Monday, February 26, 2018

MENGAJAK BALITA BERIBADAH

Dari dulu kepikiran mau membuat tulisan mengenai hal penting ini, beribadah. 

Kami termasuk salah satu pasangan yang tidak langsung diberi kepercayaan untuk mendapat momongan begitu menikah. Ada jeda kurang lebih setahun enam bulan sebelum akhirnya saya positif hamil. Dari woles sampai mikir 'apa mandul?' pun sudah saya lewati, namun akhirnya tersadar begitu mendapat firman untuk meminta kuasa menerima berkat pada Tuhan. 

Anak itu kan termasuk berkat dari Tuhan. Berdoa dan berserah pada Tuhan itu pasti sudah keharusan, tapi ternyata yang paling penting adalah kuasa menerima berkat itu sendiri. Kadang kita sendiri suka enggak sadar terlalu banyak meminta doa, tanpa sungguh-sungguh mempertahankan doa tersebut. Doa aja dulu, dikasih enggak dikasih belakangan. Orang yang punya kuasa menerima berkat, pasti doanya akan terkabul. 

Dari situlah Puji Tuhan, doa saya terkabul. Saya positif hamil dan selalu berdoa minta kuasa menerima berkat itu. Dan kayaknya memang kehamilan saya berjalan lancar jaya. Tidak ada keluhan apapun, meski akhirnya melahirkan tetap secara caesar. 


Kamipun dari awal kelahiran Kael, bernazar untuk mengenalkan Kael pada Bapa-nya. Hal yang paling sederhana adalah selalu menguduskan Hari Tuhan. Saya ingat benar, dua hari setelah pulang dari rumah sakit itu ada Jumat Agung. Ke-newbie-an saya dalam hal menyusui diluar rumah, membuat saya panik begitu Kael menangis ditengah ibadah. Apalagi banyak 'omongan' dari para senior, makin guguplah saya. Tadinya mau masuk kamar mandi buat nyusui, eh suami larang dan meminta saya menyusui di anak tangga saja. Toh ada kain penutup. Ya ampun rasanya bingung deh. Kalau sekarang mah jangan ditanya, udah expert dong. 

Kami baru melakukan penyerahan anak setelah Kael berumur kira-kira empat bulan (maybe, soalnya foto penyerahan anak kala itu dipegang oleh orang yang 'sibuk'). Kami memang ingin mengajarkan Kael untuk mengenal Tuhannya sesuai dengan Alkitab. 

Baca juga : Hope's Name

Tapi namanya juga anak-anak ya, pasti adalah masa dimana dia susah sekali diajak bekerja sama untuk mengikuti ibadah dengan tenang. Contohnya nih:
  • Membangunkan Kael dipagi hari tentu saja penuh perjuangan juga. Dulu sih enggak bisa memberontak, pasrah tak berdaya. Sekarang mah berasa banget perjuangannya.   
  • Saat ibadah berlangsung. Kalau lagi beruntung, kebanyakan beruntung sih. Kael akan tertidur ditengah ibadah dan saya bisa fokus mendengarkan kotbah. Kalau lagi kurang beruntung ya saya harus cari cara supaya Kael tetap calm down.
Kael belum bisa ditinggal di Sekolah Minggu, karena umurnya masih belum lima tahun jadi butuh pengawasan orangtuanya. Daripada mesti ibadah bergiliran dimana waktunya belum bisa, jadi lebih baik Kael ikut ibadah umum.
Sebelumnya kami ibadah Pagi, jadi Kael tentu masih suka melanjutkan tidurnya ditengah ibadah. Siangnya sambil menunggu suami tugas pelayanan, saya mengajak Kael ibadah Sekolah Minggu. Ya meski belum seratus persen mengikuti, tapi Kael udah bisa ikut pas awal ibadah, kalau bagian dengerin Firman sih belom. 

Nah karena sekarang ini kami cuma ibadah Siang, jadi tentu Kael masih segar bugar dong. Meski kadangkala karena bangunnya tetap pagi, di tengah ibadah siang dia tidur juga.

Untuk berjaga-jaga, tentu saya harus mencari akal supaya Kael tetap tenang selama ibadah berlangsung. Pokoknya fokus saya adalah sebisa mungkin Kael tidak mengganggu orang lain beribadah. Makanya cari duduk barisan belakang. 

Beberapa tips dari saya untuk para moms yang mengajak balita beribadah :
  • Persiapkan segala kebutuhannya dimalam hari, supaya pas hari H lebih fokus mengurus anak.
  • Bangunkan anak satu jam sebelum jadwal berangkat ke gereja (Jika Ibadah Pagi)atau tetap bangunkan di pagi hari agar anak melanjutkan tidurnya di siang hari. Kalau enggak mempan di colek-colek, coba setel film atau video kesukaannya.
  • Kalau Ibadah Pagi, biasanya saya buatkan air panas untuk mandi. Tapi kalau Ibadah Siang sih air biasa saja. 
  • Selama perjalanan, sugesti anak agar beribadah dengan tenang. Kalau saya sih selalu bisikin 'kita mau ibadah, pilihannya tidur atau ikut ibadah dengan tenang' dan itu lumayan berhasil.
  • Sediakan mainan yang kita tahu berhasil membuat anak tenang. Inget mainannya jangan menimbulkan suara mengganggu juga. 
  • Sediakan cemilan.
  • Jika di tengah Ibadah si anak membuat ulah, lebih baik mengalah dengan membawanya menjauh dari ruangan. Di gereja saya ada ruangan yang bisa dipakai para moms beribadah sambil mengurus anaknya. 
  • Banyak-banyak doa minta kuasa.
Perhatikan juga jadwal Ibadah masing-masing. Jangan karena alasan si anak masih kecil yang susah diatur, jadi bisa seenaknya datang ibadah telat. Please, kita yang lebih dewasa harusnya bisa lebih memegang kendali. Intinya adalah kenali anakmu sendiri. Kalau memang anaknya tipe yang gak bisa diburu-buru, yah mengalah dengan memulai lebih awal. 

Ini yang saya terapkan pada Kael. Sebodo dibilang militan. Memberi contoh yang baik pada anak sangat berguna kedepannya. Jangan sampai kemalasan kita malah jadi senjata makan tuan. 

Ajarlah anakmu sesuai dengan Firman Allah agar kelak hidupnya selalu bersandar pada Allah.


Happy Parenting,


-anita-
 

No comments:

Post a Comment

ADAPTASI

Setelah empat tahun empat bulan bekerja di perusahaan terakhir, akhirnya saya menyerah juga untuk double job sebagai pekerja plus merawat a...