Saturday, February 25, 2017

Berburu Kacamata Baru

Ketika kacamata yang saya beli baru beberapa bulan lalu harus rela saya buang karena patah, rasanya nyesss juga ya.
Emang sih belinya cuma 250k dan beli di Optik biasa, toh awalnya cuma buat pengganti kacamata lama saya yang lensanya udah baret-baret. 
Kacamata murah itu berhasil patah hanya gara-gara saya mau lepas ketika Kael mulai tergoda untuk memainkannya. Lagi tidur-tiduran eeeh pas mau lepas malah patah.  

nasib kacamata murah
Alhasil selama nunggu weekend saya harus terbiasa memakai kacamata dengan lensa penuh baret. Untung hanya beberapa hari. 

Jadilah sabtu siang saya beserta watiers (Kakak beserta Keponakan dan Adik saya)merencakanan ke Summarecon Mal Serpong (SMS). Adik mau tukar Galaxy Gift Fish n Co yang ternyata gagal karena outletnya sedang perbaikan. Ya wis akhirnya makan ke Aroma Dermaga deh, meski harus berjalan kaki lumayan jauh. Hahaha pulangnya naik Uber ke SMS lagi. 

Kebetulan Adik juga mau ganti kacamata, sebelumnya dia juga udah ngomongin soal Optik baru yang ada di Supermal Karawaci, yaitu OWL. Iya, si optik berlogo burung hantu yang design tokonya itu kece abis. Kalau biasanya toko kacamata memajang jualannya didalam etalase, lain halnya toko ini. Kita bisa sepuasnya memilih. Mau coba dari ujung keujung juga boleh. Mau yang model biasa, bulat kayak mata burung hantu atau kacamata gaya? silakan pilih sesuka anda. Bahkan beberapa frame bisa lentur lho. 
Soal harga gak usah capek-capek nanya, disetiap frame sudah tertera harga, dimana include lensa (maksimal minus 6). W O W banget gak sih?
Hahaha saya sendiri sampai bingung menentukan pilihan.

Kami dibantu oleh seorang staf laki-laki yang saya lupa cari tahu namanya, orangnya ramah dan telaten menjelaskan segalanya.

Suami yang lagi nyoba-nyoba kacamata aja ditawari pengecekan mata. Pengecekannya lengkap pula. Dari pengecekan mata secara komputer sampai masuk ke ruangan kecil dibelakang kasir, disana ada kursi yang mengarah ke layar. 
Kita akan dipakaikan kacamata yang bisa disisipkan lensa kayak dibawah ini. Disini kita bisa lebih pasti dalam penggunaan lensa yang akan kita pakai. Beritahu staf sesuai mata kamu ya ... jangan iya iya doang, nanti nyesel lho. Hahaha. Tenang aja, staffnya akan membantu kita dengan baik.   
http://blog.alfamartku.com/index.php/2016/07/29/kacamata-minus-gratis-untuk-anak-anak-indonesia/
Mata suami saya ternyata masih normal, padahal dia katanya udah ngeluh matanya capek kalau liat komputer. Lah mainannya mantengin HP mulu buat nge-game. Ini tidak adil. Bagaimana bisa orang males baca tapi doyan nge-game malem-malem masih bisa mempertahankan kualitas matanya. Hiksss.
Menurut staf tersebut kalau mau tetap beli kacamata di Owl, bisa dibuat lensa normal atau tanpa lensa. Kalau tanpa lensa kena potongan 150ribuan deh kalau gak salah inget. CMIIW ya. 

Setelah hampir satu jam akhirnya kami berhasil menemukan pujaan hati masing-masing. Untuk setiap pembelian dua pasang kacamata akan mendapat diskon 20% untuk salah satu kacamata tersebut. Lumayan lah ya. 

Frame kami nilainya sama, yaitu 799K. Dan lensanya ternyata ukurannya hampir sama. 
Kalau biasanya saya akan dikenakan biaya penipisan lensa karena minus 4, tapi disini lensanya udah tipis booo. Ada silinder pun gak kena biaya. Cihuuuuy banget gak sih?
Bahkan stafnya membantu saya mencuci dan mengganti baut kacamata lama saya. Hu hu hu baiknya.

Untuk pelanggan OWL ada layanan after sales, dimana kita bisa datang untuk minta dicucikan, setting Frame, minta kain lap kacamata atau apapun masalah yang mengganggu pada kacamata kita dengan biaya NOL rupiah. Misalkan sebelum setahun lensa kacamata kita bermasalah, katanya sih bisa diganti. W O W banget lagi gak?Hihihi.

Frame disini memang made in Korea, jadi style-nya oke banget. Gak garing kayak krupuk. Kita bisa terus bergaya lho.

.
berasa di endorse yak :p
Yuk yang lagi hunting kacamata, bisa mampir ke outlet OWL terdekat.
Untuk Tangerang ada di Supermal Karawaci dan Summarecon Mall Serpong.



xoxoxo
-anita-









Friday, February 10, 2017

Sidak Biaya Hidup Keluarga

Tahun 2017 telah berjalan sebulan lebih, sedikit terlambat sepertinya udah me-review ulang apa yang sudah saya dapatkan selama tahun 2016. 

Ingatan saya mundur setahun yang lalu,ketika akhirnya saya memutuskan waktunya untuk berinvestasi, meski terdengar sudah terlambat ketika mengingat pernikahan kami telah beranjak dua tahun. Hahaha rasanya begitu mengingatnya merasa bodoh, kok gak dari dulu sih?!

Begitu melihat biaya pendidikan anak yang begitu tinggi. Bayangkan sekarang biaya SPP anak TK yang masih kucril seharga SPP saya waktu SMA. Apa wajar dengan nilai tersebut,padahal perbedaannya hanya dalam waktu 13 tahun? Belum uang pangkalnya dan segala tetek bengek lainnya. Rasanya langsung pusing!

Wes wes langsunglah saya sidak berapa tabungan saya selama ini? Hiikss bener-bener mengenaskan. Tabungan biasa ala kadarnya, Rekening BCA cuma buat numpang gaji masuk doang, Rekening Niaga bikin meringis, Tabungan berjangka masih jalan setahun lebih lagi, Reksadana? Huff sudahlah tidak perlu dipajang, bikin malu aja. Hahaha gimana masa depan keluarga kami ini????

Sampai saya berpikir,apa cuma saya yang parno soal urusan keuangan keluarga? Apa cuma saya yang ubannya makin banyak gara-gara mikirin ini tabungan keluarga kok cuma secuil doang? Hahaha. setelah blogwalking berminggu-minggu ternyata banyak sekali yang senasib seperti saya. Bagaimana mereka berjuang untuk bangkit membuat saya semangat juga. 

Apa saja yang perlu saya benahi? Darimana memulainya?
Sebelum itu terjawab, sebaiknya mari kita simpulkan dahulu pengeluaran rutin yang HARUS ada dalam sebuah keluarga, yaitu :

1. ASURANSI
Tahun 2011 saya pertama kali membuat asuransi unit link dengan biaya 400ribu sebulan dan masih berjalan sampai sekarang, meski sudah beberapa kali saya mencairkan nilai investasinya. Saya dulu tidak mengerti unitlink itu apa, yang penting kesehatan terjamin dan investasipun ada. 
Semakin kesini semakin ngerti. Rugi juga sih sebenarnya, karena jatah asuransi kesehatan yang ditanggung kayaknya udah gak sepadan ama nilai sekarang. Dihitung-hitung nilai balik investasinyapun kecil. Tapi mau tutup juga sayang karena sudah berjalan 5 tahun. 

Saat suami berniat mencari asuransi, akhirnya saya kasih tau mending ambil asuransi jiwa saja. Secara untuk asuransi kesehatan sudah ditanggung oleh perusahaannya, lumayan saya juga ikut kebagian. Asuransi Jiwa penting sekali dimiliki bagi orangtua, apalagi yang menjadi penghasil uang dalam keluarga. Jika ada sesuatu yang amit-amit jabang bayi, setidaknya yang ditinggalkan tidak langsung miskin mendadak. 

Dan BPJS juga sebaiknya ada, meski sampai sekarang saya belom pernah mencoba memakainya untuk apapun, seenggaknya jika sakit bisa memakai  BPJS. 

Untuk asuransi kesehatan untungnya saya tidak perlu mengeluarkan uang dalam jumlah besar. Tapi jika suatu saat suami tidak lagi bekerja di perusahannya, sepertinya saya harus mencari asuransi kesehatan murni. Meski sampai saat ini saya belum menemukan yang cocok , dalam arti harga murah dengan manfaat banyak. Hahaha pelit mode on. Jadi Asuransi itu penting ya kawan-kawan!


2. KEBUTUHAN RUMAH TANGGA
Mari kita absen para sabun mandi, shampo, detergen, odol dan jangan lupakan tissue. Mereka membuat peranan penting dalam membengkaknya biaya kebutuhan rumah tangga tiap bulan.
Jangan lupa juga masukan biaya Air dan listrik ya... mereka juga punya andil besar dalam hidup kita. Lihat saja iklan salah satu merk pipa PVC yang mencerminkan masalah ketika tidak ada air didalam hidup kita? Apa kabar juga tagihan listrik yang semakin lama semakin naik tapi beberapa kali masih ada pemadaman listrik bergilir. 

Punya anak tentu saja biaya kebutuhan rumah tangga juga semakin menambah. Berhubung Kael masih baby jadi pengeluarannya juga gak banyak. Cuma susu formula dan pospak yang mesti dibeli. Sampai saat ini Kael masih minum ASI dengan ditolong susu formula Chil Mill, untuk sufor gak sampai menghabiskan 1 dus 800gr dalam sebulan. Dia minum susu kalau mau tidur saja, selain itu mah dilepeh. Untuk pospak, pintar-pintar kita cari produk yang murah tapi bagus. Hahaha apakah itu? ya pilih-pilih aja sendiri sesuai anaknya ya. Rajin-rajin cari info di supermarket atau website.

Untuk biaya ini saya biasanya sudah sediakan budget agak besar, karena sudah merangkap dengan biaya sayur mayur serta isi kulkas lainnya. 
Saya sedikit merasa beruntung memanfaatkan kebaikan orangtua yang rumahnya gak ampe 5km jauhnya dari rumah saya. Saya bisa nebeng biaya gas dan air galon. Hahaha. Gak perlu bayar sewa rumah lagi. Benar-benar beruntung kan saya ini. Jangan pada iri yooo. Setiap orang punya rejeki masing-masing. Setidaknya sampai beberapa waktu kedepan untuk urusan sewa rumah, gas dan air galon say bye-bye!

Cara saya menekan biaya ini biasanya membeli banyak saat harga murah (kecuali sayur dan bahan lainnya yang tidak bisa disimpan lama) atau belilah secukupnya. Untuk daging biasanya saya beli di pasar dan saya simpan di frezeer, sebelumnya biasanya saya potong dan pisahkan dalam plastik zip untuk sekali pakai.


3. ENTERTAINMENT
Wuih, ini penting dan kadangkala suka melebihi budget. Secara hiburan itu subjektif ya, jadi gak bisa diukur dalam rupiah. Tergantung suasana hati juga, kalau lagi happy ya duduk diatas ranjang aja udah senang. Lah kalau lagi mumet atau bosen dirumah?? katakan halo deh pada Mall. 

Tapi mau gak mau demi keberlangsungan hidup di masa depan, saya harus memfilter kembali biaya ini. Perlukah saya membeli baju atau sepatu baru? Saat memilih tempat makan, perlu atau cuma inginkah saya memilih tempat itu? Hahaha sok bijak banget ya saya, meski dalam prakteknya untuk urusan makan sih saya joorr terus. 
Saya ini orangnya pemilih berat untuk urusan barang, tapi langsung lumer jika berhubungan dengan makanan. Kebahagiaan saya ada di perut kayaknya. Hihihi. 


Nah dari ketiga biaya yang pasti keluar itulah, kita dapat mengetahui biaya yang paling dominan membuat dompet menjerit yang mana, ya pasti biaya entertain yak. 
Untuk kasus saya, pengeluaran pribadi ditanggung sendiri ya. Jadi soal pulsa dan lain-lain ya urusan masing-masing. 

Maka mulai 2017 saya akan belajar berpikir jernih. Selalu camkan kata 'BUTUH' atau 'INGIN' didalam pikiran kita untuk menekan biaya ini. Semoga berefektif bagi saya.

Kalau efektif kan lumayan, biaya bulanan setidaknya dapat dialokasikan ke investasi. Dari hasil investasi itu mudah-mudahan impian saya jalan-jalan atau punya mobil terkabul...hip hipp horee.

Kadang saya kepo mau nanya soal biaya hidup teman-teman saya dan berapa tabungan yang mereka miliki. Apa mereka punya ketakutan seperti saya? malah kadang saya suka gembor-gembor suruh mereka berinvestasi sejak sekarang. Hahaha. Udah kayak duta reksa dana aja. Ilmu masih cetek aja sok ngajarin. Tapi hidup memang membagi pengalaman bukan? 


Ayo sidak lagi biaya hidup kalian. Apa lebih tinggi pasak daripada tiang? Jangan sampai kata menyesal menghantui anda. 
Kalian tau ilmu fisika bahwa gaya suatu benda dipengaruhi oleh berat? Nah jika hidup kalian terasa berat coba dicek ulang mungkin kita udah kebanyakan gaya. Hahaha ini quote saya ambil pada sebuah komik bertema slice of life online 'LUCUNYA HIDUP INI'.





Emak Kepo,

xoxoxo
-anita-








Wednesday, February 8, 2017

Ketika Menikah Bukan Hanya Soal Hubungan Biologis Saja

Menyambut Hari Valentine ditahun 2017 yang jatuh dihari Selasa, satu hari sebelum diselenggarakannya PILKADA Serentak di Indonesia, saya mau posting sesuatu yang berkaitan dengan kasih sayang. Hahaha tumben-tumbenan ya saya bahas yang sedikit serius kayak gini.

Setiap manusia diciptakan Tuhan memiliki hawa nafsu, dan tentu saja itu wajar. Selama masih dalam batas wajar tentu saja, u know what i mean thoo. 
Ketika sepasang kekasih memutuskan untuk menikah pastilah karena adanya ketertarikan satu sama lain yang termasuk hawa nafsu untuk memiliki. Setelah mengikat janji saling setia hingga maut memisahkan, suami istri memiliki kewajiban untuk memenuhi kebutuhan biologis pasangannya dengan bercinta, dengan harapan memiliki keturunan. Semua menjadi proses yang wajar bagi siklus manusia. Dari bayi hingga menjadi dewasa lalu menikah, menyatukan dua ego berbeda dalam satu kapal. 

Namun nyatanya kebutuhan biologis bukanlah satu-satunya tujuan suatu pernikahan. Ada kebutuhan psikiologis dan ekonomi yang juga harus selaras dalam pelaksanaannya. Uang memang bisa membuat hidup lebih mudah, tapi apa gunanya jika hidup berumah tangga tidak bahagia? Mungkin kita bisa melupakan masalah rumah tangga dengan berfoya-foya, tapi tentu jauh dilubuk hati terdalam kita ada yang salah. Kesepian. Ya itulah yang bisa membuat rumah tangga retak. Apa gunanya hidup bergelimang harta tapi miskin kasih sayang? 

Menerima kasih sayang dari pasangan adalah anugerah terindah yang kita terima dari sebuah pernikahan. 
Di awal pernikahan mungkin menjadi hal terindah yang dialami setiap pasangan. Begitu membuka mata dapat langsung melihat orang tercinta  , tidurpun bisa peluk sesuka hati. Meski diwarnai dengan proses adaptasi yang tentu saja membutuhkan emosi dan isak tangis. 
Tahun kedua mungkin sudah dapat mengatasi perbedaan, hidup pernikahanpun damai. Dan ketika sudah memiliki anak, adaptasi pun dimulai kembali. Saya sebagai istri tentu yang paling mengalami adaptasi besar-besaran. Sebelumnya hanya membagi pikiran untuk saya pribadi dan suami, kini tambah anak yang mesti kita harus kita rawat, tambah pula kewajiban kita yang bikin tambah capek. Jujur saja membagi pikiran untuk diri sendiri, suami serta anak itu bikin cape otak deh. Ketika bangun di pagi hari, hal yang pertama terlintas adalah bagaimana menyediakan kebutuhan suami dan anak, urusan diri sendiri mah ntar lagi deh. Ketika tidurpun menjadi orang yang terakhir memejamkan mata. Huff. Tugas orangtua ternyata tidak berhenti hanya saat anak lahir ke dunia. Huaaaaaah. 
Kadangkala saking capekny saya harus menolak permintaan suami untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Egoiskah saya? Saya pikir tidak. Daripada terpaksa melakukannya yang ada suami tau dan kecewa? No No No, saya menjelaskan alasan saya pada suami hingga suami mengerti. Tentu saja kalau saya lagi kepengen, saya biasanya menggoda suami duluan. Hahaha. Saya juga butuh bercinta tentu saja. 

Saya pernah membaca suatu artikel, ada seseorang yang diminta maju dan menuliskan orang-orang yang berada di sekelilingnya. Si penanya bertanya beberapa pertanyaan yang mengharuskan orang tersebut mengeliminasi nama yang tertulis di papan tulis itu. Hingga akhirnya tinggal dua nama, pasangannya dan anaknya. Mana yang harus dia pilih? Orang itu memilih pasangannya. Tentu saja semua orang tidak setuju karena anak adalah yang penting. Tapi apa jawaban orang itu membuat saya berpikir ulang. Anak akan memiliki kebahagiaan sendiri dengan pasangannya. Hmmm benar. Anak tidak akan 100% berada disamping kita terus kan?
Tugas kita sebagai orangtua hanya sampai dia menikah, ketika dia menikah dia bukan lagi milik kita, tapi milik pasangannya. 
Itulah yang membuat saya terus berpikir hingga tercetuslah tulisan ini. Ya walau sebenarnya artikel itu sudah lama sekali saya baca. 

Seseorang juga pernah berkata kepada kami yang intinya : 'kalau sudah tua bukan lagi soal seks tapi rasa nyaman dari pasangan'. Well  benar toh? 
Ketika kita memutuskan menikah dengan orang itu, kita tahu bagaimana kita menghabiskan masa tua kita bersama orang itu, bukan soal bagaimana perkasanya orang itu di ranjang. Ah, itu mah bonus. Yang terpenting adalah ketika kita menutup mata, kita bisa membayangkan masa tua kita bersama orang itu. Hahaha komik ABG banget gak sih. Coba deh kalian coba bayangin calon pasangan anda di masa tua kalian? kalau kamu senyum-senyum liat bagaimana bahagianya kalian dimasa tua nanti, buruan nikahin dia. Hahaha.

Kata orang suatu pernikahan akan benar-benar diuji ketika sudah menginjak usia lima tahun keatas. Wow, masih dua tahun lagi saya akan menghadapi itu. Bagaimana menjaganya? tentu saja dengan komunikasi yang benar pada pasangan, meski sampai sekarang saya dan suami masih perlu belajar dalam hal ini. 

Hubungan sepasang manusia yang tidak perlu saya sebutkan namanya menjadi pelajaran bagi saya. Jelas saya kurang tau awal masalahnya apa diantara mereka, kemungkinan karena adanya salah komunikasi dan memang sifat pendendam salah satu pasangan membuat hubungan mereka agak aneh. Dulu mereka sering bertengkar, sang suami lebih emosi seringkali melemparkan barang (saya sih tidak melihat langsung). Perceraian sempat hampir terjadi. Sang istri yang lebih mengalah kadangkala menjadi stress sendiri. Kadang saya melihat tidak ada yang salah diantara mereka berdua jika mood sang suami baik, tapi begitu melihat ada yang tidak beres pada kata-kata sang suami, saya tau ada masalah yang terjadi. Hidup serumah tapi obrolan kaku rasanya seperti mati enggan hiduppun tak sanggup ya. Sungguh hebat perjuangan sang istri menghadapi sang suami. Usia sudah lanjut namun rumah bukan lagi tempat yang nyaman. 

Oleh karena itu saya ingin memberitahu kalian yang membaca tulisan ini untuk lebih membuka diri pada pasangan. Kita sebagai wanita yang mempunyai ribuan kode (hahaha) belajarlah untuk mengatakan lebih jujur pada suami, yang nyatanya selalu gagal terima kode. Kalau kita mau di mengerti, coba jugalah mengerti keterbatasan mereka (ini saya masih perlu belajar banyak). 
Bagi kalian yang masih jomblo atau belum menikah, disarankan mencari pasangan yang benar-benar satu misi visi dengan kalian. Cari pasangan yang bisa diajak gila bareng, nangis bareng, ketawa bareng bahkan marah barengan. Itu lebih seru ketimbang cowok cool macam  novel-novel ABG. Dibalik wajah itu harus ada hati yang tulus mencintai kamu.

Mungkin ada yang beruntung menemukan orang seperti itu dalam waktu dekat dan ada pula yang sampai sekarang belum menemukannya. Gak usah stress, masih  banyak waktu. Meski Single tetap harus Happy. 



Happy Valentine,


xoxoxo
-anita-










Tuesday, February 7, 2017

Ketika Harus Melepas Mobil Keluarga

Mobil Terios Putih yang suami punya sejak 2010 akhirnya harus berpindah tangan. Ribuan kilometer sudah kami tempuh dengan mobil tersebut, hingga akhirnya wacana menjual mobil ini terealisasi tahun ini. 

Mobil ini sebenarnya dibeli oleh Mama Mertua saya dengan menggunakan nama suami, saya ingat waktu itu menemani mereka saat itu. Kepemilikan serta biaya perawatan ditanggung suami namun dengan syarat tentu saja siap jadi 'sopir' siaga Mama Mertua. Hahaha. 
Berhubung rumah mereka tidak memungkinkan untuk parkir mobil, jadi begitu menikah mobil ini dititip di halaman rumah orangtua saya. 
Mobil ini juga kadang dipake oleh keluarganya untuk pergi. Ya sebenarnya agak kesal juga ya soalnya kadang kita juga punya kebutuhan memakai mobil saat itu, tapi mau tidak mau karena memang itu bukan mobil milik kami pribadi. Suami hanya di 'titip'. 

Wacana menjual mobil sebenarnya sudah terucap begitu Mama Mertua di vonis kena kanker. Apakah sudah saya cerita betapa berjuangnya Mama Mertua untuk sembuh dari kanker?
Well, baiklah saya akan sedikit bercerita.
Mama Mertua di vonis kanker untuk pertama kali adalah kanker payudara,lupa apakah sebelum atau setelah saya menikah. Setelah melakukan rangkaian operasi pengangkatan di Singapura yang menghabiskan ratusan juta, Mama dinyatakan sehat walau tetap harus di check up beberapa bulan sekali. 
Dan di tahun 2014-2015 saat Mama check up kembali ternyata ditemukan kanker di vagina dan harus di operasi pengangkatan. Saat itu saya sempat ikut serta menemani dan menjadi perjalanan pertama saya ke Singapura. Sempet jalan-jalan sih cuma gak enak banget bawaannya soalnya tau tujuan ke Singapura bukan buat having fun. 
Setelah dinyatakan sehat, tetap saja Mama harus rajin check up. 
Ah sudahkan saya kasih tau tempat berobat andalan Mama Mertua di Singapura? di Gleneagles Hospital. Sekali konsultasi & kemo bisa buat DP rumah , sekitar SGD 5000. Wow banget kan? demi hidup orang rela menghabiskan uang segitu banyak? 
Out the topic bentar. Benar kata Pdt Kim Ki Dong soal peradaban manusia saat ini. Dulu orangtua bisa mewariskan uang untuk anak cucunya, tapi sekarang gak bisa. Orang memerlukan uang untuk mengikuti hidup masa kini hingga tidak bersisa untuk anak cucu. Pedih banget ya. 
Mungkin banyak pertanyaan kenapa gak berobat di Indonesia dan memakai BPJS aja? itu juga pertanyaan yang saya ajukan ke suami. Jawabannya sederhana, Mama berpikir berobat sekalian yang mahal biar langsung sembuh. Tapi ketika Mama di vonis memiliki kanker karena sudah ada gen sehingga sampai kapanpun bibit kanker akan tetap ada di tubuhnya, membuat Mama hilang semangat. Itu artinya dia akan terus berobat dan memerlukan dana yang besar. Kenapa gak beralih ke BPJS? ya mikirnya selama ini pake obat yang bagus masa turun kasta, apa bakal sembuh? hmmmm... ya sayapun bingung harus berkata apalagi.
Itulah alasan mobil ini akhirnya dijual. Untuk meringankan beban pengobatan Mama Mertua. 

Dan kembali kepada kehidupan kami. Imbas tidak adanya mobil tentu saja sedikit berpengaruh. Kenapa sedikit? karena sebenarnya kami memakai mobil hanya saat weekend atau ke Gereja. Tapi setelah dipikir-pikir ada keuntungan dengan tidak memiliki mobil, yaitu :
1. Halaman rumah Orangtua jadi lega dan bisa jadi tempat main Kael
   dan Aurel
2. Hemat biaya pengeluaran (Bensin, Parkir, Service, pajak,dll)
3. Mengurangi stress mencari tempat parkir. Hahaha ini sesuatu    
   banget dah 

Tentu saja ada kerugiannya juga, yaitu :
1. Kesulitan jika belanja banyak
2. Kesulitan jika ingin pergi ke tempat jauh

Bagaimana saya menyiasati keterbatasan itu? Untuk kerja kami bisa menggunakan motor, tapi bagaimana jika kami mau pergi bersama Kael?Kami sih belom pernah mengajak Kael naik motor. Maka alternatif selanjutnya tentu saja memakai kendaraan umum. Hari gini mudah sekali memakai jasa kendaraan umum, bisa angkutan kota ataupun jasa online. 
Untunglah saya bukanlah orang yang hanya mengandalkan taksi selama ini, saya lebih cinta uang duduk empet-empetan di angkot atau bus. Setelah Kael ada juga saya pernah naik angkot kalau cuma ke Tangcity atau Lippo mah. Lain hal kalau saya pergi sama kakak adik saya, pasti menggunakan jasa online. Tinggal klik trus tunggu dijemput dah. 
Ada 3 aplikasi jasa online di HP saya. Ketiganya tentu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kalau lagi pelit biasanya saya membandingkan estimasi biaya dari ketiganya dan tentu saja memilih yang murah. Hahaha untung-untung ada promo. 

Bagaimana selanjutnya? 
Apa kami tidak niat memiliki kendaraan pribadi sendiri? 
Tentu saja ada niat untuk membeli mobil lagi. Secara banyak agenda liburan yang membutuhkan kendaraan pribadi. Hahaha.

Sayangnya mobil kecil tidak menjadi jawaban untuk kondisi seperti kami, kami butuh mobil sejenis MPV yang bisa menampung 6-7 orang  karena dibutuhkan saat pergi bersama keluarga suami.
Jadi selama angan kami terkabul, yang kami lakukan adalah kekepin duit dulu sambil menunggu waktu yang pas buat membeli mobil idaman kami. 
Cukup mobil jenis MPV yang bandel dijalanan manapun tanpa menguras dompet. 
Apakah itu???
Nantikan saja. 






xoxoxo
-anita-








ADAPTASI

Setelah empat tahun empat bulan bekerja di perusahaan terakhir, akhirnya saya menyerah juga untuk double job sebagai pekerja plus merawat a...