Thursday, September 28, 2017

Punya Suami Hobi Main Game

Hayo ngacung yang senasib sama saya!
Mari kita legowo aja ya. Ketimbang suami hobi yang negatif ya kan?

Jadi dari zaman pacaran (2006) saya tahu kalau dia itu memang anak warnet. 
Hobi main game sepertinya sudah lama digeluti suami, soalnya sampai punya teman sepermainan dan membuat saya mengenal mereka semua, bahkan saya pernah menemani mereka jika ada turnamen atau acara game. 
Ya namanya game, ada kalanya membuat ketagihan hingga kadangkala memaksa kita untuk melupakan aktivitas lain, kayak ngampus gitu. 

Suami kuliah di Binus Jakarta. Yang pernah kesana tahun 2006-2010an mungkin ingat betul betapa banyaknya warnet disepanjang jalan menuju kampus. Dengan paket hemat berapa rupiah, bisa berjam-jam nongkrong didepan layar komputer. 

Dengan berkembangnya teknologi,game tidak lagi hanya dimainkan melalui komputer. Laptop dan ponsel juga berlomba mengakomodasi produk mereka agar dapat memainkan segala macam game. Dan orang yang hobi game pasti deh melek gadget. Saat memilih gadgetpun pasti akan melihat dengan teliti speknya, apa bisa dipake buat main game berlama-lama? Hah.

Kalau sewaktu masih pacaran sih saya enggak begitu berefek dengan hobinya itu, toh kami memang tidak sering bertemu diluar sekolah. Sayapun merasa bebas karena gak dibuntutin terus.

Tapi setelah menikah dan tinggal bersama itu lhoo yang berasa dampaknya. 

Awal pernikahan itu kan masa adaptasi tinggal bersama. Suka sebel aja melihat suami lebih sibuk menghabiskan waktu untuk game ketimbang menemani atau membantu saya. Sampai pernah terbesit dipikiran saya kalau kelakuan dia kayak gitu terus sepertinya saya mau cerai aja. Amit-amit ya pikiran saya ini kalau lagi kesel. Akhirnya yang saya lakukan menenangkan diri dulu baru ngomong kalau intinya saya minta bantuan, jangan main game terus.
Atau kejadian lainnya saat kami lagi senggang.Kesel gak sih kalau lagi berduaan tapi suami lebih sayang dengan game? Ya meski enggak tahu juga mau obrolin apa, tapi kan belajar menikmati waktu bersama lebih bagus daripada sibuk sendiri. Grrr. 

Namun akhirnya saya mengalah, daripada ribut terus gara-gara ginian doang. Yang capek saya sendiri, wong suami juga lupa sesaat kemudian. Saat suami sudah sibuk dengan game, sayapun memilih beraktivitas sendiri. Bebassss!

Nah setelah punya anak, itu artinya saya harus beradaptasi lagi. Saya butuh bantuan lebih lagi kan? dan itu artinya menuntut waktu suami juga. Grrr tetep aja ya dalam prakteknya sering kecewa.

Suami sering sekali memegang ponsel -untuk bermain game atau sekedar cek media sosial- jika berada didekat Kael, padahal saya mau membiasakan Kael agar tidak terpaku pada gadget. Saya mau kami sebagai orangtua, banyak meluangkan waktu untuk berinteraksi langsung dengan Kael. Mau memakai kedua mata kami untuk menatap langsung Kael. Tapi kok sering kali saya mendapati suami  saat menjaga Kael ketika saya lagi beres-beres rumah itu malah mata dimana mulut dimana. Ngerti maksud saya kan?Arrgghh.

Masalah enggak cuma disitu aja, suami seringkali kedapatan begadang untuk main game di ponselnya. Itu artinya suami bangun lebih siang dari saya dan artinya saya sering mandi dengan perasaan waswas takut Kael terbangun. Meski sering dibicarakan, tetap aja kejadiannya berulang-ulang terus. 

Dan yang paling menyebalkan adalah rumah penuh dengan aksesoris untuk hobinya itu, yaitu :
  • Beli keyboard yang katanya mau dipake supaya keyboard laptop gak cepat rusak yang kenyataannya enggak dipake.
  • Beli Mouse berkali-kali. Ada yang alasan optiknya udah jelek, kekecilanlah dan blabla.
  • Beli Headphone segede gaban katanya biar mainnya gak berisik. Kenyataannya jarang dipake.
  • Beli Earphone berkali-kali, keseringan rusak soalnya sering dibawa tidur dan kegencet badannya sendiri. 
  • Beli Kabel Charger berkali-kali dengan alasan rusaklah, kurang panjanglah, kurang cepetlah dan blabla.

Meski menyebalkan, ada juga sih kelebihan punya suami punya hobi main game. Ini menurut saya lho, jadi sudah teruji klinis melewati beberapa tahun kebersamaan kami, yaitu :
  • Enggak akan komplain kalau disuruh menunggu. Yang penting adalah baterai dan sinyal penuh, ujung-ujungnya saya yang komplain karena menunggu dia selesai satu game dulu baru bisa jalan.
  • Enggak akan komplain dengan penampilan kita. Karena fokusnya kan selalu menunduk kebawah liat ponselnya. Hahaha untung atau buntung ya. 
  • Kita bisa shopping bebas. Kalau ini sebelum punya anak ya. Coba aja pas kita ke mall, biarkan suami main di foodcourt. Yang penting sediakan minuman dan makanan, pasti anteng deh. 
  • Enggak akan komplain rumah berantakan. Karena suami saya cuma butuh WC, AC, Colokan Listrik, Sinyal Ponsel dan Kasur. Hahaha, tertawa ngenes aja deh. 
Jadi untuk para wanita diluar sana yang suami atau pasangannya hobi main game, coba tenangkan diri dulu sebelum marah-marah enggak jelas. Kalau masih pacaran enggak terima dengan hobinya ya bisa putus, tapi kalau sudah menikah kan gak semudah itu. Belajar berkomunikasi (meski sulit) untuk belajar saling memahami. Buat aturan bersama agar tidak ada yang merasa dikekang satu sama lain. 

Untuk para pria diluar sana yang hobi main game. Kami tidak melarang anda bermain game, tapi tolong dikondisikan. Ada istri dan anak yang perlu diberikan perhatian, lain hal kalau istri dan anak sudah punya kegiatan lain. 
Pakailah waktu 'me time' anda dengan bijaksana. Jangan sampai menyesal karena sudah menghabiskan waktu bukan dengan keluarga.
Anak cepat tumbuh besar, tidak jarang akan berselisih waktu bersama keluarga. Manfaatkanlah waktu sebaik mungkin selagi masih ada kesempatan.

Game hanyalah kesenangan belaka. Ketika kamu bosan mungkin bisa hilang dengan bermain game, tapi apakah sama halnya jika kamu mengalami kesepian atau sakit?


Thanks,
-anita-


Sunday, September 24, 2017

Mimisan Pada Anak 1 Tahun


Jumat malam saat saya dan Kael melakukan ritual mandi bersama, tanpa diduga bocah lanang itu terpeleset. Saya masih ingat bagaimana posisi jatuhnya, saat dia berbalik menghadap saya tiba-tiba kakinya licin hingga terpeleset ke belakang, tubuhnya sempat menopang sebelum akhirnya kepalanya membentur lantai kamar mandi. Efeknya tentu nangis hebat dan membuahkan benjolan kecil di belakang kepalanya. 

Kalau sebelumnya benjol di dahi, saya tidak begitu khawatir.

Baca juga       Kepala Benjol

Tapi kali ini memar di kepala bagian belakang tentu mengkhawatirkan, karena sebagian syaraf penting kan berada di area tersebut.
Saya mencoba tetap tenang meski suami lumayan khawatir. Saya oleskan lavender oil dibagian benjol, memeluk Kael hingga tangisnya mereda lalu menyusui. Masalahpun selesai.

Seharusnya...

Nyatanya Sabtu pagi, Kael bangun lebih dahulu dari kami. Dia mulai sibuk bolak-balik menyusui, kanan-kiri dengan badan menimpa diatas saya. Gimana mau lanjut tidur kalau gini. 
Akhirnya menyerah pada keadaan, saya terbangun dan mulai menyalakan TV kamar. 

Disitulah masalah dimulai. Saya menemukan jari-jari Kael berdarah, tidak menemukan luka apapun di seluruh tubuh Kael, sayapun mencari diwajahnya dan olalalaa... hidung sebelah kiri Kael terlihat hitam. 
Dengan rasa penasaran dan khawatir, saya mengambil cottonbud lalu mengorek hidungnya. Wuiih darah. Mencoba menyembunyikan hasil temuan saya dari suami, saya mencoba tidak mempermasalahkan darah di hidung Kael. Saya berpikir mungkin mimisan karena panas dalam. Tapi kan semalam Kael habis jatuh? 

Sehabis mandi, saya masih menemukan darah di hidung Kael. Memang tidak mengucur keluar, cuma masih terlihat basah didalam hidungnya. Takut terjadi hal yang lebih buruk dari pikiran saya, akhirnya saya mengadu ke suami. Rencana awal ke rumah mertua langsung berubah ke Rumah Sakit Omni Alam Sutera dulu. 
***
Mimisan



Jam sebelas kami baru dapat bertemu dokter Ferdy Limawal. Kami menceritakan kronologis mimisan pertama Kael. Suami juga mengeluhkan Kael yang masih memiliki dahak. 

Untuk masalah mimisan Kael, setelah pemeriksaan kepala dan tidak menemukan adanya keretakan pada bagian tersebut, dokter mengatakan mimisan tersebut tidak berkaitan dengan memar di kepala. Kebetulan saja terjadi bersamaan. 

Dokter Ferdy mengatakan mimisan bisa terjadi karena beberapa penyebab, yaitu: 
  • adanya keturunan memiliki selaput pernapasan yang tipis. Coba periksa apakah salah satu orangtua saat kecil sering mengalami mimisan?
  • adanya benturan pada bagian hidung, seperti sering mengorek hidung. Disarankan bayi tidak memiliki kuku yang panjang. 
  • kelelahan. Mungkin si anak sering dibawa bepergian sehingga kurang istirahat. Ini sih nyindir banget ya. Tapi saya ngajak perginya pas weekend doang kok,Dok. 
  • efek dari cuaca ekstrim. Mungkin AC di kamar terlalu dingin? gak tuh,Dok. 24 derajat doang dan Kael pakai baju tidur panjang. Atau mungkin efek cuaca akhir-akhir ini panas banget kali ya. Padahal udah bulan September, tapi hujan rasanya kok masih malas muncul ya.
Nah jika anak mengalami mimisan, begini penanganan yang harus dilakukan :
  • Tenangkan si anak agar mudah dalam penanganan. Ya tapi susah ya kalau bayi disuruh diam dalam keadaan gini. 
  • Posisikan anak untuk duduk tegak dengan kepala agak menunduk. Ingat ya menunduk bukannya mendongak! Kalau mendongak, darah akan masuk kembali dan itu berbahaya. 
  • Tekan agak kuat pada hidung bagian lunak, yang mengalami mimisan selama 5 menit nonstop guna menghentikan pendarahan.
  • Kalau kedua hidung mimisan, maka tekan kedua lubang hidung tersebut dan minta anak bernapas melalui mulut. 
  • Jika sudah tidak mengeluarkan darah lagi, jangan mengorek hidung karena bisa terjadi mimisan kembali.
Selanjutnya untuk masalah batuk dahak pada Kael, kemungkinan terjadi karena batuk sebelumnya tidak tuntas sehingga begitu dipicu akan kembali batuk berdahak. Untuk masalah ini, dokter Ferdy memberikan obat racikan untuk batuk pilek dan Ozen (obat alergi untuk batuk). Penguapan juga disarankan untuk membantu mengeluarkan dahak pada tenggorokan Kael dengan dosis sama seperti sebelumnya. 


Semoga lekas sembuh Kael.



-anita-




 

Friday, September 22, 2017

Hal Yang Dirindukan Setelah Punya Anak

Setelah memiliki anak tentu ada tugas baru yang akan dimulai, yang tentunya akan mengambil jatah waktu kita. 

Kalau sebelum punya anak, kita masih bisa pakai waktu diluar jam kerja dengan ngedate bersama suami atau membahagiakan diri sendiri ,maka sekarang mari rencanakan waktu yang kita punya sebaik-baiknya. Tapi ya namanya anak kecil yang masih belum bisa mandiri, sebaik-baiknya rencana yang dibuat tentu ada aja yang tidak sesuai. Ujung-ujungnya waktu habis untuk menemani Kael lagi. 

Itu artinya waktu 'me time' yang saya punya di sisa hari itu telah habis. Yang ada saya juga ikutan tepar di ranjang.
Bukan maksud menyesal atau apa, tapi kadangkala ada hal-hal yang saya rindukan saat belum memiliki anak. Rasa rindunya tentu melebihi kita kangen masa-masa sekolah.Pokoknya beda deh. 
Berikut hal-hal yang saya rindukan saat saya belum memiliki anak :

1. Tidur

Oh saya senang berleha-leha diranjang!
Kalian boleh setuju dengan suami saya kalau menganggap saya seperti kerbau yang kerjaannya cuma tidur. Saya enggak peduli. 
Tidur bisa menjauhkan saya dari mood yang berantakan akibat lapar, kesal atau bosan. Setelah menghabiskan hari dengan bekerja, tentu paling enak merebahkan badan diatas kasur yang empuk. 

Sayangnya setelah memiliki anak, tidur itu jadi kegiatan yang mahal. Bahkan sampai saat ini setiap malam saya tidak pernah tertidur pulas, telinga saya waspada terhadap suara rengekan Kael meminta susu. Oh anakku, lekaslah menyapih. 

 
2. Menonton Bioskop
 
Sebelum punya anak, saya dan suami kadangkala menghabiskan waktu sepulang ngantor dengan menonton bioskop.
Kami bahkan sering mengadakan acara nonton midnight bersama teman lainnya, bisa ditebak dong kalau nonton jam sembilan keatas itu akan sampai rumah jam berapa. Setiap ada film baru, biasanya akan ada obrolan nonton bersama. 
Suasana bioskop itu memang ngangenin. Film bagus dengan kualitas suara mantap, plus sebaskom popcorn dan lemon tea rasanya tidak ada yang mengalahkan. Surga!
Saya bahkan lupa film terakhir apa yang saya tonton karena sudah terlalu lama saya absen di bioskop. Terakhir ke bioskop mungkin beberapa bulan lalu, itupun bukan menonton tapi menunggu suami nonton. Dunia gak adil! 
Mungkin sebagian orangtua berani membawa anak balitanya menonton di bioskop. Kenapa saya bilang berani? karena membawa balita menonton di bioskop itu butuh perjuangan lho. Kita harus tahu hal apa yang bisa membuat anak tidak rewel dan harus tutup mata serta telinga dari orang sekitar.
Saya pernah punya pikiran untuk nekat mengajak Kael menonton di bioskop, tapi niat itu langsung padam begitu saja karena ujung-ujungnya saya takut. Takut mengganggu orang lain dan juga takut gak menikmati film. Hahaha saya masih cemen rupanya. 

Saya pribadi sebelum punya anak sedikit terganggu ketika melihat penonton anak kecil ikut menonton. Gak masalah kalau yang ditayangkan adalah film dengan genre anak-anak, tapi kalau filmnya bergenre dewasa??? Meski itu memang balik ke orangtua masing-masing. Tapi kalau saya belajar menahan hasrat untuk menonton di bioskop, cari cara lain seperti membeli dvd atau download(ilegal :p ),bisa juga menunggu tayang di televisi. 

3. Window Shopping

Memang niatnya enggak belanja, tapikan ada kesenangan tersendiri ya saat lihat-lihat baju baru. Lirik terus cobain eh cocok, duuh rasanya gimana gitu. Belum lagi kebiasaan saya dulu sering mampir ke Gramedia buat melihat buku-buku baru, meski kebanyakan novel. Rasanya senang aja menelusuri rak-rak buku lalu membaca resensi di belakang buku tersebut. Aiihh wangi buku baru memang enggak akan tertandingi deh.

Setelah punya anak rasanya susah sekali. Mau cari celana aja bingung gimana cobainnya, apalagi anak lagi aktif-aktifnya. Makanya sekarang kalau mau beli baju cari sesuai yang dibutuhkan dan tidak membutuhkan waktu untuk mencoba. Efisien dan Efektif! 

4. Berleha-leha


Menghabiskan waktu kosong cuma duduk sambil menonton TV, baca novel atau membuka media sosial itu rasanya enak banget deh. Gak peduli suami lagi sibuk dengan hobi sepeda atau game-nya, yang penting hati saya senang. 

Lah sekarang pegang hape kelamaan, Kael langsung menyabotase hape saya untuk menayangkan video-videonya. Saya tidur-tiduran diranjang aja langsung disergap minta nenen. Cuci piring aja Kael merengek minta digendong. Gimana bisa leha-leha? 

5. Makan dimanapun dan apapun

Siapa disini yang doyan makanan pedas selain saya?Pasti banyak kan! Makanan pedas itu membuat hormon saya lebih baik kayaknya, langsung semangat rasanya setelah makan. Semangat ke WC! Hahaha. Dimanapun dan apapun makanan yang pedas dan bermicin kayaknya bikin saya napsu. Gak peduli tuh tempat makan gak ber-AC, gak peduli juga pelanggan lainnya merokok atau enggak, yang penting makan bleh. 

Tapi setelah memiliki anak tentu harus dipikir ulang!Udah gak bisa sebebas itu saat menentukan akan makan dimana dan apa. Apalagi Kael sudah aktif bergerak, tempat sempit jelas sudah kami blacklist. 
  
***
Meski berat merasakan kerinduan terhadap kelima hal diatas, tapi saya sadar kerinduan itu tidak akan sebanding dengan kerinduan saya pada masa-masa kecil Kael. 

Saat beranjak besar, Kael tentu tidak akan selalu bersama saya. Harinya akan sibuk dengan tugas sekolah dan teman-temannya. Maka dari itu saya mau puas-puasin hari saya menemani Kael. Menikmati setiap momen, meski memang terasa berat karena inginnya tidur terus. Hahaha. 

Kalau kamu, apa yang kamu rindukan?

Emak Kael,

-anita-







Wednesday, September 13, 2017

Rumah Idaman

Bagi sebagian orang, mungkin arti sebuah rumah hanyalah tempat singgah untuk beristirahat - macam suami saya - setelah terbebas dari segala rutinitas harian. 
Tapi gak demikian dengan saya atau beberapa orang diluar sana. Kami seperti meletakkan separuh jiwa kami di rumah, jadi kalau kelamaan diluar rasanya ingin cepat pulang. Hehehe. 

Saya adalah tipe anak rumahan, sejak kecil memang selalu terbiasa sepulang sekolah ya langsung masuk rumah, apalagi dulu lingkungan sekitar rumah kurang kondusif bagi perkembangan anak-anak. Obat-obatan serta judi udah jadi perbincangan biasa di daerah saya, makanya Mama menutup akses kami untuk bersosial dengan tetangga, tentu gak semua tetangga kami seperti itu. Pokoknya ruang lingkup pertemanan saya di lingkungan sekitar terbatas deh, kenalnya ya cuma orang-orang tertentu yang sudah pasti dikenal orangtua saya. 

Nah kebiasaan itu ternyata mendarah daging hingga saat ini, apalagi setelah punya anak, rasanya setelah pulang kantor kok jadi malas keluar lagi. Meski setiap weekend pasti jarang ada dirumah, tetap aja pikirannya mau dirumah terus. Hahaha. 

Dulu sewaktu pertama kali tahu bahwa orangtua saya memberikan satu rumahnya untuk kami tempati, tidak ada terbesit pikiran untuk ikut campur dalam pembangunan. Apalagi itu rumah tua dan saat itu tidak dilakukan pembongkaran semua, hanya merenovasi beberapa bagian seperti meninggikan lantai, mengubah teras depan menjadi ruang tamu dalam, serta mengganti atap baja. Kepikiran sih mau minta dibuatkan dua lantai, sayangnya dana yang tersedia tidak cukup. Hahaha udah gratis minta lebih. Begitu rumah sudah selesai renovasi hingga sekarang kok saya menyesal gak ikut bawel saat pembangunan ya. Hikss.
Sebenarnya dari tahun lalu saya ada keinginan untuk merenovasi beberapa bagian yang menurut saya itu 'mengganggu', seperti :
1. Jendela Ruang Tamu
Susahnya tinggal dipemukiman adalah posisi rumah dengan tetangga berdekatan, ya memang tidak dekat sekali sih cuma rumah kita masih bisa di kepoin ama tetangga.
Jendela rumah saya itu memang sudah ada sejak rumah ini dibangun, modelnya kayu dan memakai kaca nako warna hitam. Dan ukurannya panjang. Tua bingits kan?
Bagi saya jendela itu ukurannya nanggung, terlalu panjang dan kurang berfaedah. Hahaha. 
 
Inginnya sih punya jendela besar menghadap keluar biar kalau lagi santai bisa duduk-duduk cantik menatap langit. Tapi ide itu gak akan mungkin bisa diterapkan dirumah saya. Ya kali pas lagi selonjoran cantik dikepoin ama tetangga. Coret!
Atau bisa juga saya bongkar itu jendela, saya pasang glassblock banyak sertas lobang angin/ roaster 

2. Jendela Kamar 
Lagi-lagi karena model membuat saya gatal ingin menggantinya.
Inginnya punya jendela sliding besar biar kalau sumpek dikamar bisa buka jendela dan melihat keluar tanpa dikepoin orang. Berhubung posisi kamar saya berada didepan teras dimana area mencuci dan menjemur, jadi harusnya ide ini bisa diterapkan. 
3. Lemari Pakaian

Dulu disudut rumah ada lorong tidak terpakai, jadi saya minta tukangnya menyatukan lorong itu dikamar utama untuk menjadi area menyimpan pakaian. Saya sudah menuangkan ide saya pada Mama, sayangnya pas eksekusi tidak sesuai harapan. Lorongnya memang menyatu dengan kamar, tapi bukan lemari dinding yang saya dapatkan malah lemari pakaian buatan si tukang yang ada. Gemes kan?!
Makanya sekarang saya mau bongkar itu sudut, mempercayakan Papa untuk merealisasikan impian saya. Beberapa minggu lalu sempat survey ke ACE Hardware untuk membeli besi-besi rak, eh Papa bilang bikin aja. Meski sampai sekarang belum ada realisasinya.

4. Dapur
Meski sekarang tidak terlalu aktif di area ini,tapi kan inginnya punya dapur yang ciamik. Cuma yah kok sekarang kolong dapur saya jadi tempat penyimpanan segala barang. Segala botol bekas minuman, plastik serta katalog belanja, serta oven tangkring Mama yang makan tempat. 
Inginnya punya dapur kayak di Feed Instagram atau Pinterest, meski kecil tapi kayaknya kok betah ya didapur. Kalau bisa ada mini bar gitu, biar bisa ngobrol meski sibuk didapur. 

5. Teras

Rumah saya ini tertutup, rumah dipagar tinggi hingga atap karena takut kemalingan lagi macam dulu.
Baca juga ini : RIP - VIXION MY HUBBY

Udah dipagar, ditutup pula pakai fiber putih. Benar-benar diisolasi deh. Hahaha jadi privasi saya terjaga, meski terlihat lebay ya. 
Meski tertutup, teras ini tetap kedapatan cahaya matahari dan angin kok dari luar. 
Saat ini teras saya manfaatkan untuk mencuci dan menjemur, ditambah gudang abal-abalan serta rak sepatu. Kalau dilihat ya berantakan dan bikin gatel mata, cuma masih belum sempat diberesin.

Oleh karena itu kepikiran mau buat gudang kecil disudut teras, ada sisa sekitar semeteran hasil lorong tidak terpakai dulu. Tidak bablas disatukan kekamar, karena ada lubang septitank katanya disitu. 
Setelah gudang saya mau buat area jemur baju menjadi minimalis, membuat rak sepatu yang bisa dipakai untuk kursi santai juga, dan kalau bisa buat mini garden. Hahaha secara ternyata saya tergoda punya taman dirumah, biar mata seger dikit. 

6. Kamar Belakang

Ada dua kamar dirumah kami, satu lagi kamar belakang. Niatnya buat kamar tamu atau calon kamar Kael kelak, tapi sekarang isinya ya barang-barang tidak terpakai. Kalau dibuka bikin ilfeel deh. Makanya saya jarang kesana, ditutup terus. 
Inginnya membersihkan segala sampah, menyiapkan kamar tamu atau kamar Kael. 

***
Sayangnya kenyataan tidak seindah harapan. 

Kalau dipikir-pikir sayang juga harus renovasi semua bagian 'mengganggu' itu, karena saya kepikiran mau buat dua lantai. Jadi sambil menunggu dana renovasi, akhirnya saya mencoba menerima keadaan. 

Didalam keterbatasan, kita tetap harus mensyukuri apa yang kita miliki kan? 

Setelah berpikir panjang, akhirnya saya memilih untuk membuat merapihkan bagian Teras -membuat gudang serta merapihkan bagian cuci dan jemur baju - dan Lemari Pakaian. Hihi kebetulan Mama lagi bangun disebelah, jadi bisa manfaatkan tukangnya buat ngerjain gudang. 

Belum lagi masih ada beberapa furniture idaman yang masih belum saya beli juga T_T .
Duh, banyak pengennya nih.

Mungkin inilah yang membuat saya masih mengurungkan niat berhenti dari pekerjaan. Masih butuh duit!




Thanks,
-anita-



Sunday, September 10, 2017

Semangat Menyambut Imunisasi Campak dan Rubella

Menjadi orangtua rupanya membuka mata saya lebar-lebar, hidup kita bukan lagi milik kita sendiri. Ada tanggung jawab sosial yang perlu kita emban dalam kehidupan anak. 

Seperti halnya imunisasi. Awal menjadi orangtua saya buta dalam hal imunisasi, saya setuju imunisasi tanpa tahu manfaat dan dampaknya bagi anak. Yang penting mencegah dulu deh. Eh makin lama makin mengerti manfaat imunisasi, selain untuk kekebalan tubuh anak sendiri ternyata juga berdampak bagi orang lain. 

Tidak sedikitkan kasus anak sakit karena tertular saat di Sekolah? 
Mungkin kalau flu atau batuk masih bisa dianggap remeh untuk dipandang, tapi jangan abaikan Campak dan Rubella!
  
Campak (Measles) dan Rubella adalah penyakit infeksi menular melalui saluran pernapasan yang disebabkan oleh virus. Sebagaimana kebanyakan penyakit lainnya yang disebabkan oleh virus, hal ini tidak ada obatnya. Walaupun begitu, penyakit ini bisa dicegah, atau setidaknya dikurangi dampak bahayanya bila anak-anak yang rentan terinfeksi tersebut mendapatkan imunisasi MR.
Campak dapat menyebabkan komplikasi yang serius seperti diare, radang paru (pneumonia), radang otak (ensefalitis), kebutaan, bahkan sampai kematian. Gejalanya bisa mulai dari demam, ruam, batuk dan pilek, juga mata merah dan berair.
Sedangkan Rubella pada anak-anak biasanya seakan muncul sebagai penyakit ringan, anak-anak mungkin segera merasa baik kembali. 
Nah, celakanya itu jika penyakit ini menulari ibu hamil pada usia kandungan trimester pertama atau awal kehamilan, karena kalau sampai janinnya terinfeksi, maka kemungkinan Si ibu akan mengalami keguguran. Bila bayi tetap lahir kemudian, maka kemungkian besar bayi tersebut mengalami kecacatan sejak dilahirkan. Inilah yang disebut sebagai Sindroma Rubella Kongenital. Perkembangan selanjutnya dapat berdampak pada perkembangan bayi, antara lain adalah risiko menderita kelainan pada jantung, kebutaan, atau cacat penglihatan, pendengaran, dan terhambatnya perkembangan anak dalam tingkat yang berat, juga bisa mengakibatkan kematian. 
Dengan fakta itu, maka imunisasi dengan vaksin MR adalah pencegahan terbaik untuk penyakit MR ini. Satu vaksin mencegah dua penyakit sekaligus, dan inilah yang menjadi peralihan dari vaksin sebelumnya, yaitu MMR (Mumps, Measles, dan Rubella).
Sumber : Kompasiana 

Imunisasi MMR memang sudah ada sebelumnya, namun agak susah didapatkan serta harganya yang lumayan mahal. 

Nah saya itu penggemar blog Mami UbiiTiada hari tanpa membuka blognya.

Ketika saya mencari artikel mengenai pentingnya pengecekan TORCH saat kehamilan, secara enggak sengaja menemukan sebuah artikel yang akhirnya membawa saya ke laman Mami Ubii, eh keterusan karena cara penyampaian setiap tulisannya begitu mengena. Hingga akhirnya saya menemukan jawaban dari rasa penasaran saya mengenai Ubii, anak pertamanya, yang mengidap Congenital Rubella Syndrome (CRS) akibat kehamilan yang terinfeksi Rubella.


Didalam blog surat-ibu-yang-kena-rubella-saat-hamil tersebut, Gesi -panggilan Mami Ubii- meminta kita untuk ikut berjuang dalam melawan Campak dan Rubella, mungkin memang terlihat sepele tapi menyimpan bahaya untuk orang lain lho. Sejak itu saya semangat mencari tahu mengenai program imunisasi MR ini.

Dan ternyata pemerintah mewujudkan tanggung jawabnya dalam hal kesehatan , melalui Kementerian Kesehatan telah mencanangkan kampanye imunisasi Campak(Measles) dan Rubella ini. Yang paling bikin happy adalah imunisasi ini akan GRATIS! Gretong buuu ... emak-emak kalau tau gratisan kan seneng ya. 

Untuk pelaksanaannya dimulai bulan Agustus-September 2017 untuk Pulau Jawa dan tahun 2018 untuk di luar Pulau Jawa. Di Pulau Jawa sendiri, untuk anak-anak usia sekolah maksimal 15 tahun akan diadakan di Sekolah pada bulan Agustus, lalu dilanjut bulan September untuk anak berusia 9 bulan keatas atau anak usia sekolah yang belum/tidak bersekolah di Posyandu/Puskesmas/Fasilitas Kesehatan lainnya. 

Jadi untuk yang berada di luar Pulau Jawa, harap bersabar dan kalau bisa dapat membantu sosialisasi imunisasi ini. 
Karena menjelang imunisasi MR berlangsung, banyak sekali kasus-kasus yang membuat orangtua ketar-ketir kalau imunisasi ini berbahaya. Apalagi untuk kaum anti vaksin.
Saya sampai bingung sendiri untuk orang yang anti vaksin. Apa hanya dengan alasan tidak jelas kehalalan vaksin tersebut sehingga tidak mempedulikan kesehatan anak serta orang lain? Jelas-jelas MUI sudah memperbolehkan vaksin tersebut karena mempunyai tujuan untuk melindungi. Jadi please segera sadar dong. 

Balik lagi ke pengalaman saya dalam mengikuti program ini. Setelah menunggu dengan harap-harap cemas dari bulan Agustus, akhirnya Kael berhasil disuntik MR di Posyandu. Uhuuuy!!!

Gimana ceritanya? Kok di Posyandu sih? Gak takut tuh suntikannya bekas atau vaksinnya palsu?!

Haha begini nih orang yang masih memandang sebelah mata terhadap Posyandu, Mama saya dulu juga gitu. 
Pas saya meminta beliau tanya informasi mengenai jadwal imunisasi di Posyandu belakang rumah, Mama sempet menolak mentah-mentah dengan alasan si A pernah bermasalah lho habis imunisasi disana atau emang berapa sih kalau imunisasi di dokter?nanti Mama ganti deh. Beruntung tetangga banyak anak seumuran Kael dan sudah maraknya iklan kampanye imunisasi ini di Televisi, jadi Mama akhirnya yang semangat menunggu jadwal imunisasi ini. Lagipula saat saya tanya imunisasi MR di rumahvaksin, katanya belum tersedia karena program pemerintah jadinya baru di fasilitas kesehatan milik pemerintah.

Aurel - keponakan saya - sudah terlebih dahulu ikut imunisasi di bulan Agustus, dari pihak sekolah sudah memberitahu lewat buku agenda sekolah. Katanya sih Aurel gak nangis pas disuntik, mungkin karena kami sudah sering bilang kalau disuntik itu kayak digigit semut. 
Nah kalau si Kael kan masih belum bisa di cuci otaknya. Gimana dong? Ya let it go aja deh. 

Sempat salah cek jadwal Posyandu, harusnya setiap hari Kamis minggu kedua setiap bulan, eh Mama datang tanggal 7 September ya salahlah. 
Terus Sabtu pagi tanggal 9 September,  berhubung belum punya ide mau kemana ya udah main-main dirumah Mama dulu. Eh denger-denger Posyandu buka dan ada imunisasi, wah langsung buru-buru jalan deh. Bersama tetangga lainnya saya kesana, tentu bocah-bocahnya naik mobil-mobilan. 
Jangan harap Posyandu sebagus rumah sakit ya! 
Setelah daftar, saya masuk dan bersiap memangku Kael. Memang sih gak selembut dokter anak, tapi mbak posyandu yang bertugas menyuntik melakukannya dengan cepat. Awalnya Kael cuma memperhatikan dengan selidik, sampai akhirnya si mbak menekan lengannya dan cuuus, barulah tangisnya meledak.Demi sehat Nak. 
Masih beruntung dapet wafer dan secup air begitu selesai. Haha.

Tidak ada indikasi demam setelah itu dan Kaelpun suka memutar ulang video imunisasinya. 

So, jangan egois untuk kesehatan. Karena di dunia ini kita tidak tinggal sendirian, ada orang lain yang perlu kita jaga kesehatannya pula.


Emak Pendukung Imunisasi,

-anita-


MENCAIRKAN BPJS KETENAGAKERJAAN 2019

Zaman sekarang tuh segalanya dipermudahkan banget deh rasanya., contohnya saja urusan hal mencairkan dana Jaminan Hari Tua (JHT) dari BPJS ...