Wednesday, July 12, 2017

Bukan Karena Takut Di Tilang, Tapi Mari Belajar Menyelamatkan Diri Sendiri Dan Orang Lain!


Suka gemes ga sih liat pengguna jalan yang seenak jidat di jalanan? Pengen rasanya teriak ' woi, emang jalanan punya nenek moyang lo!'

Huff.

Sadar gak sih kalau jalanan semakin lama semakin ramai. Kayaknya cuma pas lebaran doang deh jalanan jadi sepi. Meningkatnya pengguna kendaraan pribadi kayaknya gak diseimbangi dengan meningkatnya akses jalan. Ya memang sih sekarang juga terbantu dengan adanya ojek online, setidaknya orang berpikir ulang untuk membeli kendaraan pribadi (like me). 


Sekarang ini mudah sekali memiliki kendaraan pribadi sendiri, sales-sales dengan gencar memberikan promo menarik (demi bonus), yang penting terjual banyak tidak peduli efeknya membuat kemacetan bertambah. Ya mungkin karena efek belum memadainya sistem transportasi di negeri ini, sehingga orang lebih prefer membeli kendaraan pribadi. 


Sayangnya meski sudah diatur dalam undang-undang berlalu lintas, dalam prakteknya masih banyak pengguna jalan yang menyalahi aturan tersebut. Alangkah baiknya sebelum berkendara kita sebaiknya pahami dulu aturan yang berlaku, seperti yang sudah diatur dalam Undang Undang Lalu Lintas Nomor 22 Tahun 2009 sudah efektif diberlakukan, menggantikan Undang Undang Nomor 14 Tahun 1992.

Dalam situs NTMCPOLRI, ada beberapa hal yang diatur dalam pelaksanaan berlalu lintas demi menjaga ketertiban dan keamanan kita dalam berkendara, seperti :
  • Siapkan SIM, STNK dan KTP
Siapa yang tahu didepan tikungan sedang ada polisi dengan melakukan pengecekan dokumen berkendara? Kalau kita udah punya lisensi untuk berkendara ( meski hasil nembak) dan keterangan yang menyatakan tuh kendaraan milik kita, gak perlu takutlah berhadapan ama petugas. Jika suatu waktu (amit-amit) terjadi kecelakaan, dokumen diatas itu bisa mempermudah dalam mengidentifikasi kita lho. 
  • Siapkan Kendaraan dengan baik
Sebelum tancap gas, coba periksa kembali kendaraan kita. Lampu kendaraan (bagi motor) apakah sudah menyala sesuai aturan? Rem, Klakson, Lampu Sein apakah berfungsi dengan baik? Atur kaca spion dengan benar, siapa tau ada cowok kece di belakang kita. Jangan juga lupa isi bensin...gak mau ngedorong gara-gara lupa isi bensin kan?
Jangan lupa juga gunakan HELM ber-SNI. Bukan rasis ya, tapi demi keselamatan diri sendiri lebih baik menggunakan helm sesuai rekomendasi. Jangan lupa di klik ya.

Kedua diatas tentu aturan yang baku. Harus ditaati demi terbebas dari jerat hukum. 

Namun sayangnya beberapa orang masih menganggap aturan tersebut masih kolot, toh cuma jarak pendek atau karena gak ada petugas sehingga mereka masih berkendara bebas di jalanan. 
Lihat saja bocah-bocah nanggung yang udah naik motor, tarik tiga pula. T_T
Atau emak-emak berdaster, bapak-bapak bersarung, atau cabe-cabean dengan rambut berkibar-kibar. Hah. Saya juga pernah menjadi bagian seperti itu, tapi lagi-lagi saya mau berubah. Saya gak mau menyesal kemudian. 

Sepanjang jalan kenangan dari rumah-kantor-rumah, sudah bosan menemukan orang-orang yang belum memahami pentingnya berkendara dengan baik. Kayak contoh :
  • Merokok saat berkendara
    Saya gak melarang dia merokok, terserah hidupnya mau dibawa kemana. Tapi tolong belajar tahu diri dan belajar mencari tahu bahaya rokok! Selain berbahaya bagi kesehatan tentu saja berbahaya bagi pengguna jalan lain yang terkena asap atau abu bekas rokok tersebut. PIKIR pake OTAK jangan pake Dengkul!!! 
  • Pergunakan SEIN dengan benar
    Kata siapa emak-emak doang yang sering salah dalam menggunakan lampu SEIN? Banyak kok golongan lainnya yang suka salah. Dan yang paling salah adalah tanpa ba bi bu langsung belok. Udah deh, no comment. 
  • Lampu atau Laser sih?
   Beberapa waktu lalu sering mendapati lampu kendaraan yang silaunya mengalahkan matahari. Wuih rasanya mau lempar batu sembunyi tangan deh kalau liat motor didepan kita begitu, apalagi pas rem. Kadang mobil juga memotif lampunya agar lebih terang, tapi jangan searah pandangan mata juga lho. Selain mengganggu, tentu membahayakan orang sekitar juga. Gak mau kan tiba-tiba diseruduk kambing gara-gara silau liat lampu kalian?
  • Menghibur Anak
    Orangtua yang punya anak pasti dilema deh dengan masalah ginian, kayak saya ini. Saya tuh ga suka liat orangtua membiarkan anaknya berdiri saat naik motor. Bahaya! Kalau oleng atau gimana trus jatuh gimana??? Makanya saya berusaha agar Kael gak gitu dan hasilnya SUSAH! Awal-awal naik motor dulu Kael kekeuh mau berdiri, tapi mungkin ga enak ya kena angin gitu jadi dia duduk lagi. Sekarang sih udah jarang minta berdiri, maunya duduk sambil angkat tangan kesamping buat merasakan semilir angin. Duuuh nak, bahaya juga itu.
Jadi buk-ibuk dan pak-bapak, yuk belajar menahan hasrat di anak untuk berdiri diatas jok motor. 
  • Mengambil Hak Orang Lain
   Banyak jalan menuju Roma! Sama halnya seperti banyak jalan menghindari kemacetan, yaitu gunakan trotoar, ambil jalur lain, dan berhenti di zebra cross demi menjadi pertama yang jalan saat lampu hijau. Beeeh, egois banget kan?
Tolong hargai pengguna jalan kaki yang udah kesel berhadapan pedagang kaki lima, jangan tambah kekesalan mereka. 
Jangan juga ambil hak pengguna di lajur lain demi bisa lewat, bikin tambah macet tauk!
Jangan juga ambil hak penyebrang jalan!
  • Sabar itu Penting
    Banyak pengendara melajukan kendaraannya dengan cepat. Emang sih niatnya itu supaya cepat sampai, tapi ya jangan sampai merugikan orang lain toh. Sodok sana sodok sini, mencari celah hingga mepet-mepet orang, klakson sana sini padahal didepannya aja mandek. Huuuff. Buat aja baling-baling bambu di motornya pak. 
Ya kalau memang takut telat, bisa dong jalan lebih awal.
Ya kalau emang motornya gak muat masuk celah, ya jangan menghalang jalan orang lain (paling sebel liat NMax yang badannya gede sok ikut nyempil)
Ya kalau mau jalan pelan sambil ngobrol ngalor ngidul, jangan ditengah jalan.
Emang sabar itu paling penting deh dalam berkendara. Jangan mudah terpancing emosi cuma gara-gara dibelakang kita telat ngerem sehingga berhasil mencolek motor kita. Cukup berbalik dan tatap sinis! 
Kadang saya berpikir kebanyakan pengemudi motor belum pernah berada di dalam mobil, hingga tidak berpikir orang-orang didalam mobil suka ngeri liat beringasnya mereka dijalanan. Jadi ayo jangan mepet-mepet mereka! 
  • KONSENTRASI
  Yang paling penting dalam berkendaran itu tentu saja berkonsentrasi penuh. Mikirin cara bayar hutang itu perlu, tapi tolong hilangkan dulu saat berkendara. Jangan sampai kita salah arah atau membahayakan orang sekitar. Fokus pada perjalanan kita, pasang mata kita dengan baik, jangan sibuk sama ponsel atau lain hal.
Kalau memang merasa sedang dalam keadaan hati dan pikiran tidak baik, lebih baik cuti berkendara. Pergunakan aplikasi ojek online atau kendaraan umum lainnya.

Seperti di awal cerita, saya juga pernah menjadi bagian orang-orang tidak tahu diri itu, tapi saya mau belajar dan berubah. Saya mencoba menghadapkan diri saya berada di posisi itu. Apalagi saya melihat Ayah saya sebagai panutan, beliau akan melarang anak-anaknya berkendara kalau SIM dan STNK dalam kondisi 'mati'.

Jadi ayo kawan, berubah demi keselamatan bersama. 
Boleh ngebut asal benar.
Mari mematuhi aturan lalu lintas, bukan karena takut ditilang tapi demi keselamatan diri sendiri dan orang lain. 
Kita tidak hidup individual, tapi bersosial juga. Jangan kalah sama bebek yang jalannya bisa beraturan, malu dong.

Langkah kecilmu bisa mengubah dunia menjadi lebih baik bukan!





Thanks,
-anita- 




   





Wednesday, July 5, 2017

[ My1stBaby ] Teknologi Untuk Bayi? Yay or Nay ?!

Seiring berkembangnya zaman tentu juga diikuti dengan perkembangan teknologi, terutama ponsel. Dan tentu saja itu menjadi peranan penting dalam masa pertumbuhan anak. 

Di masa saya kecil, saya baru mengenal game Nintendo waktu duduk dikelas SD, entah kelas berapa. Itupun bukan dibelikan oleh orangtua, tapi kakak yang beli. Wuih seneng bener dah, mainnya gantian dan dibatasi waktunya. Kalau melanggar ya diancam dijual!

Ya mungkin karena barangnya gak original jadi permainannya cuma macam sirkus dan semacamnya, dan yang pasti gak awet. Apalagi zaman dulu televisi yang dipakai juga model tabung yang cepet panas kalau kelamaan dipake. Alhasil tuh barang gak lama kemudian teronggok di lemari TV.
Kami baru punya Playstation 2 saat saya kelas SMP, itupun kakak yang usaha nyicil. Hahaha, saya mah tinggal pakai doang. Tapi berhubung kasetnya muahaaal, jadi gak beli banyak kaset. Paling cuma harvest moon ( game legenda ). Sayangnya saya memiliki kendala dalam memainkan game di PS2 yang gambarnya lebih hidup, saya mudah pusing saat bermain. Alhasil kayaknya tuh PS2 dihibahkan kepada saudara deh. 

Kemudian beranjak SMA, saya baru menggunakan ponsel. Masih jadul punya sih, tapi lama kelamaan meningkat sampai punya Nokia N-Gage. Jadi menyalurkan hobi main game lewat HP deh.

Memang ya teknologi terutama ponsel itu memudahkan banget tapi bikin ketagihan. Dengan berkembangnya teknologi, banyak banget pekerjaan kita yang terbantu. Sebut saya kita ga perlu capek-capek nyuci baju, tinggal ceblusin kedalam mesin cuci, atur ini itu-tunggu-kering deh. Tinggal tunggu waktu saja sampai ada alat yang bisa mengurus masalah cucian dari kotor sampai selesai di setrika. Ulalala. 
Nah untuk urusan ponselpun sama, kalau dulu cuma bisa ketik pesan singkat dan telepon saja, sekarang tuh mau apa aja bisa hanya dengan menggunakan ponsel. Foto? Email? Excel? Ngeblog? Main? Ulalala semua bisa. Tentu saja diiringi dengan harganya yang yahud abis. Gak ada matinya deh kalau ngikutin tren ponsel. 

Namun kadangkala perkembangan teknologi itu tidak sejalan dengan manusia itu sendiri. Ada yang tetap seimbang antara teknologi dan kehidupan dirinya, adapula yang berujung menutup diri dari lingkungan hanya untuk ponsel. Jadi bingung sebenarnya teknologi itu diciptakan untuk manusia atau manusia diciptakan untuk teknologi?

Teknologi yang mau saya bahas ini sebenarnya hanya dalam konteks ponsel dan sejenisnya, dimana yang paling mudah mobilitasnya. 
Kenapa saya bahas ini? Bukannya mau banyak-banyakin postingan, tapi saya lagi dilema. Ketika hasrat ingin menjauhkan Kael dari penggunaan ponsel, eh si anak malah lagi seneng-senengnya menonton videonya sendiri. Buah simalakama, maju mundur kena deh. 

Melihat 'sibuk'nya orang disekitar saya dalam penggunaan ponsel, membuat saya sedikit miris. Kadangkala dalam pertemuan dengan beberapa teman, setelah ngobrol basa-basi ujung-ujungnya akan sibuk dengan ponsel masing-masing. Dulupun saya seperti itu kalau kembali mengaca, tapi saya berubah. Saya mau menghargai setiap waktu yang ada saat berkumpul dengan teman. Mana enak sih ngobrol tapi mata kebawah semua? Gak niat ngobrol? 
Kalau memang dari awal gak niat ngobrol ya gak usah nongkrong! 
Hahaha suami saya mungkin sudah kebal saya sindir kayak gitu, tapi tetap aja tuh gak berubah. Zzzz...

Setelah punya anak semakin membuka mata saya. 
Saya gak mau kehilangan momen bersama anak yang katanya kelak akan merindukan masa-masa dia gelendotan manja pada kita. Makanya saya sering mengabadikan momen itu melalui foto atau video. Dipenghujung hari biasanya saya akan upload di Facebook atau Youtube, lumayan bisa melegakan memori ponsel setelah itu. 

Kalau beberapa bulan lalu saya masih bisa bebas memainkan ponsel di sekitar Kael, kini langsung terancam. Meski keinginannya hanya semacam menonton video dirinya sendiri, tapi tetap aja takut efek kedepannya. Memang sih dia nontonnya juga gak lama. Saya sudah men-tag video kedalam folder favorite biar dicarinya gampang. Dia akan betah nonton berulang kali kalau suka lalu akan bertingkah kalau gak suka. Ada satu video dia lagi makan buah Plum, dia bisa tertawa geli melihat dirinya mengecap pada video itu. Hahaha.

Tapi saya tetap punya keinginan gak memberikan kebebasan pada Kael dalam penggunaan ponsel. Kalian tahu sendiri banyak artikel yang membahas bahaya radiasi pada ponsel, mungkin tidak berefek langsung tapi mencegah lebih baik bukan. 
Oleh karena itu kalau sedang bersama Kael, saya akan menyembunyikan ponsel dari pandangan matanya. Kalau gak perlu-perlu amat saya menghindari penggunaan ponsel dihadapannya. Untungnya dia hanya tertarik pada ponsel saya, mungkin tahu video dirinya cuma ada di ponsel itu. Hahaha antara bahagia atau miris ya.

Saya gak mau Kael kecanduan main ponsel. Saya gak mau melihat Kael nangis teriak-teriak hanya karena ponselnya sedang bermasalah atau karena sinyal ponsel sedang minta di cekik. Dan saya gak mau Kael hidup dalam dunianya sendiri. Tapi saya juga gak mau Kael jadi gaptek ( Gagap Teknologi ). Teknologi dirancang untuk mempermudah manusia bukan, maka saya belajar menyeimbangi penggunaan teknologi pada Kael dalam praktek kehidupannya. Kelihatan teoritis banget gak sih? Udah kayak saya paling benar aja ya. 

Saya gak mau menghakimi orang-orang yang memberikan gadget pada anak, meskipun usia si anak seharusnya masih belum diperbolehkan mempunyai gadget sendiri. Memang semua orang punya alasan tersendiri dalam hal itu, mungkin mereka sibuk hingga tidak bisa menemani anaknya bermain? memberikan anak gadget supaya si anak tenang? atau apalah masing-masing orang punya alasannya. 

Ada kalanya dalam pikiran terlintas memberikan Kael tontonan di ponsel saja biar tenang selama saya tinggal istirahat atau beres-beres. Capek lho habis kerja seharian, pulang mesti beres-beres dan jaga anak pula. Tau sendiri energi anak tuh kayaknya gak pernah habis deh. Namun lagi-lagi saya gak bisa. 
Kalau saya pribadi selalu berpikir kalau saya punya waktu untuk main ponsel, berarti harusnya saya punya waktu yang sama untuk bermain bersama anak. Komunikasi secara langsung lebih penting bukan daripada sekedar ngobrol lewat chat atau video call. 

Jadi kesimpulannya adalah membatasi penggunaan teknologi pada anak, terutama gadget. Gak mau kan anak kita lebih sayang gadget ketimbang kita sendiri?
Yuk mom, atur waktu kita biar waktu bersama anak lebih lama lagi. Ajak anak bermain secara nyata, beri contoh dalam penggunaan gadget. 
Children Do what Children See.



Thanks,
-anita-








CERITA TENTANG PLAYGROUND BERBAYAR

Kalau boleh jujur, waktu masih kecil rasanya saya beserta adik kakak tidak pernah merasakan bermain di playground berbayar layaknya Kael se...