu baru berurusan dengan RT RW, lain lagi dengan Kelurahan.

Setelah mendapat dokumen yang diperlukan dari RT RW masing-masing, kami harus secepatnya mengurus dokumen tersebut ke Dinas Pendudukan (dokumen harus diserahkan sebelum 30 hari atau hangus), sebelum itu tentu saja berurusan dengan Kelurahan dan Kecamatan sesuai domisili yang akan dicantumkan di KTP. Pagi-pagi kami datang eh orang kelurahannya masih belom ada. 
Pas ketemu dengan orang kelurahan yang bertanggung jawab, kami diperiksa dokumen-dokumennya, katanya abis ini perlu ttd Kecamatan. Kami sih jujur-jujur aja minta tolong dia buat urus semuanya supaya kami gak perlu bolak-balik.
Beberapa hari kemudian dia ngabarin kalau dokumennya udah beres, saya tanya ada biaya gak dia seperti ragu dan bilang seiklasnya aja. Eh pas ketemu dia malah langsung patokin harga...mana uang pas2an lagi. Sueee deh nanya2 polos gitu.

Lalu kami ke dinas pendudukan yang waktu itu masih berada di Gedung Cisadane lantai 2. Pagi-pagi antrian udah rame, udah dibuka sejak jam setengah 8. 
Setelah dapet nomor antrian tinggal nunggu dipanggil deh, rame banget. Dipinggir berjejer meja orang-orang berseragam yang dipisahkan berdasarkan kriteria. Gak pake mic, jadi cuma mengandalkan suara ditengah hiruk pikuk masyarakat. 
Nomor kami dipanggil, mesti masuk kedalam kerumunan orang-orang yang entah kenapa betah nunggu berdiri disekeliling meja-meja itu. 
Suami menyerahkan satu map yang isinya semua dokumen yang diperlukan, diperiksa lalu dikasih nomor tanda terima dengan cap prediksi tanggal selesai, kami diminta foto untuk KTP. Setelah itu selesai.


** 
Ya namanya juga masih manual ya pemerintahan kita, jadi hasilnya juga gak sesuai prediksi. Kami bolak balik ke gedung itu ternyata masih belum selesai, sampe akhirnya tuh dinas kependudukan pindah ke Gedung Tenaga Kerja di Cikokol belom selesai juga. 

Disini lebih parah.
Pagi-pagi mesti antri nomor pas dipanggil kasih bukti tanda terima kemarin, baru dicari secara manual diantara banyak arsip.Gilaaaaa!!!! 
Yang nyari anak sekolahan yang magang kayaknya, kasian liatnya...muka udah keliatan frustasi dan cape banget. Tau sendiri bapak bapak ama ibu ibu kalau udah ngoceh gimana. 
Hari pertama antri ga dapet apa-apa, katanya kalau liat tanggalnya sih belum jadi. Soalnya mereka masih sibuk pindah-pindahan. Hmmmm.

Selang beberapa hari kami antri lagi, lebih pagi lagi biar ga dapet nomor boncit. Kali ini giliran suami dulu yang antri, dia minta penjaga parkir infoin udah ampe mana nomor antriannya. Jadi kami kerja seperti biasa, siang dia baru dapet info kalau nomornya udh mau deket. Dia berhasil membawa pulang KTP kami berdua. Horeeee ... dan setelah kami lihat ternyata KTP kami seumur hidup dan fotonya masih foto lama ...percuma dong kemarin gaya2. 

Selang beberapa hari giliran saya yang antri ambil Kartu Keluarga (KK). Bermodalkan kesabaran saya menunggu kepastian, ada petugas orang timur yang lumayan mencairkan suasana. 
Setelah menunggu beberapa jam saya  mendapatkan Kartu Keluarga saya yang akhirnya baru diprint T_T ... pas saya lihat Agama yang tertera salah, ya memang hal sepele tapi biar sekalian masih disini toh. Saya minta ganti, untungnya ibu petugasnya mau print ulang. Horeeee... udah bereslah. Selesai dari situ saya ke tukang fotokopi buat laminating Akta Nikah, Akta Baptis,dll.

Untuk proses di dinas kependudukan semua gratis, cuma butuh kesabaran ekstra untuk menunggu.

Thanks,
-anita-

















KEHILANGAN

Kehilangan orang terdekat yang terpatri dalam ingatan saya hanyalah Nenek dari Mama dan Suami dari Sepupu. Terpatri karena kejadiannya saat...