Sunday, January 29, 2017

Ketika Sincia Bukan Lagi Sekedar Mengharap Angpao

Yang setuju dengan judul saya pasti sekarang udah gede dan tidak lagi mendapat angpao... hahaha yuk toss.

Mari berflashback ulang ke masa saya masih unyu-unyu, sekitar 15 -20 tahun yang lalu mungkin. Ketika saat itu media sosial belom ada, bahkan gadget merupakan barang mewah bagi saya. Bahkan di kala itu saya masih jadi bocah polos yang tidak tahu kejamnya dunia.

Sehari sebelum sincia biasanya saya membantu Mama untuk beres-beres rumah, setelah itu disuruh mandi dan memakai baju serba baru. Dilarang untuk menyapu ketika malam sudah tiba. Meski tidak ada acara keluarga, kami semua menyambut sincia dengan sukacita dan penuh harap esok menerima angpao banyak. 
Pagi-pagi Mama sudah membangunkan kami, mandipun dilakukan secara bergilir. 
Yap ketika kami sudah cantik siap dengan baju baru yang mentereng warnanya, kami langsung berangkat keliling rumah saudara. Pertama adalah saudara dari Papa. Keliling rumah sambil icip-icip kue dan hidangan lainnya menjadi kesan tersendiri, bahkan selama bertahun-tahun kami kadang menantikan hari Sincia demi mencicip hidangan tersebut. Dan paling seneng pas di mobil buka angpao. Hahaha waktu kecil saya bahkan pernah dapet segepok uang seribu-an lho.

Setelah keliling rumah saudara pihak Papa, kami biasanya stay dirumah Meme (nenek) dari pihak Mama. Sebagai rumah tua, tentu saja banyak saudara yang datang. Kami cuma perlu mejeng didepan teras sambil ngobrol dan ngabisin kue, bahkan kadang kami menghadang tukang jajanan yang lewat. Tentu saja bayarnya pake uang hasil angpao sendiri. 

Namun seiring waktu dan banyak saudara-saudara yang sudah tua telah meninggal, pertemuan saudara jauh ini tidak lagi seramai dulu. Sepupu yang dulu akrab entah mengapa sekarang terasa asing. Kalaupun bertemu biasanya hanya sapaan basa basi. 
Dan ketika konflik keluarga dari pihak Mama terjadi, membuat keluarga kami menjauh dari jangkaun saudara Mama. Well, uang memang bisa buat tali persaudaraan putus. 

Dan semakin bertambah umur, angpao tidak lagi menempel ditangan saya. Sejak bekerja sepertinya tetua langsung menganggap pamali memberikan angpao pada kuli macam saya ini. Ditambah ketika status telah berubah menjadi seorang istri, kewajiban memberi angpao sudah membayangi. Kebanyakan angpao diberikan kepada sepupu jauh suami,kalau dari pihak saya hanya sedikit.

Semakin kesini saya memahami makna sincia. Bukan soal angpao yang diterima dan diberi, tapi soal kebersamaan. 
Itulah yang diusahakan oleh keluarga suami setiap malam sincia.
Keluarga dari Pihak Mama Mertua biasanya akan mengadakan makan malam bersama di malam sincia, setiap tahun mereka bergilir menjadi tuan rumah. Jika tuan rumah menyediakan tempat dan makan, para saudara lain yang menjadi tamu kadang membawa makanan lain sebagai penambah hidangan. 
Disini biasanya akan terjadi percakapan seru, kadang para tetua memberi wejangan pada generasi muda macam kami dalam menjalani hidup. Intinya sih mereka meminta kami untuk sering berkumpul saudara seperi ini, selain tetap menjaga tali persaudaraan juga mempertahankan tradisi leluhur.

Nah tahun ini adalah tahun Ayam yang jatuh tepat tanggal 28 Januari 2017, tahun dimana Kael pertama kali dapat angpao sincia. 

Sabtu pagi  setelah mengurus diri sendiri, baru membangunkan suami dan terakhir Kael. Gak perlu full make up, yang penting alis berwarna supaya pas di foto gak polos-polos amat. 
Acara dimulai dengan pemberian Angpao dari Suami pada Kael. Hihi meski gak ngerti tapi dia seneng-seneng aja mainin angpaonya.

























Setelah itu kami bertandang kerumah Mama, selesai numpang sarapan kami memulai ritual tahunan kami yaitu bersujud kepada kedua orangtua. Dimulai dari Ci Hera, saya lalu barulah Entis. Disini Mama biasanya mengucap doa-doa kesuksesan buat kami semua. Sebagai anak yang sudah menikah, kami memberikan angpao kepada mereka. Ya meski segala kebaikan mereka gak akan lunas hanya dengan sebuah angpao. 















Perjalanan berkeliling dilanjutkan menuju Benteng Makasar, rumah Kakak Papa tertua (Tua Pe). Disana ada meja abu kedua orangtua Papa. 
Setelah berkiong hi dengan sepupu yang kebetulan sudah datang disana, kami melanjutkan perjalanan menuju rumah adik perempuan Papa (Kukuh) yang berada di Kapling, baru terakhir menuju rumah Kakak Kedua Papa (Ji Pe) di sekitar Pasar Anyar. 

Setelah pulang dulu mengambil mobil Suami, kami melanjutkan perjalanan menuju rumah orangtua Suami di Perum II. Disana Mama Papa juga mampir untuk bersilahturahmi.

Sejak saya menikah, saya menularkan kebiasaan bersujud pada kedua orangtua seperti dirumah. Tentu saja ide itu disambut semangat oleh kedua orangtua suami. 

Sebenarnya saya bukanlah menantu suka cari perhatian ama mertua, kadang saya malah suka males kalau dicari-cari. Tapi tetep aja dicariin, suami ampe selalu nyindir kalau saya ini menantu kesayangan orangtuanya. #menantuidaman. Haduh saya sebenarnya gak mau jadi menantu idaman, soalnya ribet kalau ketemu terus. Hahaha peace Ma-Pa!


Kalian mau jadi menantu kesayangan? Perlakukan mereka seperti orangtuamu sendiri! Kalau mereka ngeselin? diam aja sambil tampilin senyum tipis didepan mereka lalu curhat panjang lebar didepan suami. Ya meski mereka 'rese' tapi saya tau mereka itu sayang ama saya. Jadi sabar-sabar aja ya.

Jam 2 kami baru jalan ke Jakarta, berhubung tempat yang biasa kami kunjungi tidak melakukan open house tahun ini, maka tujuan kami adalah sepupu Papa, cece Afong. Rumahnya di Duri Mas. Kami kena macet sejam di Karang Tengah karena ada kecelakaan bus di lajur kiri yang mengarah pintu exit Puri. 


Jam 5 sore kami baru beranjak pulang karena masih harus bertamu ke rumah Ji Kuh ( Kakak Kedua Mama Mertua) di Grogol. Disini anggota makan malam sincia bertemu lagi. Tahun ini tidak banyak yang bisa berkumpul, kemungkinan punya acara keluarga masing-masing. 




***

Nah acara kumpul Sincia dilanjut hari Minggu. 
Acara ini adalah kumpulnya keluarga (pihak Mama), meski bersitegang tetap saja kami sebagai penerus harus tetap bersalihturahmi. Jangan biarkan amarah orangtua menyerempet ke anak cucu, itu yang dipesankan suami. Oooohh suamiku sayaaaang.
Berhubung acaranya sore, jadi saya dan suami ibadah pagi dan siang dulu. Mampir bentar ke rumah orangtua Desy untuk kiong hi-an.
Saking asyiknya ngobrol sampe telat pulang dari jam yang sudah dijanjikan, buru-buru jemput rombongan dirumah Mama baru jalan ke tempat acara di Pondok Bahar. 


Seharian itu hujan sering mengguyur tanah, kadang lebat kadang juga hanya gerimis kecil. Semoga hujan ini menjadi pertanda bagus di tahun Ayam ini. Ingat ya jangan biarkan hujan ini membuat kita mager bangun pagi, biar semangat cari rejeki. Awas rejekinya dipatok ayam!


Jangan lupa tetap menjaga keharmonisan keluarga. Taruh gadget anda dan mulai ciptakan obrolan seru dengan sekeliling kalian ya. Jangan lupakan dunia nyata disamping kiri dan kanan anda.


Gong Xi Fa Cai 2017
xoxoxo


Sazmita's Family





No comments:

Post a Comment

KEHILANGAN

Kehilangan orang terdekat yang terpatri dalam ingatan saya hanyalah Nenek dari Mama dan Suami dari Sepupu. Terpatri karena kejadiannya saat...