Wednesday, July 5, 2017

[ My1stBaby ] Teknologi Untuk Bayi? Yay or Nay ?!

Seiring berkembangnya zaman tentu juga diikuti dengan perkembangan teknologi, terutama ponsel. Dan tentu saja itu menjadi peranan penting dalam masa pertumbuhan anak. 

Di masa saya kecil, saya baru mengenal game Nintendo waktu duduk dikelas SD, entah kelas berapa. Itupun bukan dibelikan oleh orangtua, tapi kakak yang beli. Wuih seneng bener dah, mainnya gantian dan dibatasi waktunya. Kalau melanggar ya diancam dijual!

Ya mungkin karena barangnya gak original jadi permainannya cuma macam sirkus dan semacamnya, dan yang pasti gak awet. Apalagi zaman dulu televisi yang dipakai juga model tabung yang cepet panas kalau kelamaan dipake. Alhasil tuh barang gak lama kemudian teronggok di lemari TV.
Kami baru punya Playstation 2 saat saya kelas SMP, itupun kakak yang usaha nyicil. Hahaha, saya mah tinggal pakai doang. Tapi berhubung kasetnya muahaaal, jadi gak beli banyak kaset. Paling cuma harvest moon ( game legenda ). Sayangnya saya memiliki kendala dalam memainkan game di PS2 yang gambarnya lebih hidup, saya mudah pusing saat bermain. Alhasil kayaknya tuh PS2 dihibahkan kepada saudara deh. 

Kemudian beranjak SMA, saya baru menggunakan ponsel. Masih jadul punya sih, tapi lama kelamaan meningkat sampai punya Nokia N-Gage. Jadi menyalurkan hobi main game lewat HP deh.

Memang ya teknologi terutama ponsel itu memudahkan banget tapi bikin ketagihan. Dengan berkembangnya teknologi, banyak banget pekerjaan kita yang terbantu. Sebut saya kita ga perlu capek-capek nyuci baju, tinggal ceblusin kedalam mesin cuci, atur ini itu-tunggu-kering deh. Tinggal tunggu waktu saja sampai ada alat yang bisa mengurus masalah cucian dari kotor sampai selesai di setrika. Ulalala. 
Nah untuk urusan ponselpun sama, kalau dulu cuma bisa ketik pesan singkat dan telepon saja, sekarang tuh mau apa aja bisa hanya dengan menggunakan ponsel. Foto? Email? Excel? Ngeblog? Main? Ulalala semua bisa. Tentu saja diiringi dengan harganya yang yahud abis. Gak ada matinya deh kalau ngikutin tren ponsel. 

Namun kadangkala perkembangan teknologi itu tidak sejalan dengan manusia itu sendiri. Ada yang tetap seimbang antara teknologi dan kehidupan dirinya, adapula yang berujung menutup diri dari lingkungan hanya untuk ponsel. Jadi bingung sebenarnya teknologi itu diciptakan untuk manusia atau manusia diciptakan untuk teknologi?

Teknologi yang mau saya bahas ini sebenarnya hanya dalam konteks ponsel dan sejenisnya, dimana yang paling mudah mobilitasnya. 
Kenapa saya bahas ini? Bukannya mau banyak-banyakin postingan, tapi saya lagi dilema. Ketika hasrat ingin menjauhkan Kael dari penggunaan ponsel, eh si anak malah lagi seneng-senengnya menonton videonya sendiri. Buah simalakama, maju mundur kena deh. 

Melihat 'sibuk'nya orang disekitar saya dalam penggunaan ponsel, membuat saya sedikit miris. Kadangkala dalam pertemuan dengan beberapa teman, setelah ngobrol basa-basi ujung-ujungnya akan sibuk dengan ponsel masing-masing. Dulupun saya seperti itu kalau kembali mengaca, tapi saya berubah. Saya mau menghargai setiap waktu yang ada saat berkumpul dengan teman. Mana enak sih ngobrol tapi mata kebawah semua? Gak niat ngobrol? 
Kalau memang dari awal gak niat ngobrol ya gak usah nongkrong! 
Hahaha suami saya mungkin sudah kebal saya sindir kayak gitu, tapi tetap aja tuh gak berubah. Zzzz...

Setelah punya anak semakin membuka mata saya. 
Saya gak mau kehilangan momen bersama anak yang katanya kelak akan merindukan masa-masa dia gelendotan manja pada kita. Makanya saya sering mengabadikan momen itu melalui foto atau video. Dipenghujung hari biasanya saya akan upload di Facebook atau Youtube, lumayan bisa melegakan memori ponsel setelah itu. 

Kalau beberapa bulan lalu saya masih bisa bebas memainkan ponsel di sekitar Kael, kini langsung terancam. Meski keinginannya hanya semacam menonton video dirinya sendiri, tapi tetap aja takut efek kedepannya. Memang sih dia nontonnya juga gak lama. Saya sudah men-tag video kedalam folder favorite biar dicarinya gampang. Dia akan betah nonton berulang kali kalau suka lalu akan bertingkah kalau gak suka. Ada satu video dia lagi makan buah Plum, dia bisa tertawa geli melihat dirinya mengecap pada video itu. Hahaha.

Tapi saya tetap punya keinginan gak memberikan kebebasan pada Kael dalam penggunaan ponsel. Kalian tahu sendiri banyak artikel yang membahas bahaya radiasi pada ponsel, mungkin tidak berefek langsung tapi mencegah lebih baik bukan. 
Oleh karena itu kalau sedang bersama Kael, saya akan menyembunyikan ponsel dari pandangan matanya. Kalau gak perlu-perlu amat saya menghindari penggunaan ponsel dihadapannya. Untungnya dia hanya tertarik pada ponsel saya, mungkin tahu video dirinya cuma ada di ponsel itu. Hahaha antara bahagia atau miris ya.

Saya gak mau Kael kecanduan main ponsel. Saya gak mau melihat Kael nangis teriak-teriak hanya karena ponselnya sedang bermasalah atau karena sinyal ponsel sedang minta di cekik. Dan saya gak mau Kael hidup dalam dunianya sendiri. Tapi saya juga gak mau Kael jadi gaptek ( Gagap Teknologi ). Teknologi dirancang untuk mempermudah manusia bukan, maka saya belajar menyeimbangi penggunaan teknologi pada Kael dalam praktek kehidupannya. Kelihatan teoritis banget gak sih? Udah kayak saya paling benar aja ya. 

Saya gak mau menghakimi orang-orang yang memberikan gadget pada anak, meskipun usia si anak seharusnya masih belum diperbolehkan mempunyai gadget sendiri. Memang semua orang punya alasan tersendiri dalam hal itu, mungkin mereka sibuk hingga tidak bisa menemani anaknya bermain? memberikan anak gadget supaya si anak tenang? atau apalah masing-masing orang punya alasannya. 

Ada kalanya dalam pikiran terlintas memberikan Kael tontonan di ponsel saja biar tenang selama saya tinggal istirahat atau beres-beres. Capek lho habis kerja seharian, pulang mesti beres-beres dan jaga anak pula. Tau sendiri energi anak tuh kayaknya gak pernah habis deh. Namun lagi-lagi saya gak bisa. 
Kalau saya pribadi selalu berpikir kalau saya punya waktu untuk main ponsel, berarti harusnya saya punya waktu yang sama untuk bermain bersama anak. Komunikasi secara langsung lebih penting bukan daripada sekedar ngobrol lewat chat atau video call. 

Jadi kesimpulannya adalah membatasi penggunaan teknologi pada anak, terutama gadget. Gak mau kan anak kita lebih sayang gadget ketimbang kita sendiri?
Yuk mom, atur waktu kita biar waktu bersama anak lebih lama lagi. Ajak anak bermain secara nyata, beri contoh dalam penggunaan gadget. 
Children Do what Children See.



Thanks,
-anita-








No comments:

Post a Comment

CERITA TENTANG PLAYGROUND BERBAYAR

Kalau boleh jujur, waktu masih kecil rasanya saya beserta adik kakak tidak pernah merasakan bermain di playground berbayar layaknya Kael se...