Wednesday, August 30, 2017

Andai Pernikahan Bisa Diulang

Hahaha... judul diatas seolah-olah menggambarkan saya menyesal dengan pernikahan yang telah terjadi hampir 4 tahun lalu ya. 

Gak kok, saya gak menyesal dengan pernikahan kami. Saya menikmati setiap waktu meski harus ngelus dada dengan kecuekan suami dalam masalah rumah tangga kami, atau memang diri saya sendiri yang terlalu ketinggian dalam menilai sebuah hubungan suami istri? #efeknoveldanfilmroman

Saya ini sering berandai-andai kalau resepsi pernikahan kami dulu tidak dirayakan di Ballroom.

Saya bukanlah orang yang mau ribet, apalagi jika berhubungan dengan orang-orang yang tidak kompeten dalam artian kinerjanya tidak sejalan ama saya. #coleksuami. Ketemu calon suami yang harus di push dulu baru jalan, membuat saya jadi makin malas untuk ribet.

Ketika kami berkomitmen untuk menikahpun, kami baru mulai grasak grusuk begitu mendekati tahun menikah. Bulan Mei 2013 kami baru mencari-cari bridal lalu disusul tempat acara, catatan sipil dan souvenir. Foto prewed menggunakan paketan dari bridal, dimana memberikan saya kenang-kenangan dalam bentuk bekas gigitan nyamuk saat foto outdoor di PIK. Duh,inget-inget itu bikin saya makin menyesal deh bikin resepsi. 

Sebenarnya baik saya maupun -apalagi- suami tidak mau diribetkan dalam urusan menikah. Kami sepakat tidak melakukan acara khusus lamaran dan Sangjit, obrolan soal pernikahanpun kami lakukan disaat makan malam keluarga inti suami dan saya di Pondok Lauk. 
Dari pihak suami, mereka baru pertama kali mengadakan pesta pernikahan anak jadi tidak tahu menahu proses apa saja yang dijalankan, apalagi dalam kasus ini mereka akan mengambil anak perempuan dari oranglain. 

P.S : Mama Mertua bahkan bercerita kalau dia sempat diocehin oleh teman-teman group chatnya karena berkata mantap tidak akan sangjit. Temannya bilang itu harusnya tergantung permintaan pihak perempuan, bukan pihak laki-laki yang memutuskan. 
Hahaha Mama Mertua jadi ketawa sendiri karena memang benar-benar tidak punya pengalaman menikahkan anak. 

Beruntung ketemu keluarga saya, Mama yang punya pengalaman menikahkan kakak saya tentu sudah mengalami repotnya urusan sangjit.Nyatanya saya dan Mama klop untuk urusan ini, jadi kami memutuskan tidak ada acara sangjit, tapi teapai tetap ada. #demiemas

Dari awal sebenarnya saya gak mau buat acara besar-besaran, toh cuma sehari doang. Dan kayaknya kok malas ya. Niatnya malah pemberkatan dan catatan sipil aja, selesai itu mungkin makan bersama keluarga dan teman terdekat. 

Toh semakin lama ruang lingkup pertemanan saya semakin kecil. Jadi intinya ingin privat party aja. 


Saat itu kepikiran untuk mengadakan table party , undang keluarga inti dan teman terdekat saja. Tapi melihat saudara suami banyak, apalagi pesta pernikahan yang pertama bagi mereka,dan kalau dihitung-hitung mahal juga, alhasil ide itu ditolak. Hiks.

Suatu hari kami akhirnya keliling mencari venue, kebanyakan di daerah Jakarta karena saudara dari pihak suami kebanyakan daerah Jakarta. Berhubung pesta ini dimodalin oleh Mama Mertua, ya saya mah nurut-nurut aja deh. #gakmodal 

Setelah bolak-balik akhirnya dapat satu venue di Lavender Ballroom Glow Tower Season City, bookingnya pas wedding fair di JCC lumayan dapat TV yang ujungnya dijual. Ukuran hall-nya memang luas, sayang begitu hari H penempatan photoboothnya tidak sesuai aba-aba saya sebelumnya, entah kenapa. Jadi photobooth tersebut didepan lift, sehingga mengganggu akses keluar masuk tamu. Tapi ya sutralah, setiap pernikahan kayaknya tetap bakal jadi bahan omongan deh. 
Saya hanya mencetak 300 undangan, kebanyakan untuk pihak keluarga suami. 

Yang saya sesalkan sampai saat ini adalah uang yang dikeluarkan untuk pernikahan kami. Memang uangnya dari Mama Mertua dan kembali lagi ke beliau, tapi mungkin sebenarnya bisa diminimalisir biayanya dengan privat party dan sisanya bisa Honeymoon atau DP rumah dll. #efekbelumhoneymoon
Lagipula jika mau dipikir ulang, saya tahu kebanyakan para tamu undangan tidak saya kenal, pas dituntun oleh Mama Papa atau mertua cuma tersenyum dan mengucapkan terimakasih telah datang, sehabis itu lupa. 
Hahaha...ironi ya melihat resepsi pernikahan di Indonesia. Kalau dilihat lebih jauh, mungkin pernikahan anak itu menjadi ajang berkumpulnya teman-teman orangtuanya. Ya meski angpao terbesar berasal dari kaum mereka sih. Hihihi.

Kalau ditanya Pesta Pernikahan impian saya gimana?
Maka akan saya jawab dengan pasti yaitu makan bersama dengan keluarga inti dan teman terdekat saja, tidak ada tetek bengek prosesi resepsi pernikahan pada umumnya. Simple but memoriable. Kepingin sekali buat acara di taman terbuka dengan lampu-lampu temaram, Meja Kursi kayu yang dihiasi bunga-bunga warna pastel, nyanyian lembut serta cuaca yang bagus. Hahaha pinterest banget gak sih. 


***
Mungkin ketika anak-anak kami menikah, saya bisa memberikan ide privat party ketimbang pesta pernikahan pada umumnya, itupun kalau masih jaman.


Tidak peduli orang lain berkata pernikahan hanya berlangsung satu kali seumur hidup, harus sempurna. Bagi saya tidak ada yang sempurna, karena kesempurnaan hanya milik Allah. #Ahaay




Thanks,
-anita-


No comments:

Post a Comment

KEHILANGAN

Kehilangan orang terdekat yang terpatri dalam ingatan saya hanyalah Nenek dari Mama dan Suami dari Sepupu. Terpatri karena kejadiannya saat...