Wednesday, April 26, 2017

[ FamilyStory ] Hei Mom, I Am Who I Am !!!

Tahun 2015-2016 adalah masa-masa saya hamil dan melahirkan. Bersamaan dengan beberapa teman yang saya kenal. Rasanya senang sih bisa punya teman seperjuangan, ada contoh yang bisa kita ikuti dan ada pengalaman yang bisa kita bagi. 

Jarak kelahiran anak-anak kamipun masih dalam hitungan bulan, jelas begitu kami sudah melahirkan langsung ramai kala berkumpul. Kalau ketemu sudah pasti obrolan soal perkembangan anak mendominasi acara kumpul kami. Saya sih senang-senang aja -awalnya- tapi kok lama-lama gerah juga yak. 

Siapa yang gak gerah kalau melihat anak orang lain perkembangannya lebih pesat dibanding anak sendiri? anak orang lain kok lebih gemuk dibanding anak sendiri? Kok perlengkapan bayi mereka lebih cute ya?Apa saya gagal jadi orangtua? Huaaaahhh anaknya woles kenapa emaknya yang terbakar api ya. Please jangan dengki dong jadi orang T_T 

Saya pernah bicara pada suami,"siap-siap bakal terjadi perang banding membandingkan ya kalau mempunyai teman yang anaknya seumuran anak kita". Dia gak percaya, bahkan ketika saya beritahu bahwa diluaran sana (media sosial) bahkan terjadi keributan cuma gara-gara normal VS caesar, ASI vs Sufor, pun dia tidak percaya. Hahaha dunia emak-emak emang gak ada matinya!

Dan benar saja bukan, apa yang saya takutkan terjadi. 
Yang lebih saya takutkan adalah saya menjadi pelaku peperangan itu!
Saya takut membandingkan Kael dengan teman sejawatnya atau sebaliknya, bahkan takut kecewa pada Kael karena tidak bisa seperti mereka. Ya owoooh. 

Siapa sih yang mau dibanding-bandingkan dengan orang lain? kita yang dulu pernah kecil aja paling males kan kalau dibandingkan dengan saudara atau orang lain yang gak kita kenal? 
Memang sih kita bisa mengambil hikmah positif dari sesi banding membandingkan ini, yaitu adanya motivasi terselubung agar kita bersikap lebih baik dan intropeksi diri. Ya namanya dibanding-bandingkan, pasti lawannya adalah orang yang dianggap lebih baik dari kita kan? 
Tapi kalau dipikir-pikir bagi saya itu ujung-ujungnya gak bagus!

Menurut pribadi saya sebagai korban, membandingkan anak itu bisa berefek negatif lho, yaitu :
  • Kita tidak bisa menjadi diri sendiri
    Gimana bisa kita jadi diri sendiri kalau sejak kecil di doktrin untuk menjadi 'DIA'. 'DIA' akan selalu menjadi patokan mati kehidupan kita. Yang ada stres karena kita seperti kehilangan jati diri. 
  • Rendah Diri
    Rendah diri itu berbeda lho dengan rendah hati. Rendah diri itu lebih bersifat negatif menurut saya, karena kesannya kita jadi menutup diri karena malu tidak sebaik 'DIA'. 
  • Pembangkang 
   Hati-hati kalau sebagai orangtua kita terlalu keras membandingkan. Siapa sih yang betah kalau terus diocehin 'si ini lebih baiklah, si itu gitulah'. Kita aja orang dewasa paling malas dibanding-bandingkan, apalagi anak yang pikiran dan emosinya masih belum stabil. Mereka akan berpikir keluarga bukan lagi tempat yang nyaman bagi mereka. Please jangan sampai Kael kayak gini. 
  • Bersaing
    Wah kalau bersaing secara sehat sih bagus. Lah kalau anarkis gara-gara kita sebagai orangtua kebanyakan memuji orang lain ketimbang anak sendiri gimana? 

Jadi pikirkan baik-baik sebelum kita memulai membanding-bandingkan anak, karena bisa berefek pada pertumbuhan anak. Saya beruntung kedua orangtua saya bukanlah orang yang suka membandingkan saya dengan saudara sedarah atau anak temannya. Papa yang jarang ngomong memberikan kekuasaan penuh pada Mama untuk mengurus kami, dan Mama juga seinget saya membiarkan kami bertumbuh dengan sendirinya. 

Maka sejak beberapa bulan ini saya selalu berusaha untuk menutup mulut saya ketika sedang berkumpul dengan sesama ibu muda. Tidak nyinyir dan berusaha legowo ketika anak-anak kami mulai dibandingkan. 

Namun tetap saja acara banding membandingkan itu gak akan pernah berakhir. Minggu lalu saya sempat 'panas' kala mama mertua membandingkan Kael dengan anak saudara suami yang dua bulan lebih dulu lahir. Anak itu sudah bisa jalan dan sudah pintar 'bicara'. Jelas saya mau meledak tapi saya buru-buru tarik napas sedalam-dalamnya, mencoba menepis semua kekesalan itu. Saya sadar mama mertua memang gak bermaksud buruk makanya saya coba tutup telinga saja. Mungkin ada baiknya saya komunikasikan dengan suami soal ini. 

Saya terus menanamkan pemahaman 'setiap anak berbeda' pada hati dan pikiran saya. Saya gak mau jadi emak egois yang memamerkan kehebatan anak saya, yang mana belum tentu beneran hebat, karena jalan Kael itu masih puaaaanjaaaaanggg sekali buat dipamerkan. 

Saya mau membiarkan Kael jadi dirinya sendiri, biarkan dia mengeksplor dirinya sendiri. Tugas saya hanya  membimbing dan mudah-mudahan dapat menyokong dana untuk kebutuhannya. 

Kadangkala saya berpikir bagaimana jadinya jika Kael punya adik? apa saya bisa bersikap tanpa membandingkan? karena sepertinya sikap membandingkan itu datang secara alamiah. Tujuan awalnya mungkin agar si anak bisa bersikap sesuai yang kita mau bukan? tanpa memikirkan efek terselubung dari kata-kata itu. Huaaahahaha jadi orangtua ternyata membuat saya intropeksi diri besar-besaran. 

Mari para orangtua, belajar untuk tidak membandingkan anak kita dengan saudara sedarah ataupun anak lain. Ketimbang iri ama kemampuan anak lain, lebih baik gali potensi yang ada dalam anak kita. 


Emak Kael,

-anita- 










No comments:

Post a Comment

KEHILANGAN

Kehilangan orang terdekat yang terpatri dalam ingatan saya hanyalah Nenek dari Mama dan Suami dari Sepupu. Terpatri karena kejadiannya saat...