Tuesday, August 28, 2018

MEMBELI SBR004 via BAREKSA

Sejak dua tahun terakhir ini, saya jadi melek soal masalah keuangan. Kalau dulu mainannya cuma tabungan konvensional atau ikut arisan, sekarang udah berani main di reksadana. Tambah lagi mudahnya informasi tersebar di media sosial, akhirnya membuat saya berkenalan dengan surat utang negara. 

Apa itu Surat Utang Negara?
Kalau menurut wikipedia, Surat Utang Negara adalah surat berharga yang berupa surat pengakuan hutang yang dijamin pembayaran bunga dan pokoknya oleh negara Republik Indonesia sesuai masa berlakunya. SUN digunakan oleh pemerintah antara lain untuk membiayai defisit APBN serta menutup kekurangan kas jangka pendek dalam satu tahun anggaran.

Awalnya saya pesimis lho. Masa sih kita bisa beli SUN? Ya kali gaji belum dua digit aja sok mau bantu negara? Buat menghadapi hari sampai gajian lagi aja harus berjuang keras. Hahaha sungguh pemikiran yang sempit. 

Tenang.

Siapapun bisa membeli SUN, apalagi kini ada SBR004. 

Udah kenalan belum sama SBR004 ini?
Jadi SBR004 (Savings Bond Ritel seri 004) adalah salah satu produk investasi resmi dari Pemerintah untuk masyarakat umum. Produk ini minim risiko karena dijamin pemerintah dan memiliki tingkat keuntungan minimal. Dan SBR004 ini adalah seri kedua yang dijual secara online. Wuiiih makin mudah aja kan beli SUN.

Kalau dulu saya sempat ketinggalan saat peluncuran ORI14, kali ini saya enggak mau ketinggalan lagi. Kenapa? soalnya dengan minimal 1.000.000 kita udah bisa berinvestasi lho.
 

SBR004 ini dapat dibeli melalui mitra yang sudah ditunjuk oleh Kementrian Keuangan, salah satunya adalah Bareksa.

Daftarnya mudah kok, cuma isi beberapa data dan kirimkan scan KTP & NPWP. Saya mendaftar dari tanggal 21 Agustus 2018, sempat kirim ulang KTP dan NPWP. Infonya sih cuma 2 hari kerja, tapi seminggu kemudian SBN Bareksa saya baru aktif. Ahh untung masih ada waktu.

Begitu aktif saya langsung beli doong SBR004nya.

Enggak banyak sih soalnya dananya masih mencar. Hahaha. 


Tapi kita masih bisa nambah kok selama periode pemesanan yaitu hingga tanggal 13 September 2018.

Nambah lagi deh investasi keluarga kami. 

Banyak cara membantu negara, selain taat pajak tentu saja ikut membeli SUN.




Thanks,

-anita-

Thursday, August 2, 2018

MACET - KETIKA KEEGOISAN BERKUMPUL

Sudah beberapa hari ini jalan yang saya lalui macet luar biasa. 
Biasanya dari rumah ke kantor tuh cuma makan waktu setengah jam, lah sekarang bisa satu jam. Itu kalau naik motor, kalau naik mobil ya lebih lama.


Kalau dilihat tuh macetnya cuma karena pengguna jalan yang mau ke/dari kawasan Gajah Tunggal, enggak boleh belok langsung dari perempatan jalan, harus muter dulu. Sampai dijaga polisi lho perempatan itu.

Yah efeknya tuh ngabisin waktu buat orang muter dan berdampak pengguna lainnya tertahan. Mending kalau jalurnya bener, lah itu kadang jalurnya menutupi jalan lainnya. Kan capek.

Sumber dari IG @abouttng

Sumber dari IG @abouttng

Lihat aja foto yang saya screenshot. Ada yang salah?


Salah besar!


Lihat betapa banyak pengguna jalan yang melanggar arus hanya demi diri sendiri cepat sampai tujuan, enggak berpikir kalau kelakuannya bikin macet. 


Egois? Yoi dong. Apalagi kalau enggak disebut egois?


Kalau saja kita mau bersabar sedikit aja ikutin jalur yang benar, seenggaknya kemacetan enggak bakal parah gini. Enggak masalah tuh jalanan diperbaiki ataupun ditutup, kan masih ada jalan lain. 


Tadi pagi pas saya masih berkutat dengan kemacetan, suara sirine polisi terdengar. Terus ada yang berteriak 'Huh, kenapa enggak dari tadi'. Itu dikatakan oleh salah satu pengendara motor yang melawan arus. Aseem, rasanya mau saya samperin aja tuh bapak sambil teriak :'bapak juga kenapa enggak daritadi pake jalur yang benar.'


Kan kupret! Bisanya menyalahkan petugas yang katanya 'emang tugas dia ngatur jalan' tapi enggak berkaca dengan tugas sendiri sebagai pengguna jalan umum. Mematuhi rambu lalu lintas! 


Sejujurnya sebagai pengendara motor, kadang mikir yang sering buat masalah tuh emang pengguna motor. 

Macet dikit, motor dengan mudah naik ke trotoar. Kasian lihat pejalan kaki yang udah sibuk melewati para gerobak jajanan.
Terus kalau dirasa jalur sebelah kosong, langsung belok dan lawan arus. Mending kalau cuma satu jalur sambil pasang seins kanan, lah ini ujung-ujungnya bergerombol hingga membentuk benteng. Ujung-ujungnya menahan jalur lawan. Abis itu ngeluh.
 
Kayak orang yang ngeluh sering kena banjir tapi masih doyan buang sampah sembarangan. 

Lucunya hidup ini.


Saya sok bijak? emang. Dengan bertambahnya usia, tentu kebijaksanaan haruslah ikut bertambah kan? jangan sampai diejek 'malu tuh sama umur'. 


Saya pernah khilaf dan tentu pernah jadi pelaku kemacetan pula, tapi tentu saya mau berubah. 

Enggak mau kan kemacetan kita kayak di India (meskipun belum pernah lihat langsung)? Gimana negara mau maju kalau kita masih stuck dalam keegoisan sebagai masyarakat. Jangan mencontoh hal yang buruk, tapi contohlah hal yang bisa membangun.


Banyak-banyak menonton/membaca hal yang bisa menambah wawasan, jangan mantengin acara yang udah jelas-jelas gimmick semata. 

 
Mulailah dari diri kita sendiri. Dari hal kecil aja, kayak tetap berkendara sesuai jalur. 
Memang ada kalanya tergoda melihat jalanan sebelah kosong, tapi ingatkan diri sendiri bahwa kamu mau berubah!



Salam Aspal,


 -Anita-

CERITA TENTANG PLAYGROUND BERBAYAR

Kalau boleh jujur, waktu masih kecil rasanya saya beserta adik kakak tidak pernah merasakan bermain di playground berbayar layaknya Kael se...