Sunday, October 22, 2017

Domain Berbayar

Beberapa bulan terakhir galau mau pakai domain gratisan atau domain yang bayar. Kalau pakai domain yang bayar sih harapannya biar lebih termotivasi ngeblog atau mudah-mudahan dapat kerjaan dari ngeblog. Hahaha apalah aku ini. 

Udah coba cari nama domain di berbagai penyedia jasa layanan, sampai akhirnya menemukan promo DewaWeb. 
New Home Promo 2017 dari Dewaweb sebagai ucapan terima kasih kepada semua pelanggan dan merayakan rumah baru mereka, maka mereka memberikan promo terbaru, diantaranya adalah domain.com seharga 60ribu untuk tahun pertama kepada 300 pembelian pertama. Uhuuy kan? Lumayan bisa dapat harga setengah dari normal untuk setahun kedepan.

Jadi semoga saya semakin rajin menulis ya. 


Kalian sedang bingung mencari penyedia jasa domain. Nih cobain Dewaweb... beneran dewa deh.




Welcome to www.callmeaw.com




Thanks,
-anita- 

Saturday, October 21, 2017

ROTI NOGAT BSD

Efek dari iseng-iseng kepoin kuliner lewat Instagram dan Blog adalah munculnya hasrat ingin mencoba. Apalagi kalau tahu bahwa tempatnya dapat dijangkau, wah pasti udah masuk waiting list dalam daftar YANG AKAN DICOBA. Sayang hasrat tersebut kadang tidak sejalan dengan waktu yang dimiliki. Haha.

Namun sepertinya kali ini alam semestapun ikut berpihak pada saya ketika mau mencoba Roti NOGAT di Pasar Modern BSD.

Niatnya mau kesana saat imunisasi Kael di rumahvaksin BSD, tapi berhubung imunisasi Dpt+Hib+Polio (4) ditanggung asuransi kantor berarti kami beralih ke Omni Alam Sutera. Demi imunisasi gratis!   
Eh malamnya suami bilang mesti ke kantor dulu karena surat rujukannya ketinggalan dikantor. Eaa I love U Suami ...#saya maafkan kamu kali ini. 

Setelah mengambil surat rujukan dikantor suami, kamipun menuju Pasar Modern BSD yang sudah ramai itu. Bermodalkan informasi bahwa Roti Nogat (dahulu bernama Roti Tiam) terletak di pintu Barat, kami asal masuk parkiran motor yang didepan mata. Eh ternyata didepannya Ruko Roti Nogat. Uhuuuy. 

Antrian sudah sampai di toko sebelah. Saya bertugas cari tempat dilantai 2 dan suami yang antri. Saya awalnya dapat posisi disamping jendela, lumayan agak panas karena kurang kena AC. Eh pas nunggu sambil menyusui, suami chat kalau gak bawa dompet. Dan sayapun gak bawa uang cash. Gubrak. Untung bisa debit. 


Setelah memberanikan diri nitip jagain tempat sama bapak-bapak sebelah, saya pun turun sambil tetap menyusui Kael. Huff perjuangan banget ya. Kalau suami naik keatas berarti antriannya dari awal lagi #rugidong.

Antrian yang mengular di Lantai 1
Papan Menu Yang Simple


Tenang, bisa debit kok
Saya memesan paket Ceria dengan isi roti Meuses 1/4 + nasi Perang isi ayam 1 + Es Moka. Untuk pilihan minuman bisa yang lain kecuali Es Pokat. Sayangnya suami gak baca pesanan saya selanjutnya yaitu Jagung Gurih.



Roti Nogat

Roti Meuses



Nasi Perang a.k.a Nasi Kucing

Ini (kayaknya) Kopi Ceria. Perpaduan Kopi, Jeruk Nipis dan lupa hahaha

Es Moka
Disini kalau sudah selesai order atau sudah duduk manis tidak bisa nambah order selain minuman, mesti antri ulang. Menurut saya sih kurang efisien, karena itu artinya perputaran pelanggan yang sudah dapat meja jadi lambat.
Misalkan pelanggan yang di meja mau nambah karena kurang kenyang, itu artinya dia harus mengantri lagi sekitar 10 menit lebih, belum lagi menunggu pesanannya diantar. Belum lagi ngobrol-ngobrolnya. Sedangkan pengunjung baru terus berdatangan. Tapi mungkin si pemilik mempunyai cara tersendiri sih. 

Meski ukuran roti hanya 1/4 tapi lumayan mengenyangkan. Untuk toping yang diberikan juga tidak pelit. Saya lebih suka toping Nogat, bergabung dengan selai Moka yang bikin nyummy. 

Untuk pelayanan juga ramah banget. Ruko-nya kan kayak gang senggol, jadi kadang bertabrakan dengan staff yang antar pesanan. Mereka pasti permisi atau merespon sapaan kita. 

Sayangnya disini gak bisa lama-lama karena tempatnya kecil sedangkan pengunjung baru berdatangan, gak enak juga kalau lama-lama disini. Pas saya pulangpun antrian saja masih mengular.

Semoga kelak dapat diperbesar tempatnya sehingga bisa menampung banyak pelanggan. 






Thanks,
-anita-

 

Saturday, October 14, 2017

Liburan ke Pontianak (end)

Hari terakhir di Pontianak, 09 Oktober 2017.


Saya tak sanggup untuk bangun pagi. Saya gak peduli ditinggal sarapan atau kuliner kemanapun yang belum saya datangi. Saya cuma mau tidur lebih lama hingga jam delapan Kael terbangun.

Suami pulang dari acara kuliner bersama Papa Mama Mertua, membawa sarapan untuk saya yaitu semangkuk Kwecap. 

Ini Foto dari Suami, kalau saya versi di bungkus lebih banyak
Setelah check-out,semua koper dititipkan di kamar saudara yang masih stay beberapa hari kedepan. Setelah istirahat sebentar kami memutuskan menghabiskan waktu untuk jalan-jalan. Menggunakan taksi online kami mencoba es campur. 



Setelah itu menyebrang ke KAISAR, semacam swalayan di Pontianak. Mencari titipan Atapson untuk teman kantor yang sedang ngidam. Setelah itu jalan kaki menuju rumah saudara. 
Kami mampir ke kedai kopi Asiang. Sayangnya si pemilik (terkenal selalu tidak pakai baju saat bikin kopi) sedang istirahat, saat suami datang pagi sempat bertemu beliau dan rupanya istrinya kenal dengan Mama Mertua. Sempit banget pontianak!

Selalu Ramai

Add caption

Tokoh Legendaris Kopi Asiang
Dari Kopi Asiang kami jalan kaki lagi melanjutkan perjalanan, selagi Mama Mertua mengantarkan barang, kami mampir lagi di mie khas Pontianak (yang hari ke-2 pernah kami datangi). Setelah itu baru pulang naik Taksi Online.

Istirahat sebentar sampai menunggu jemputan Koh Aleng. Akhirnya pulang juga ke kampung halaman - Tangerang. 




Saking Sepi Penumpang sampai bisa tidur selonjoran

Badan letih dan harus kembali pada kenyataan besok kerja namun Kael masih segar bugar itu rasanya mau ngibarin bendera putih tanda menyerah. Mungkin efek minum kopi susu di kedai Asiang jadi Kael masih segar sampai tengah malem.

Pelajaran kedepan adalah jangan kasih Kael kopi atau dia akan aktif sampai tengah malam. Bahkan sepanjang perjalanan di pesawat, dia bolak balik nenen gak bikin dia tidur. 

Sekian reportasi perjalanan kami di Pontianak!


Thanks,
-anita-














Liburan ke Pontianak (3)

Hari ketiga di Pontianak, 08 Oktober 2017

Bangun pagi karena ada acara pertunangan sepupu suami di Hotel Aston. Kami tidak mengikuti sampai habis karena mau pergi ke Gereja. Bermodalkan mobil pinjaman kami memutuskan beribadah di Gereja Kristen Kalimantan Barat. 

Sepulang beribadah kami ketemuan dengan Winston dan temannya di Nasi Campur Asan 333 - yang cabangnya juga ada di Gading Serpong. 

Nasi Campur Asan 333 di Pontianak


Hujan rintik-rintik menemani perjalanan kami hingga balik ke hotel untuk menjemput Mama, Papa dan Winston. 

Setelah menurunkan Mama Mertua di Bridal untuk dirias, kamipun mencoba berkuliner ria. Rencananya mau cari choi pan dan Siobi (siomay). Pertama mencoba Siobi lalu Choi pan.


Siobi




Setelah itu menjemput Mama kembali dan langsung balik ke Hotel untuk beres-beres sambil curi waktu untuk istirahat. Lalu dimulailah kerepotan untuk siap-siap kondangan. Uhuuuy.






Happy Wedding Ci Mega!



Thanks,
-anita-















 

Liburan ke Pontianak (2)

07 Oktober 2017 - Pontianak Hari ke-2
 
Kadang realitas tidak seindah harapan.

Niatnya sih ingin bangun pagi biar bisa kulineran. Eh kenyataannya bangun dipagi hari dengan kondisi sadar sedang berada di hotel itu rasanya berat banget ya. 
Dan beratnya lagi impian untuk kembali tidur diatas kasur empuk sirna karena mertua semangat banget bangunin cucu-nya. Padahal niatnya pakai alasan Kael masih bangun. Namun gagal saudara-saudara, Kael bangun tanpa nangis. 

Bermodalkan cuci muka dan sikat gigi, kami berjalan kaki menuju tempat yang direkomendasikan mertua. Masih saudara mertua rupanya, kami sarapan dengan Kwe Khia Teng. 






Punya pasangan orang keturunan pontianak pasti harus berurusan dengan makanan berbahan jeroan Babi. Di Pademangan-Jakarta juga banyak yang menjual menu ini. Saya sendiri suka, asalkan tidak terlalu banyak memakan usus Babi atau jeroan lainnya. 

Setelah sarapan kami jalan kaki lagi menuju saudara Papa Mertua yang rumahnya tidak jauh dari sana. Saya memanggilnya kukuh (Kael : Kuh Pho). Rumah-rumah di Pontianak sepertinya masih mempertahankan ciri khas mereka, yaitu lantai kayu yang dilapis karpet. 
Kembali ke hotel dengan berjalan kaki. Mandi lalu santai-santai sejenak sebelum pergi fitting jas di salon bridal untuk acara esok. 
 
Waktunya makan siang.Kami mencoba nasi kari achai yang memang direkomendasi oleh mertua. 



 


















Setelah makan siang kami mampir lagi ke rumah Kukuh yang kebetulan sedang ada saudara kandung Papa Mertua. Sorean dikit ada tukang eskrim langganan mereka, yaitu Eskrim Jet Lie. Rasanya enak dan murah.

Gak Sabar Nunggu Pesenan
Cup besar 10ribu saja, alpukat dan coklat
Dari sini kami berniat ke tugu khatulistiwa yang berada di Siantan. Dimana rupanya kami harus menyebrangi dua sungai besar di Pontianak. Bisa juga naik kapal penyebrangan,namun sayangnya saat kami tiba di dermaga sudah panjang antriannya. Tapi kalau dihitung-hitung dengan kita mengambil rute perjalanan darat, sama saja dengan menunggu antrian kapal. 

Dengan hati was-was takut Tugu Khatulistiwa tutup, akhirnya kami sampai sampai jam 4 kurang. Beruntung tugu khatulistiwa masih dibuka. Dengan membayar biaya parkir 5ribu kami dapat bebas menikmati area Tugu Khatulistiwa. 

Saat saya masuk masih sepi sehingga kami dapat berfoto sepuasnya. Begitu kami sudah selesai eh rombongan baru mulai berdatangan. Meski kondisi sudah mau tutup, tapi penjaga tugu tetap mempersilakan para pengunjung untuk berfoto. Inget ya Tugu Khatulistiwa yang sesungguhnya adalah yang berada didalam ruangan. 




Disekitar tugu juga sedang ada pengembangan area wisata, beberapa kios berkaca sedang dibangun. Semakin masuk lebih dalam, ada dermaga kecil yang dijadikan objek wisata bagi masyarakat sekitar. Ada kapal kecil yang bisa kita sewa untuk di pinggir sungai itu, katanya mau jalan kalau sudah ada 30 orang penumpang atau bisa kita sewa dengan rate lebih tinggi.


Sepulang dari sana kami mampir ke rumah Pa Pa (Kakak Papa Mertua) yang tinggal di Siantan.  

Oh kalau disini jangan heran melihat banyak warga yang masih mandi atau mencuci di got. Padahal airnya tidak jalan lho, jadi bisa dibayangkan sendiri ya gimana kotornya air tersebut.
Meski sudah banyak warga yang mempunyai kamar mandi sendiri,namun masih ada juga yang memakai air tersebut untuk mandi, cuci kendaraan, cuci baju, dll. 

Dan waktunya mencari makan maaaalaaaam. Pertama-tama kami harus kembali dulu ke kota Pontianaknya karena di daerah Siantan ini tidak ada kuliner khas. Pilihan kami adalah Bakmi Khas Pontianak dan Bubur Ikan.Sekali lagi jangan tanya dimana alamatnya.


Mie Khas Pontianak

Bubur Ikan
 Bubur Ikan disini semacam nasi plus sop ikan.

Lek Tau Suan
Sepulang itu winston request diantar ke tempat oleh-oleh, kamipun ikut biar sekalian cari oleh-oleh. Koh Aleng mengantar kami ke jalan Pattimura, disana berjejer kios oleh-oleh. Setiap kios memiliki warna lapisan dus yang berbeda. Enaknya disini setiap dus dilapisi lagi dengan sejenis terpal tipis, jadi pasti aman. 




Sekian reportase perjalanan hari kedua kami di Pontianak.





Thanks,
-anita-


P.S

Ku Kuh Kwet Ngo meninggal tanggal 15 November 2017 setelah melakukan operasi tumor otak di Siloam Karawaci. Beliau mungkin terlihat judes tapi nyatanya dia orang baik yang mengajarkan saya cara membuat kulit choi pan, membuatkan dua sprei untuk kami dan saat kami pulang dari Pontianak sempat memberikan sosis babi dan hekeng untuk saya. 

Selamat Jalan Ku Kuh ... 



   

ADAPTASI

Setelah empat tahun empat bulan bekerja di perusahaan terakhir, akhirnya saya menyerah juga untuk double job sebagai pekerja plus merawat a...