Wednesday, February 8, 2017

Ketika Menikah Bukan Hanya Soal Hubungan Biologis Saja

Menyambut Hari Valentine ditahun 2017 yang jatuh dihari Selasa, satu hari sebelum diselenggarakannya PILKADA Serentak di Indonesia, saya mau posting sesuatu yang berkaitan dengan kasih sayang. Hahaha tumben-tumbenan ya saya bahas yang sedikit serius kayak gini.

Setiap manusia diciptakan Tuhan memiliki hawa nafsu, dan tentu saja itu wajar. Selama masih dalam batas wajar tentu saja, u know what i mean thoo. 
Ketika sepasang kekasih memutuskan untuk menikah pastilah karena adanya ketertarikan satu sama lain yang termasuk hawa nafsu untuk memiliki. Setelah mengikat janji saling setia hingga maut memisahkan, suami istri memiliki kewajiban untuk memenuhi kebutuhan biologis pasangannya dengan bercinta, dengan harapan memiliki keturunan. Semua menjadi proses yang wajar bagi siklus manusia. Dari bayi hingga menjadi dewasa lalu menikah, menyatukan dua ego berbeda dalam satu kapal. 

Namun nyatanya kebutuhan biologis bukanlah satu-satunya tujuan suatu pernikahan. Ada kebutuhan psikiologis dan ekonomi yang juga harus selaras dalam pelaksanaannya. Uang memang bisa membuat hidup lebih mudah, tapi apa gunanya jika hidup berumah tangga tidak bahagia? Mungkin kita bisa melupakan masalah rumah tangga dengan berfoya-foya, tapi tentu jauh dilubuk hati terdalam kita ada yang salah. Kesepian. Ya itulah yang bisa membuat rumah tangga retak. Apa gunanya hidup bergelimang harta tapi miskin kasih sayang? 

Menerima kasih sayang dari pasangan adalah anugerah terindah yang kita terima dari sebuah pernikahan. 
Di awal pernikahan mungkin menjadi hal terindah yang dialami setiap pasangan. Begitu membuka mata dapat langsung melihat orang tercinta  , tidurpun bisa peluk sesuka hati. Meski diwarnai dengan proses adaptasi yang tentu saja membutuhkan emosi dan isak tangis. 
Tahun kedua mungkin sudah dapat mengatasi perbedaan, hidup pernikahanpun damai. Dan ketika sudah memiliki anak, adaptasi pun dimulai kembali. Saya sebagai istri tentu yang paling mengalami adaptasi besar-besaran. Sebelumnya hanya membagi pikiran untuk saya pribadi dan suami, kini tambah anak yang mesti kita harus kita rawat, tambah pula kewajiban kita yang bikin tambah capek. Jujur saja membagi pikiran untuk diri sendiri, suami serta anak itu bikin cape otak deh. Ketika bangun di pagi hari, hal yang pertama terlintas adalah bagaimana menyediakan kebutuhan suami dan anak, urusan diri sendiri mah ntar lagi deh. Ketika tidurpun menjadi orang yang terakhir memejamkan mata. Huff. Tugas orangtua ternyata tidak berhenti hanya saat anak lahir ke dunia. Huaaaaaah. 
Kadangkala saking capekny saya harus menolak permintaan suami untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Egoiskah saya? Saya pikir tidak. Daripada terpaksa melakukannya yang ada suami tau dan kecewa? No No No, saya menjelaskan alasan saya pada suami hingga suami mengerti. Tentu saja kalau saya lagi kepengen, saya biasanya menggoda suami duluan. Hahaha. Saya juga butuh bercinta tentu saja. 

Saya pernah membaca suatu artikel, ada seseorang yang diminta maju dan menuliskan orang-orang yang berada di sekelilingnya. Si penanya bertanya beberapa pertanyaan yang mengharuskan orang tersebut mengeliminasi nama yang tertulis di papan tulis itu. Hingga akhirnya tinggal dua nama, pasangannya dan anaknya. Mana yang harus dia pilih? Orang itu memilih pasangannya. Tentu saja semua orang tidak setuju karena anak adalah yang penting. Tapi apa jawaban orang itu membuat saya berpikir ulang. Anak akan memiliki kebahagiaan sendiri dengan pasangannya. Hmmm benar. Anak tidak akan 100% berada disamping kita terus kan?
Tugas kita sebagai orangtua hanya sampai dia menikah, ketika dia menikah dia bukan lagi milik kita, tapi milik pasangannya. 
Itulah yang membuat saya terus berpikir hingga tercetuslah tulisan ini. Ya walau sebenarnya artikel itu sudah lama sekali saya baca. 

Seseorang juga pernah berkata kepada kami yang intinya : 'kalau sudah tua bukan lagi soal seks tapi rasa nyaman dari pasangan'. Well  benar toh? 
Ketika kita memutuskan menikah dengan orang itu, kita tahu bagaimana kita menghabiskan masa tua kita bersama orang itu, bukan soal bagaimana perkasanya orang itu di ranjang. Ah, itu mah bonus. Yang terpenting adalah ketika kita menutup mata, kita bisa membayangkan masa tua kita bersama orang itu. Hahaha komik ABG banget gak sih. Coba deh kalian coba bayangin calon pasangan anda di masa tua kalian? kalau kamu senyum-senyum liat bagaimana bahagianya kalian dimasa tua nanti, buruan nikahin dia. Hahaha.

Kata orang suatu pernikahan akan benar-benar diuji ketika sudah menginjak usia lima tahun keatas. Wow, masih dua tahun lagi saya akan menghadapi itu. Bagaimana menjaganya? tentu saja dengan komunikasi yang benar pada pasangan, meski sampai sekarang saya dan suami masih perlu belajar dalam hal ini. 

Hubungan sepasang manusia yang tidak perlu saya sebutkan namanya menjadi pelajaran bagi saya. Jelas saya kurang tau awal masalahnya apa diantara mereka, kemungkinan karena adanya salah komunikasi dan memang sifat pendendam salah satu pasangan membuat hubungan mereka agak aneh. Dulu mereka sering bertengkar, sang suami lebih emosi seringkali melemparkan barang (saya sih tidak melihat langsung). Perceraian sempat hampir terjadi. Sang istri yang lebih mengalah kadangkala menjadi stress sendiri. Kadang saya melihat tidak ada yang salah diantara mereka berdua jika mood sang suami baik, tapi begitu melihat ada yang tidak beres pada kata-kata sang suami, saya tau ada masalah yang terjadi. Hidup serumah tapi obrolan kaku rasanya seperti mati enggan hiduppun tak sanggup ya. Sungguh hebat perjuangan sang istri menghadapi sang suami. Usia sudah lanjut namun rumah bukan lagi tempat yang nyaman. 

Oleh karena itu saya ingin memberitahu kalian yang membaca tulisan ini untuk lebih membuka diri pada pasangan. Kita sebagai wanita yang mempunyai ribuan kode (hahaha) belajarlah untuk mengatakan lebih jujur pada suami, yang nyatanya selalu gagal terima kode. Kalau kita mau di mengerti, coba jugalah mengerti keterbatasan mereka (ini saya masih perlu belajar banyak). 
Bagi kalian yang masih jomblo atau belum menikah, disarankan mencari pasangan yang benar-benar satu misi visi dengan kalian. Cari pasangan yang bisa diajak gila bareng, nangis bareng, ketawa bareng bahkan marah barengan. Itu lebih seru ketimbang cowok cool macam  novel-novel ABG. Dibalik wajah itu harus ada hati yang tulus mencintai kamu.

Mungkin ada yang beruntung menemukan orang seperti itu dalam waktu dekat dan ada pula yang sampai sekarang belum menemukannya. Gak usah stress, masih  banyak waktu. Meski Single tetap harus Happy. 



Happy Valentine,


xoxoxo
-anita-










No comments:

Post a Comment

KEHILANGAN

Kehilangan orang terdekat yang terpatri dalam ingatan saya hanyalah Nenek dari Mama dan Suami dari Sepupu. Terpatri karena kejadiannya saat...