Monday, November 5, 2018

CERITA SARI ATER, ASIA AFRIKA BANDUNG DAN RUMAH DUKA

Liburan singkat ini telah berakhir. 

Perjalanan pada Sabtu subuh, dimulai suami mengambil mobil sewaan di Alam Sutera. Rencana awal mobil dapat diambil jumat malam, namun ternyata masih dipakai penyewa sebelumnya.


Setelah menjemput Mertua, kami sepakat ketemuan dengan Mobil Papa di Rest Area Karang Tengah.

Kami keluar tol Sabang, menelusuri jalanan biasa menuju Wisata Pemandian Air Panas Alam Sari Ater. Suasana sudah ramai, banyak wisatawan lokal yang sudah tidak sabar untuk menikmati guyuran air panas. 


WISATA PEMANDIAN AIR PANAS ALAM SARI ATER

Pembelian tiket bisa dilakukan langsung di gerbang pintu masuk atau loket sebelum pintu masuk. 

NOTE : Anak umur 3 tahun keatas sudah dihitung satu tiket normal.

Jika kalian ingin berendam tanpa berdesak-desakan dengan pengunjung lainnya, bisa dicoba nih kolam rendam dibawah ini. Untuk Kolam Wangsadipa sepertinya kolam khusus perempuan. 



Awalnya kami menempati kolam rendam kaki dekat pintu masuk, makan siang dulu sambil icip-icip air. Hehe. 


Karena saya dari awal emang enggak niat berendam, jadi cuma rendam kaki doang. Suami bertugas mengajak Kael berendam hingga bilasan. Kael awalnya menolak masuk air karena panas kali ya di kolam rendam kaki ini, dibawalah ke kolam rendam badan yang enggak terlalu panas dibawah. Hanya saya ramai sekali dan airnya enggak hangat malah.  

Ternyata Papa menemukan Kolam Rendam yang airnya panas, dekat Kolam Rendam Wangsadipa. Sepiii pulaaa.


Airnya lebih panas, ditengah kolam itu ada kolam air mancur dengan tingkat kepanasan lebih tinggi. Kael senang lho main disana.

Sayangnya setelah bilasan, kami menerima kabar duka.  
Suami dari sepupu kami meninggal karena jantung, padahal baru saja selesai operasi jantung yang kedua. Meninggalkan seorang istri dengan 4 anak yang masih kecil. 
Selamat jalan, Koh Ipen. 

Kami memutuskan tetap pada rencana, menginap di Bandung satu malam habis itu langsung pulang. 

Niatnya mau lanjut jalan-jalan di Lembang tapi hujan, akhirnya merapat ke Tahu Susu Lembang sekalian makan sore. Waah udara makin dingin. Kael tertidur selama kami disini.


Tiba di hotel Zodiak Asia Afrika, langsung bisa check-in dan masuk kamar.  


HOTEL ZODIAK ASIA AFRIKA  

Tidak ada yang istimewa selain letaknya yang strategis di pinggir jalan Asia Afrika. 


 
 


Parkiran hanya bisa menampung tidak lebih dari 10 mobil. Lobby yang kecil dan lorong kamar yang bau rokok. Entah memang mereka memakai pewangi ruangan tembakau atau emang bau rokok.

Kami mendapatkan kamar di lantai lima. Ruangan oke -tidak terlalu kecil- namun kamar mandi berasa lagi di pesawat. Bau rokok pula kamar mandinya. Padahal saya request non smoking room

Menu sarapanpun tidak terlalu banyak. Pagi itu kami dijamu dengan nasi putih, mie goreng, tumis buncis, telor (kurang) balado, bakwan jagung, roti, bubur kacang hijau, buah semangka dan teh kopi pada umumnya. Rasa lumayan daripada lumanyun. Hehehe.

Dengan harga kamar 303ribu rasanya worth it lah ya. Hehehe apalagi lumayan dekat sama Sudirman Street - pusat kuliner pecinan, hanya butuh jalan kaki 500meter sebelah kiri hotel. Trotoar di daerah sini enak, luas dan tidak ada pedagang asongan yang menggangu. Kaelpun suka sekali berjalan mengikuti Guiding Block, Garis kuning petunjung jalan bagi tuna netra.


SUDIRMAN STREET

Surganya pecinta makanan non halal alias pork. Kami dari pintu Jalan Sudirman, menelusuri jalanan hingga keluar jalan Cibadak. Rombongan terpisah, ada yang memilih cari makan didalam saja. Saya,suami, dan mertua mencoba berkeliling jalan Cibadak. Saking banyaknya sampai pusing, mana jalanannya lumayan padat. Alhasil saya memilih kembali dan bergabung dengan rombongan lainnya.

Disini kita bisa menemui banyak makanan dari bahan baku pork, aneka es jus, wedang ronde, western, thai food,snack. Pokoknya siapin perut dan duit aja. Hehehe. Kami disini enggak lama, soalnya para orangtua sudah kecapean. 

Minggu pagi waktunya ibadah!

Nah Rombongan mobil Papa Mama memilih pulang duluan, jadi saya, suami dan mertua baru balik setelah pulang gereja. Sekitar jam 12an kami baru check out dan mengarah ke Primarasa.

Dari Primarasa menuju Rumah Makan Nasi Bancakan, setelah mengantri dan memilih makanan kami baru dipersilakan duduk. Kami tiba disana sekitar jam 2, jadi sudah melewati jam makan siang.

Waktunya pulaaaaang. Mampir ke rest area setelah tol pasteur, suami butuh tidur soalnya. Jam setengah empat mulai jalan lagi dan tiba di Tangerang jam 8an. 

Lalu berlanjut ke rumah duka, menatap wajah Koh Ipen yang sudah terbujur kaku. Air mata spontan netes, belum percaya orang ini sudah meninggal. Dia Cihu yang baik, suka becanda dan sering liburan bareng sama kami. Aaah, kematian memang selalu meninggalkan duka.  

Selamat jalan Koh Ipen
Akhirnya kamu sudah terbebas dari semua rasa sakit ini.



Thanks,

-anita-



No comments:

Post a Comment

ADAPTASI

Setelah empat tahun empat bulan bekerja di perusahaan terakhir, akhirnya saya menyerah juga untuk double job sebagai pekerja plus merawat a...