Thursday, August 2, 2018

MACET - KETIKA KEEGOISAN BERKUMPUL

Sudah beberapa hari ini jalan yang saya lalui macet luar biasa. 
Biasanya dari rumah ke kantor tuh cuma makan waktu setengah jam, lah sekarang bisa satu jam. Itu kalau naik motor, kalau naik mobil ya lebih lama.


Kalau dilihat tuh macetnya cuma karena pengguna jalan yang mau ke/dari kawasan Gajah Tunggal, enggak boleh belok langsung dari perempatan jalan, harus muter dulu. Sampai dijaga polisi lho perempatan itu.

Yah efeknya tuh ngabisin waktu buat orang muter dan berdampak pengguna lainnya tertahan. Mending kalau jalurnya bener, lah itu kadang jalurnya menutupi jalan lainnya. Kan capek.

Sumber dari IG @abouttng

Sumber dari IG @abouttng

Lihat aja foto yang saya screenshot. Ada yang salah?


Salah besar!


Lihat betapa banyak pengguna jalan yang melanggar arus hanya demi diri sendiri cepat sampai tujuan, enggak berpikir kalau kelakuannya bikin macet. 


Egois? Yoi dong. Apalagi kalau enggak disebut egois?


Kalau saja kita mau bersabar sedikit aja ikutin jalur yang benar, seenggaknya kemacetan enggak bakal parah gini. Enggak masalah tuh jalanan diperbaiki ataupun ditutup, kan masih ada jalan lain. 


Tadi pagi pas saya masih berkutat dengan kemacetan, suara sirine polisi terdengar. Terus ada yang berteriak 'Huh, kenapa enggak dari tadi'. Itu dikatakan oleh salah satu pengendara motor yang melawan arus. Aseem, rasanya mau saya samperin aja tuh bapak sambil teriak :'bapak juga kenapa enggak daritadi pake jalur yang benar.'


Kan kupret! Bisanya menyalahkan petugas yang katanya 'emang tugas dia ngatur jalan' tapi enggak berkaca dengan tugas sendiri sebagai pengguna jalan umum. Mematuhi rambu lalu lintas! 


Sejujurnya sebagai pengendara motor, kadang mikir yang sering buat masalah tuh emang pengguna motor. 

Macet dikit, motor dengan mudah naik ke trotoar. Kasian lihat pejalan kaki yang udah sibuk melewati para gerobak jajanan.
Terus kalau dirasa jalur sebelah kosong, langsung belok dan lawan arus. Mending kalau cuma satu jalur sambil pasang seins kanan, lah ini ujung-ujungnya bergerombol hingga membentuk benteng. Ujung-ujungnya menahan jalur lawan. Abis itu ngeluh.
 
Kayak orang yang ngeluh sering kena banjir tapi masih doyan buang sampah sembarangan. 

Lucunya hidup ini.


Saya sok bijak? emang. Dengan bertambahnya usia, tentu kebijaksanaan haruslah ikut bertambah kan? jangan sampai diejek 'malu tuh sama umur'. 


Saya pernah khilaf dan tentu pernah jadi pelaku kemacetan pula, tapi tentu saya mau berubah. 

Enggak mau kan kemacetan kita kayak di India (meskipun belum pernah lihat langsung)? Gimana negara mau maju kalau kita masih stuck dalam keegoisan sebagai masyarakat. Jangan mencontoh hal yang buruk, tapi contohlah hal yang bisa membangun.


Banyak-banyak menonton/membaca hal yang bisa menambah wawasan, jangan mantengin acara yang udah jelas-jelas gimmick semata. 

 
Mulailah dari diri kita sendiri. Dari hal kecil aja, kayak tetap berkendara sesuai jalur. 
Memang ada kalanya tergoda melihat jalanan sebelah kosong, tapi ingatkan diri sendiri bahwa kamu mau berubah!



Salam Aspal,


 -Anita-

No comments:

Post a Comment

ADAPTASI

Setelah empat tahun empat bulan bekerja di perusahaan terakhir, akhirnya saya menyerah juga untuk double job sebagai pekerja plus merawat a...