Thursday, September 28, 2017

Punya Suami Hobi Main Game

Hayo ngacung yang senasib sama saya!
Mari kita legowo aja ya. Ketimbang suami hobi yang negatif ya kan?

Jadi dari zaman pacaran (2006) saya tahu kalau dia itu memang anak warnet. 
Hobi main game sepertinya sudah lama digeluti suami, soalnya sampai punya teman sepermainan dan membuat saya mengenal mereka semua, bahkan saya pernah menemani mereka jika ada turnamen atau acara game. 
Ya namanya game, ada kalanya membuat ketagihan hingga kadangkala memaksa kita untuk melupakan aktivitas lain, kayak ngampus gitu. 

Suami kuliah di Binus Jakarta. Yang pernah kesana tahun 2006-2010an mungkin ingat betul betapa banyaknya warnet disepanjang jalan menuju kampus. Dengan paket hemat berapa rupiah, bisa berjam-jam nongkrong didepan layar komputer. 

Dengan berkembangnya teknologi,game tidak lagi hanya dimainkan melalui komputer. Laptop dan ponsel juga berlomba mengakomodasi produk mereka agar dapat memainkan segala macam game. Dan orang yang hobi game pasti deh melek gadget. Saat memilih gadgetpun pasti akan melihat dengan teliti speknya, apa bisa dipake buat main game berlama-lama? Hah.

Kalau sewaktu masih pacaran sih saya enggak begitu berefek dengan hobinya itu, toh kami memang tidak sering bertemu diluar sekolah. Sayapun merasa bebas karena gak dibuntutin terus.

Tapi setelah menikah dan tinggal bersama itu lhoo yang berasa dampaknya. 

Awal pernikahan itu kan masa adaptasi tinggal bersama. Suka sebel aja melihat suami lebih sibuk menghabiskan waktu untuk game ketimbang menemani atau membantu saya. Sampai pernah terbesit dipikiran saya kalau kelakuan dia kayak gitu terus sepertinya saya mau cerai aja. Amit-amit ya pikiran saya ini kalau lagi kesel. Akhirnya yang saya lakukan menenangkan diri dulu baru ngomong kalau intinya saya minta bantuan, jangan main game terus.
Atau kejadian lainnya saat kami lagi senggang.Kesel gak sih kalau lagi berduaan tapi suami lebih sayang dengan game? Ya meski enggak tahu juga mau obrolin apa, tapi kan belajar menikmati waktu bersama lebih bagus daripada sibuk sendiri. Grrr. 

Namun akhirnya saya mengalah, daripada ribut terus gara-gara ginian doang. Yang capek saya sendiri, wong suami juga lupa sesaat kemudian. Saat suami sudah sibuk dengan game, sayapun memilih beraktivitas sendiri. Bebassss!

Nah setelah punya anak, itu artinya saya harus beradaptasi lagi. Saya butuh bantuan lebih lagi kan? dan itu artinya menuntut waktu suami juga. Grrr tetep aja ya dalam prakteknya sering kecewa.

Suami sering sekali memegang ponsel -untuk bermain game atau sekedar cek media sosial- jika berada didekat Kael, padahal saya mau membiasakan Kael agar tidak terpaku pada gadget. Saya mau kami sebagai orangtua, banyak meluangkan waktu untuk berinteraksi langsung dengan Kael. Mau memakai kedua mata kami untuk menatap langsung Kael. Tapi kok sering kali saya mendapati suami  saat menjaga Kael ketika saya lagi beres-beres rumah itu malah mata dimana mulut dimana. Ngerti maksud saya kan?Arrgghh.

Masalah enggak cuma disitu aja, suami seringkali kedapatan begadang untuk main game di ponselnya. Itu artinya suami bangun lebih siang dari saya dan artinya saya sering mandi dengan perasaan waswas takut Kael terbangun. Meski sering dibicarakan, tetap aja kejadiannya berulang-ulang terus. 

Dan yang paling menyebalkan adalah rumah penuh dengan aksesoris untuk hobinya itu, yaitu :
  • Beli keyboard yang katanya mau dipake supaya keyboard laptop gak cepat rusak yang kenyataannya enggak dipake.
  • Beli Mouse berkali-kali. Ada yang alasan optiknya udah jelek, kekecilanlah dan blabla.
  • Beli Headphone segede gaban katanya biar mainnya gak berisik. Kenyataannya jarang dipake.
  • Beli Earphone berkali-kali, keseringan rusak soalnya sering dibawa tidur dan kegencet badannya sendiri. 
  • Beli Kabel Charger berkali-kali dengan alasan rusaklah, kurang panjanglah, kurang cepetlah dan blabla.

Meski menyebalkan, ada juga sih kelebihan punya suami punya hobi main game. Ini menurut saya lho, jadi sudah teruji klinis melewati beberapa tahun kebersamaan kami, yaitu :
  • Enggak akan komplain kalau disuruh menunggu. Yang penting adalah baterai dan sinyal penuh, ujung-ujungnya saya yang komplain karena menunggu dia selesai satu game dulu baru bisa jalan.
  • Enggak akan komplain dengan penampilan kita. Karena fokusnya kan selalu menunduk kebawah liat ponselnya. Hahaha untung atau buntung ya. 
  • Kita bisa shopping bebas. Kalau ini sebelum punya anak ya. Coba aja pas kita ke mall, biarkan suami main di foodcourt. Yang penting sediakan minuman dan makanan, pasti anteng deh. 
  • Enggak akan komplain rumah berantakan. Karena suami saya cuma butuh WC, AC, Colokan Listrik, Sinyal Ponsel dan Kasur. Hahaha, tertawa ngenes aja deh. 
Jadi untuk para wanita diluar sana yang suami atau pasangannya hobi main game, coba tenangkan diri dulu sebelum marah-marah enggak jelas. Kalau masih pacaran enggak terima dengan hobinya ya bisa putus, tapi kalau sudah menikah kan gak semudah itu. Belajar berkomunikasi (meski sulit) untuk belajar saling memahami. Buat aturan bersama agar tidak ada yang merasa dikekang satu sama lain. 

Untuk para pria diluar sana yang hobi main game. Kami tidak melarang anda bermain game, tapi tolong dikondisikan. Ada istri dan anak yang perlu diberikan perhatian, lain hal kalau istri dan anak sudah punya kegiatan lain. 
Pakailah waktu 'me time' anda dengan bijaksana. Jangan sampai menyesal karena sudah menghabiskan waktu bukan dengan keluarga.
Anak cepat tumbuh besar, tidak jarang akan berselisih waktu bersama keluarga. Manfaatkanlah waktu sebaik mungkin selagi masih ada kesempatan.

Game hanyalah kesenangan belaka. Ketika kamu bosan mungkin bisa hilang dengan bermain game, tapi apakah sama halnya jika kamu mengalami kesepian atau sakit?


Thanks,
-anita-


1 comment:

ADAPTASI

Setelah empat tahun empat bulan bekerja di perusahaan terakhir, akhirnya saya menyerah juga untuk double job sebagai pekerja plus merawat a...