Friday, May 12, 2017

#CuapCuapAlaAW - Adilkah Hukum Indonesia ?


google
Saya tidak mengenal secara langsung beliau,
Saya tidak mengikuti sepak terjang beliau,
dan
Saya bahkan bukan warga yang dipimpin beliau.
Namun yang saya nilai beliau adalah orang baik. 







Sejak kecil keluarga kami memang tidak menaruh perhatian lebih pada politik, kami hanya berusaha menjadi warga negara yang baik, karena kami tahu bahwa posisi kami hanyalah bak segerembolan domba ditengah-tengah serigala. #eh

Bagi kalian yang lahir ditahun 80-an mungkin masih pernah ingat, setiap tahunnya tepat ditanggal 30 September, tidak ada tontonan lain selain film dokumenter G30S/PKI. Rasanya sampai bosan.
Dan mungkin karena masih kecil, saya tidak merasa ada yang 'salah' dengan pemerintahan kita. 

Namun hari mencekam itu akhirnya datang. 
Setelah sebelumnya diberitakan adanya pemberontakan atas pemerintahan Soeharto -yang telah memimpin Indonesia selama 32 tahun- di Jakarta, akhirnya tanggal 12 Mei 1998 kerusuhan tidak dapat dielakkan. 

Negara yang tadinya 'damai' kini seperti letusan gunung berapi.
Meski kerusuhan terjadi di Jakarta, nyatanya dampak 'letusan' itu sampai juga ke Tangerang. Sekolah diliburkan, kami diisolasi dirumah. Televisi menayangkan berita kerusuhan disudut-sudut Jakarta dan sekitar. Para laki-laki dewasa di pemukiman kami berjaga didepan Gang, bersiap dengan sejata bambu runcing. Bunyi kentungan di tiang listrik menjadi tanda bahwa kami diminta menghadapi hal terburuk, yaitu kabur. Malam menjadi hal yang menakutkan, karena tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi. 
Itu terjadi sampai beberapa hari kedepan. Katanya sempat ada 'oknum' yang mau merusuh di daerah kami namun berhasil digagalkan. Mall Lippo yang dulu sangat berjaya menjadi korban keganasan manusia yang gelap mata. Beruntung daerah kami aman sampai semua berangsur-angsur membaik. Soeharto berhasil dilengserkan. Namun itu membutuhkan pengorbanan nyawa banyak orang, entah yang memang layak dibunuh atau  malah jadi korban. 12 Mei mungkin tanggal yang tidak bisa dilupakan begitu saja bagi kita yang merasakan kekejaman 'politik' saat itu.

Setiap membaca atau membahas masalah kerusuhan, pastilah saya merinding, membayangkan suasana yang sempat didokumentasikan kala itu. Kami, kaum perempuan minoritas, lebih banyak menjadi korban para 'oknum' yang memanfaatkan kondisi saat itu. Entah apakah mereka masih bisa disebut sebagai manusia karena masih sempat-sempatnya memikirkan hawa nafsu disaat suasana sedang rusuh seperti itu! 
Teriakan kebencian pada kaum kami terdengar lantang! Untung saya mulai mendapat informasi mengenai situasi kerusuhan setelah beranjak dewasa, setidaknya akal sehat saya sudah lebih baik menerima semua ini. Bayangkan bagaimana jika kita berada di tengah-tengah bajingan itu? bisa gila mungkin. 

Hmmm, kayaknya membahas kejadian '98 sudah cukup. Bagi kalian yang penasaran, silakan cari tahu sendiri di google

Sejak saat itu mungkin saya langsung mendoktrin diri saya bahwa tidak ada yang benar didalam Politik. Siapa lawan dan siapa kawan tidak jelas, hitam putih bersatu menjadi abu-abu yang bisa mengelabui kita. Bahkan berita di media bukanlah suatu kebenaran hakiki. 

Ada 'orang' yang sedang memainkan politik di Indonesia. Ya saya rasa di seluruh dunia juga. Buktinya kenapa Donald Trump yang mukanya 'mesum' gitu bisa terpilih jadi Presiden Amerika Serikat? Masa sih cuma gara-gara AS masih belum bisa menerima wanita sebagai presiden mereka? ini AS lho yang katanya negara demokrasi. 

Namun doktrin itu mulai memudar begitu Jokowi menjabat sebagai Presiden RI ke-7 dan Ahok naik menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta -yang kayaknya gak pernah benar. Meski saya bukan warga Jakarta, tapi saya merasa adanya perubahan pada Jakarta, walau hanya lewat berita. 
Dulu saya pernah merasakan efek banjir di Kebon Jeruk, dari TA ke kebon jeruk aja bisa 2 jam dan sialnya saya gak kebagian bangku di Bus. Jakarta yang punya mitos bajir lima tahunan kini sudah hilang. Tapi tetap aja sih bikin saya malas kerja di Jakarta. 

Sayangnya Jakarta memang aneh. Disaat sudah ada pahlawan -menurut saya- eh begitu mau PILKADA, mau cari pengganti yang katanya 'seiman' dengan mereka. Weleh weleh ... apa sih yang kurang dari Pak Ahok? Kalau menurut saya sih udah cocok banget deh buat orang Jakarta yang susah diatur, yah kecuali cara ngomongnya yang kadang suka seenak jidat. Tapi bagi saya orang yang menjabat jadi pemimpin itu harus yang tegas biar bawahan nurut... sayangnya ternyata masih ada sifat rasis yang merajalela di Jakarta ini. Pihak-pihak tertentu berusaha menjatuhkan Ahok, memakai kekurangan Ahok yang adalah kaum minoritas untuk memuluskan aksi mereka. 

Aduduuuh saya kok malah lebih mikirin nasib Jakarta ketimbang Banten yang dikuasai Dinasti Korupsi. Jelas-jelas PILKADA kemarin saya lebih antusias mengikuti debat Cagub tetangga ketimbang daerah sendiri. Hahaha ngenes ya. 

19 April melalui perhitungan cepat tim independen, Ahok dan Djarot dinyatakan kalah. Banyak orang yang menyesalkan hasil ini, terutama pendukung Ahok. Saya merasa ada srigala berbulu domba yang secara omongan akan membela Ahok namun nyatanya malah membela lawan. Benarkan kalau politik itu abu-abu?!

Kekalahan itu nyatanya masih belum membuat puas 'orang' itu. 
Memakai dakwaan 'penista agama', Ahok kembali diserang bertubi-tubi melalui banyak sidang. Saya rasa sebenarnya Pak Ahokpun sudah lelah, saya yang melihatnya saya sudah mau angkat tangan. Namun sepertinya kebenaran harus tetap ditegakkan! 

Sayangnya 9 Mei 2017 mungkin menjadi hari yang terburuk bagi pengagum Ahok. Kala mendengar keputusan hakim mungkin seperti kata 'putus' dari pujangga hati ya. Ahok dinyatakan bersalah dan dijatuhi  hukuman 2 tahun penjara. Whaaaat??!!!

Langsung ramailah jejaring sosial.
Berbagai hastag macam saveahok, RIPjustice dan KamiAhok mewarnai media sosial hingga menarik perhatian masyarakat luar. Sumpah serapah tertuju pada hakim yang memutuskan hukuman tersebut. Prihatin juga buat kondisi mental hakim tersebut, tapi harusnya sudah biasa ya? hihihi.

Hingga hari ini banyak masyarakat membuat aksi damai dengan berkumpul dan menyerukan keinginan mereka agar Ahok bebas sambil menyalakan lilin perdamaian. Terbukti banyak orang yang mencintai Ahok. 

Sudah banyak bukan kasus yang membuat hukum seperti pisau,bisa tajam kebawah yang maksudnya tajam kepada rakyat kecil dan bisa tumpul keatas yang maksudnya tumpul bagi orang 'terkenal'. Hukum korupsi lebih ringan ketimbang hukum seorang nenek pencuri yang kelaparan. 
Bagi kita kaum awam mungkin terlihat tidak adil.Namun hukum tetaplah hukum. 

Presiden Jokowi sendiri tidak berniat campur tangan akan masalah Ahok, dia membiarkan hukum berjalan semestinya. Ya memang harusnya seperti itu, jangan karena Ahok pernah bersanding sebagai wakil gubernur bersama Jokowi lantas bisa dianakemaskan. #PresidenHebat
Janganlah melemparkan keluhan pada Presiden. Masa apa-apa curhat ke Presiden langsung sih? kemana anak buahnya?

Entahlah apa yang ada di pikiran 'orang' itu untuk negara ini? 
Seperti permainan catur, 'orang' itu begitu hebat menjalankan para bidak caturnya agar dapat melindas pihak yang menghalangi langkahnya. Dan beberapa orang berpendapat bahwa sebenarnya tujuan 'orang' itu adalah menjatuhkan JOKOWI. Karena JOKOWI ingin memajukan Indonesia di segala bidang dan menghilangkan Korupsi di negara tercinta kita ini. Sehingga banyak 'orang' yang ingin menjatuhkan beliau. 


Yang pasti janganlah bersedih dan memaki hukum Indonesia! 
Mari bangkit dan buktikan Ahok bukan hanya satu di Indonesia. Jadilah Ahok-Ahok selanjutnya yang berani memberantas korupsi di Indonesia. 
Hargai hukum kita.
Selipkan doa untuk bangsa ini didalam doamu. Karena biar bagaimanapun Tuhan yang turut adil atas negara ini.
Dan jadilah orang pintar ... pintar membedakan mana yang benar dan mana yang salah. 


Jangan sampai kejadian '98 terulang kembali!Jangan!!!




Salam Emak Cinta Kerja Ahok,

-anita-





P.S 
Tulisan ini semata-mata hanya dari sudut pandang saya pribadi dan untuk pengingat saya pribadi bahwa ada hari dimana keadilan Indonesia dianggap tercoreng dimata manusia. 
Jika ada kata-kata yang tidak berkenan mohon maafkan.













No comments:

Post a Comment

KEHILANGAN

Kehilangan orang terdekat yang terpatri dalam ingatan saya hanyalah Nenek dari Mama dan Suami dari Sepupu. Terpatri karena kejadiannya saat...