Tuesday, February 7, 2017

Ketika Harus Melepas Mobil Keluarga

Mobil Terios Putih yang suami punya sejak 2010 akhirnya harus berpindah tangan. Ribuan kilometer sudah kami tempuh dengan mobil tersebut, hingga akhirnya wacana menjual mobil ini terealisasi tahun ini. 

Mobil ini sebenarnya dibeli oleh Mama Mertua saya dengan menggunakan nama suami, saya ingat waktu itu menemani mereka saat itu. Kepemilikan serta biaya perawatan ditanggung suami namun dengan syarat tentu saja siap jadi 'sopir' siaga Mama Mertua. Hahaha. 
Berhubung rumah mereka tidak memungkinkan untuk parkir mobil, jadi begitu menikah mobil ini dititip di halaman rumah orangtua saya. 
Mobil ini juga kadang dipake oleh keluarganya untuk pergi. Ya sebenarnya agak kesal juga ya soalnya kadang kita juga punya kebutuhan memakai mobil saat itu, tapi mau tidak mau karena memang itu bukan mobil milik kami pribadi. Suami hanya di 'titip'. 

Wacana menjual mobil sebenarnya sudah terucap begitu Mama Mertua di vonis kena kanker. Apakah sudah saya cerita betapa berjuangnya Mama Mertua untuk sembuh dari kanker?
Well, baiklah saya akan sedikit bercerita.
Mama Mertua di vonis kanker untuk pertama kali adalah kanker payudara,lupa apakah sebelum atau setelah saya menikah. Setelah melakukan rangkaian operasi pengangkatan di Singapura yang menghabiskan ratusan juta, Mama dinyatakan sehat walau tetap harus di check up beberapa bulan sekali. 
Dan di tahun 2014-2015 saat Mama check up kembali ternyata ditemukan kanker di vagina dan harus di operasi pengangkatan. Saat itu saya sempat ikut serta menemani dan menjadi perjalanan pertama saya ke Singapura. Sempet jalan-jalan sih cuma gak enak banget bawaannya soalnya tau tujuan ke Singapura bukan buat having fun. 
Setelah dinyatakan sehat, tetap saja Mama harus rajin check up. 
Ah sudahkan saya kasih tau tempat berobat andalan Mama Mertua di Singapura? di Gleneagles Hospital. Sekali konsultasi & kemo bisa buat DP rumah , sekitar SGD 5000. Wow banget kan? demi hidup orang rela menghabiskan uang segitu banyak? 
Out the topic bentar. Benar kata Pdt Kim Ki Dong soal peradaban manusia saat ini. Dulu orangtua bisa mewariskan uang untuk anak cucunya, tapi sekarang gak bisa. Orang memerlukan uang untuk mengikuti hidup masa kini hingga tidak bersisa untuk anak cucu. Pedih banget ya. 
Mungkin banyak pertanyaan kenapa gak berobat di Indonesia dan memakai BPJS aja? itu juga pertanyaan yang saya ajukan ke suami. Jawabannya sederhana, Mama berpikir berobat sekalian yang mahal biar langsung sembuh. Tapi ketika Mama di vonis memiliki kanker karena sudah ada gen sehingga sampai kapanpun bibit kanker akan tetap ada di tubuhnya, membuat Mama hilang semangat. Itu artinya dia akan terus berobat dan memerlukan dana yang besar. Kenapa gak beralih ke BPJS? ya mikirnya selama ini pake obat yang bagus masa turun kasta, apa bakal sembuh? hmmmm... ya sayapun bingung harus berkata apalagi.
Itulah alasan mobil ini akhirnya dijual. Untuk meringankan beban pengobatan Mama Mertua. 

Dan kembali kepada kehidupan kami. Imbas tidak adanya mobil tentu saja sedikit berpengaruh. Kenapa sedikit? karena sebenarnya kami memakai mobil hanya saat weekend atau ke Gereja. Tapi setelah dipikir-pikir ada keuntungan dengan tidak memiliki mobil, yaitu :
1. Halaman rumah Orangtua jadi lega dan bisa jadi tempat main Kael
   dan Aurel
2. Hemat biaya pengeluaran (Bensin, Parkir, Service, pajak,dll)
3. Mengurangi stress mencari tempat parkir. Hahaha ini sesuatu    
   banget dah 

Tentu saja ada kerugiannya juga, yaitu :
1. Kesulitan jika belanja banyak
2. Kesulitan jika ingin pergi ke tempat jauh

Bagaimana saya menyiasati keterbatasan itu? Untuk kerja kami bisa menggunakan motor, tapi bagaimana jika kami mau pergi bersama Kael?Kami sih belom pernah mengajak Kael naik motor. Maka alternatif selanjutnya tentu saja memakai kendaraan umum. Hari gini mudah sekali memakai jasa kendaraan umum, bisa angkutan kota ataupun jasa online. 
Untunglah saya bukanlah orang yang hanya mengandalkan taksi selama ini, saya lebih cinta uang duduk empet-empetan di angkot atau bus. Setelah Kael ada juga saya pernah naik angkot kalau cuma ke Tangcity atau Lippo mah. Lain hal kalau saya pergi sama kakak adik saya, pasti menggunakan jasa online. Tinggal klik trus tunggu dijemput dah. 
Ada 3 aplikasi jasa online di HP saya. Ketiganya tentu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kalau lagi pelit biasanya saya membandingkan estimasi biaya dari ketiganya dan tentu saja memilih yang murah. Hahaha untung-untung ada promo. 

Bagaimana selanjutnya? 
Apa kami tidak niat memiliki kendaraan pribadi sendiri? 
Tentu saja ada niat untuk membeli mobil lagi. Secara banyak agenda liburan yang membutuhkan kendaraan pribadi. Hahaha.

Sayangnya mobil kecil tidak menjadi jawaban untuk kondisi seperti kami, kami butuh mobil sejenis MPV yang bisa menampung 6-7 orang  karena dibutuhkan saat pergi bersama keluarga suami.
Jadi selama angan kami terkabul, yang kami lakukan adalah kekepin duit dulu sambil menunggu waktu yang pas buat membeli mobil idaman kami. 
Cukup mobil jenis MPV yang bandel dijalanan manapun tanpa menguras dompet. 
Apakah itu???
Nantikan saja. 






xoxoxo
-anita-








No comments:

Post a Comment

ADAPTASI

Setelah empat tahun empat bulan bekerja di perusahaan terakhir, akhirnya saya menyerah juga untuk double job sebagai pekerja plus merawat a...