Saturday, October 14, 2017

Liburan ke Pontianak (2)

07 Oktober 2017 - Pontianak Hari ke-2
 
Kadang realitas tidak seindah harapan.

Niatnya sih ingin bangun pagi biar bisa kulineran. Eh kenyataannya bangun dipagi hari dengan kondisi sadar sedang berada di hotel itu rasanya berat banget ya. 
Dan beratnya lagi impian untuk kembali tidur diatas kasur empuk sirna karena mertua semangat banget bangunin cucu-nya. Padahal niatnya pakai alasan Kael masih bangun. Namun gagal saudara-saudara, Kael bangun tanpa nangis. 

Bermodalkan cuci muka dan sikat gigi, kami berjalan kaki menuju tempat yang direkomendasikan mertua. Masih saudara mertua rupanya, kami sarapan dengan Kwe Khia Teng. 






Punya pasangan orang keturunan pontianak pasti harus berurusan dengan makanan berbahan jeroan Babi. Di Pademangan-Jakarta juga banyak yang menjual menu ini. Saya sendiri suka, asalkan tidak terlalu banyak memakan usus Babi atau jeroan lainnya. 

Setelah sarapan kami jalan kaki lagi menuju saudara Papa Mertua yang rumahnya tidak jauh dari sana. Saya memanggilnya kukuh (Kael : Kuh Pho). Rumah-rumah di Pontianak sepertinya masih mempertahankan ciri khas mereka, yaitu lantai kayu yang dilapis karpet. 
Kembali ke hotel dengan berjalan kaki. Mandi lalu santai-santai sejenak sebelum pergi fitting jas di salon bridal untuk acara esok. 
 
Waktunya makan siang.Kami mencoba nasi kari achai yang memang direkomendasi oleh mertua. 



 


















Setelah makan siang kami mampir lagi ke rumah Kukuh yang kebetulan sedang ada saudara kandung Papa Mertua. Sorean dikit ada tukang eskrim langganan mereka, yaitu Eskrim Jet Lie. Rasanya enak dan murah.

Gak Sabar Nunggu Pesenan
Cup besar 10ribu saja, alpukat dan coklat
Dari sini kami berniat ke tugu khatulistiwa yang berada di Siantan. Dimana rupanya kami harus menyebrangi dua sungai besar di Pontianak. Bisa juga naik kapal penyebrangan,namun sayangnya saat kami tiba di dermaga sudah panjang antriannya. Tapi kalau dihitung-hitung dengan kita mengambil rute perjalanan darat, sama saja dengan menunggu antrian kapal. 

Dengan hati was-was takut Tugu Khatulistiwa tutup, akhirnya kami sampai sampai jam 4 kurang. Beruntung tugu khatulistiwa masih dibuka. Dengan membayar biaya parkir 5ribu kami dapat bebas menikmati area Tugu Khatulistiwa. 

Saat saya masuk masih sepi sehingga kami dapat berfoto sepuasnya. Begitu kami sudah selesai eh rombongan baru mulai berdatangan. Meski kondisi sudah mau tutup, tapi penjaga tugu tetap mempersilakan para pengunjung untuk berfoto. Inget ya Tugu Khatulistiwa yang sesungguhnya adalah yang berada didalam ruangan. 




Disekitar tugu juga sedang ada pengembangan area wisata, beberapa kios berkaca sedang dibangun. Semakin masuk lebih dalam, ada dermaga kecil yang dijadikan objek wisata bagi masyarakat sekitar. Ada kapal kecil yang bisa kita sewa untuk di pinggir sungai itu, katanya mau jalan kalau sudah ada 30 orang penumpang atau bisa kita sewa dengan rate lebih tinggi.


Sepulang dari sana kami mampir ke rumah Pa Pa (Kakak Papa Mertua) yang tinggal di Siantan.  

Oh kalau disini jangan heran melihat banyak warga yang masih mandi atau mencuci di got. Padahal airnya tidak jalan lho, jadi bisa dibayangkan sendiri ya gimana kotornya air tersebut.
Meski sudah banyak warga yang mempunyai kamar mandi sendiri,namun masih ada juga yang memakai air tersebut untuk mandi, cuci kendaraan, cuci baju, dll. 

Dan waktunya mencari makan maaaalaaaam. Pertama-tama kami harus kembali dulu ke kota Pontianaknya karena di daerah Siantan ini tidak ada kuliner khas. Pilihan kami adalah Bakmi Khas Pontianak dan Bubur Ikan.Sekali lagi jangan tanya dimana alamatnya.


Mie Khas Pontianak

Bubur Ikan
 Bubur Ikan disini semacam nasi plus sop ikan.

Lek Tau Suan
Sepulang itu winston request diantar ke tempat oleh-oleh, kamipun ikut biar sekalian cari oleh-oleh. Koh Aleng mengantar kami ke jalan Pattimura, disana berjejer kios oleh-oleh. Setiap kios memiliki warna lapisan dus yang berbeda. Enaknya disini setiap dus dilapisi lagi dengan sejenis terpal tipis, jadi pasti aman. 




Sekian reportase perjalanan hari kedua kami di Pontianak.





Thanks,
-anita-


P.S

Ku Kuh Kwet Ngo meninggal tanggal 15 November 2017 setelah melakukan operasi tumor otak di Siloam Karawaci. Beliau mungkin terlihat judes tapi nyatanya dia orang baik yang mengajarkan saya cara membuat kulit choi pan, membuatkan dua sprei untuk kami dan saat kami pulang dari Pontianak sempat memberikan sosis babi dan hekeng untuk saya. 

Selamat Jalan Ku Kuh ... 



   

No comments:

Post a Comment

KEHILANGAN

Kehilangan orang terdekat yang terpatri dalam ingatan saya hanyalah Nenek dari Mama dan Suami dari Sepupu. Terpatri karena kejadiannya saat...