Tuesday, August 1, 2017

[ My1stBaby ] Baby Blues Itu Bagai Musuh Dalam Selimut

Kalau ngomongin baby blues setelah anaknya udah setahun lebih kayaknya basi banget ya Mak. 

Namun bukan hilang dari ingatan malah kadang masa-masa itu menghantui saya terus-terusan hingga saat ini, apalagi kalau sehabis dapat kabar ada teman yang melahirkan atau cerita mengenai baby blues orang lain. 

'kok bisa sih saya dulu sempet berpikiran kayak gitu'
Pertanyaan itu sering muncul hingga saat ini. Duh bener-bener menyesal banget deh sempat terlintas untuk 'membunuh' Kael saat itu dan merasa beruntung saya kuat menghadapi masa-masa suram itu. 

Ya ibarat perumpamaan musuh dalam selimut, gak ketahuan tapi berbahaya. Nah begitu tuh baby blues menurut saya. Ditengah kebahagiaan karena melahirkan seorang bayi mungil tak berdosa, ternyata membawa satu penderitaan tak kasat mata.  

Saya menulis ini untuk menceritakan pengalaman saya kala itu sebagai ibu baru, siapa tau bermanfaat bagi calon ibu baru atau orang-orang yang juga mengalami masa-masa suram itu. Kamu gak sendirian,Mak. 

Semua berlangsung baik-baik saja setelah melahirkan. Saya tidak mengalami kesusahan dalam menyusui, ASI langsung keluar di ruang operasi. Di hari pertama sejak operasi saya diharuskan tetap berbaring, hanya boleh miring kiri dan kanan. Semua orang menyambut kelahiran Kael. 

Namun satu peristiwa mengubah segalanya. Saya merasakan suami belum seratus persen menerima kelahiran Kael, mungkin belum siap. Hari kedua setelah semalam suami tidur di ruang rawat (karena mengambil kelas II jadi suami tidur di lantai yang dialasi kasur pinjaman RS) suami bilang dia mau tidur dirumah aja malamnya karena dia terganggu dengan suara bayi tetangga. Jegeeeer. Are u kidding me?! Saya langsung gak setuju, secara saya juga dalam masa pemulihan masa ditinggal gitu aja. Oke masalah beres.
Sayangnya suami kayaknya masih meremehkan keadaan saya yang sudah membaik, sudah bisa berdiri dan mandi sendiri. Alhasil suami sering meninggalkan saya dengan alasan mengantar jemput Mama mertua (Papa Mertua masih di Pontianak) atau sekedar makan siang bersama teman. Hmmmm, saya sih membiarkan saat itu karena saya malas ribut. Terlebih cuti suami menemani istri melahirkan sudah habis.

Saya kembali ke rumah hari Rabu, itu artinya suami sudah mulai kembali ke kantor. Efek menjadi ibu baru ditambah melihat suasana rumah berantakan bikin saya sibuk. Ditengah-tengah waktu menemani Kael, saya mencuri waktu untuk membereskan hadiah dan rumah. Jahitan masih belum kering tapi saya diharuskan bergerak. Kurang strong apalagi saya ini. 
Saya masih beruntung untuk urusan makan, Mama yang rumahnya gak jauh mengakomodasi dan sering datang berkunjung meski tidak lama. 
Suami yang masih meremehkan keadaan saya tetap berutinitas seperti biasa,kadang balik untuk mengantar Mama mertua atau saudara yang berkunjung habis itu pergi lagi meninggalkan saya sendiri bersama Kael. 

Entah kapan lebih tepatnya, siang itu saya kewalahan. Saya yang tipe orang tidak betah dirumah rasanya makin stress. Disuruh jaga bayi yang gak bisa apa-apa, sendirian pula. Segala puncak kesabaran saya langsung buyar, yang ada rasa tidak terima dengan keadaan.
Kael semakin menangis tidak jelas, saya gendong keluar ruang tamu, dan mungkin karena efek kurangnya tidur dan kasih sayang suami #eehh akhirnya saya menangis sambil menatap Kael. Dengan mata polosnya dia menatap saya (saya bahkan masih ingat). 

Ditengah tatapan itu entah mengapa ada pikiran jahat yang menghampiri saya. Saya berandai-andai jika saya menutup wajah Kael dengan bantal apa  tangisnya akan berhenti ? Apakah Kael bakal mengap-mengap seperti ikan yang kekurangan air? saya bahkan punya pikiran ingin melihat secara slow motion bagaimana ekspresi Kael disaat kekurangan oksigen. Seperti psikopat kedengarannya bukan?

Namun saya langsung tersadar dan nyebut nama Yesus berkali-kali. Saya malu dengan diri sendiri, berasa gak punya Tuhan sama sekai. Saya nangis kejer sambil memeluk Kael, minta maaf berkali-kali dan berdoa terus hingga air mata saya berhenti. Bahkan setiap kembali mengenang kejadian itu, mata saya kembali memanas.

Setelah itu saya mulai mengeluh pada suami, tentu tidak bercerita tentang keinginan gila itu. Nyatanya ketika sudah punya buah hati, komunikasi dengan pasangan itu paling penting! 
Saya sempat meriang tengah malam, membuat saya menggigil dan Kael menangis. Setelah minum obat buatan suami akhirnya saya kembali sehat, bisa menyusui. Dan saya dapat bertahan hingga sekarang.

Makanya sejak itu kalau menjenguk teman yang melahirkan saya selalu memberikan nasihat agar jangan sampai baby blues, kepada suami juga diminta perhatiannya. 

Baby blues itu muncul dan sembuh karena diri sendiri dan lingkungan sekitar. Belum adanya ikatan batin antara kita dan bayi serta kaget akan perubahan memungkinkan kita kena Baby Blues lho.
Jadi perbanyak doa minta kekuatan ama Tuhan dan komunikasikan dengan pasangan jika merasa tanda-tanda baby blues menyerang. Jangan tunggu lama!

Dear Kael,

Kelak kalau kamu sudah besar dan mengerti tulisan ini,
Mama mau minta maaf karena sempat terlintas pikiran gila itu,
Bukan Mama gak cinta sama kamu, 
Tapi keadaan membuat Mama seperti itu.


Ayo Mak, latih pikiran kita untuk tetap sehat dan bersih.
Jadi Emak itu gak boleh stress. 
Stress boleh tapi ajak-ajak suami. Hehehe

Mari berjuang melawan Baby Blues!!!


Thanks,
-anita-



 

 

No comments:

Post a Comment

CERITA TENTANG PLAYGROUND BERBAYAR

Kalau boleh jujur, waktu masih kecil rasanya saya beserta adik kakak tidak pernah merasakan bermain di playground berbayar layaknya Kael se...