Wednesday, January 23, 2019

SUDAH BEKERJA BIKIN SUSAH CARI PACAR ?

Eits ini bukan soal saya ya.
Cuma menarik aja ditulis karena seorang rekan kerja pernah minta bahas mengenai asmara di IG stories. 

Menarik bukan? 

Saat masa sekolah enggak pernah tuh mikirin soal jodoh, wong masih masa-masa merasa ' ah masih muda ini'. Ngapain punya hubungan serius. Jalanin aja saaay. 

Lanjut kerja dan berada di posisi dimana banyak rekan kerjamu sudah memiliki pasangan atau bahkan sudah berkeluarga dan punya anak. 

Terus kamu masih single aja!

Gimana? sudah terbayang? Antara iri dan tertekan ya? Hehehe.

***

Jadi begitu teman saya meminta topik ini, sayapun jadi bingung sendiri. Kenapa susah banget ya nemu jodoh sekarang ini?

Hahaha sorry to say, saya nemu jodoh pas SMA. Jadi saya enggak merasakan susahnya mencari jodoh setelah berstatus karyawan a.k.a budak coorporate. 

Baca juga : 2nd Anniversary  

Sebelumnya memang saya pernah iseng mengamati sih kenapa banyak rekan kerja yang masih single aja. 

Ini di sekitaran kantor saya ya. Dimana tidak berada di kawasan elit Tangerang. Orang yang bekerja disinipun kebanyakan memang tidak se-open para pekerja di Jakarta pastinya karena memang masih anak Tangerang abis deh. Hahaha.

Jangan mengharapkan pulang kerja masih bisa wara wiri ke mall, wong anak rumahan semua. Jadi susah ya kalau mau nongkrong sampai malam. 

Secara sadar kita bisa merasakan bahwa begitu bekerja gaya pertemanan kitapun berubah. 

Kalau tadinya sepulang sekolah atau kuliah masih bisa punya waktu luang dan tenaga sampai tengah malam, sekarang pulang kerja aja udah berasa capek. Hahaha #faktorumur. 

Mau tidak mau kesempatan untuk bertemu orang baru tuh sempit sekali, paling pas weekend ke Mall. Itupun enggak mungkin bakbikbuk random kenalan sama cowok dan berharap kayak FTV. 

Apalagi susah ya sekarang menemukan cowok, antara udah punya monyet atau doyan gender yang sama. Ahaaay!Kidding lho.

Mungkin penyebab susahnya mencari jodoh setelah berstatus karyawan ya itu tadi. Terbatasnya menjalin  hubungan di luar area kantor. Apalagi akses komunikasi untuk keluar di kantor ini pun tertutup, jadi ya gimana mau pedekate lah ponsel aja terlarang disini.

Meski saya menemukan beberapa orang yang cinlok dari hubungan rekan kerja dan akhirnya menikah, tapi itu kan satu banding berapa sih. 

***

Tapi kalau menurut saya sih kalau masih muda lebih baik fokus mengembangkan diri dulu deh. Nikmati setiap waktu, jangan lupa berinvestasi dan jangan lupa menjadikan kita layak jadi pasangan seseorang kelak.

Enggak usah takut telat nikah, wong Sandra Dewi aja telat nikah tapi dapat suami yang diimpikan semua orang kok.

Tapi kalau memang kamu ngebet mau dapat jodoh karena sadar kamu butuh seseorang, coba lebih terbuka pada lawan jenis. Cari komunitas yang bisa mempertemukan kamu pada banyak orang seperti aktif di kegiatan sosial/gereja.


Jangan lupa dibawa doa.



Thanks,


- anita -

Friday, January 18, 2019

PRIORITAS DI TAHUN 2019



Tahun ini mau lebih ambisius dalam memperbaiki keuangan keluarga. 

Dalam hidup itu butuh perencanaan, wong main game aja butuh strategi biar bisa terus hidup. Ya kan? Apalagi hidup kita ini enggak punya cadangan nyawa. 

Usia bertambah tapi kok merasa sobat misqueen. 

Setelah banyak membaca akhirnya sadar, wong keluarga kami ini enggak ada perencanaan dalam hidup berkeluarga. Ada suami, istri dan anak. Ketiganya punya kebutuhan masing-masing dan bagaimana caranya supaya semua kebutuhan terwujud, itu alasan mengapa butuh perencanaan dalam keluarga.

NEW YEAR, NEW US

Makanya saya mau mulai mencatat apa saja kebutuhan keluarga kami di tahun 2019.
  • Suami mau pasang box di motor sehingga butuh renovasi pintu   rumah
  • Istri mau renovasi dapur dan kamar mandi
  • Kael mau masuk sekolah tahun ajaran 2020/2021
  • Melanjutkan dana pendidikan Kael untuk jenjang SD
  • Melanjutkan dana darurat
  • Mempersiapkan Dana Pensiun suami dan istri yang terlupakan
Aaah, andai saya dari keluarga Crazy Rich Tangerang sih enggak bakal sepusing ini. Hahaha nyatanya kami berdua masih budak coorporate, hidup dari gaji ke gaji. 

Dengan kesadaran itulah akhirnya kami harus memilih satu untuk di prioritaskan di tahun ini. Tentu maksudnya bukan langsung melupakan wacana lainnya, tapi lebih pada mengalokasikan dana lebih besar untuk hal mengumpulkan dana darurat.

Ada target yang sudah saya buat, nilainya mengambil patokan dari 12 kali biaya pengeluaran rutin bulanan keluarga. Lihat angkanya aja udah syok duluan, merasa menyesal kenapa enggak dari awal pernikahan kami mengumpulkannya.

Namun tak baik larut dalam penyesalan kan? Lebih baik diisi dengan semangat untuk menembus target itu.



Sudahkah anda tahu prioritas keuanganmu?



Thanks,


-anita-

Wednesday, January 16, 2019

UNTUK AKU DI SEPULUH TAHUN MENDATANG

Minggu ini media sosial diramaikan dengan tagar 10yearschallenge. Tagar ini mengajak kita untuk berani mengunggah foto sepuluh tahun yang lalu bersanding dengan foto kita sekarang. 2009 VS 2019. 

Banyak orang terdekat saya sudah mengunggah foto lawas mereka, suami saya bahkan sudah posting fotonya dari semalam. Hahaha soal foto mah emang cepet, coba kalau disuruh update masalah parenting

Apakah saya sudah mengunggah foto lawas? Tentu belom dong. Wong bahkan saya lupa masa-masa 2009 itu. Kayaknya masih kuliah dan masih jadi anak alay.

2009
Foto ini sepertinya diambil waktu liburan bareng anak kantor ke Anyer deh. Mubajir banget gak sih itu pose dua jari. 

Jadi buat kamu-kamu jangan sok ngatain orang alay karena kamu juga pernah alay pada masanya. Hahaha.

Tulisan ini sebenarnya untuk menyadarkan saya bahwa selama sepuluh tahun ini banyak pengalaman hidup yang bisa membentuk Anita seperti sekarang.
Tulisan ini bukan sekedar ajang pamer foto masa lalu saya yang masih muda dan energik, tapi juga mau cerita rasa penyesalan yang saya rasakan.

Kalau boleh mundur ke belakang, saya mau mengubah beberapa hal :
  • Kuliah : Dulu kuliah ambil jurusan akuntansi karena cuma jurusan itu yang kayaknya kepake buat kerja. Padahal kalau ditelaah sekarang kok kayaknya jurnalis asyik ya.
  • Keuangan : Kalau saja dari dulu saya melek dunia finansial, tentu nilai uang saya sudah banyak. Hahaha enggak cuma abis di perut dan di mall doang.  
  • Mindset : Pola pikir yang masa bodo adalah suatu kesalahan masa lalu.
  • Waktu  : Ini yang paling terasa penyesalannya. Sepuluh tahun sia-sia tanpa keliling Indonesia, melakukan hal baru dan berkontribusi pada negara. 

Penyesalan memang selalu terjadi di akhir, makanya kedepannya saya mau jadi Anita yang lebih baik dari sepuluh tahun yang lalu ataupun sekarang.  

Jadi tulisan ini untuk Anita di sepuluh tahun yang akan datang. 


***

Anita di tahun 2029,

Usia kamu saat ini sudah menginjak angka 4. Usia matang seorang manusia, dimana asam garam kehidupan sudah menempamu.

Entah sudah berapa anakmu saat ini, semoga semuanya diasuh dengan tanganmu dalam perlindungan Tuhan Yesus. 

Entah sudah berapa banyak hartamu saat ini, semoga bisa menjamin hidupmu dan keluargamu.

Untuk pernikahanmu, entah sudah berapa banyak rintangan yang menghadang namun semoga kehidupan pernikahanmu selalu bersandar pada Tuhan Yesus.

Dan semoga waktu sepuluh tahun yang Tuhan berikan untukmu dapat berguna bagi kebahagiaan dirimu sendiri. 

Terimakasih sudah berjuang selama ini.


*** 

Semoga saya masih diberikan berkat supaya masih bisa membaca tulisan ini.




Salam,


- Anita -


 

 

Wednesday, January 9, 2019

ANTARA GAJI, JOBDESK DAN REKAN KERJA

Sebenarnya sudah lama mau nulis soal ketiga elemen penting dalam mencari atau mempertahankan status karyawan dalam sebuah perusahaan, tapi kok malas. 

Ealah akhirnya ke triggered oleh Video Kang Hasol yang membahas alasan Amelicano resign dari SBS. Sebelumnya saya enggak pernah menonton channel Amelicano. Silakan anda search sendiri channel keduanya di Youtube.

Kang Hasol : Korea Reomit
Amelicano  : Amelicano

Kenapa sih berhenti dari SBS? Perusahaan besar di Korea Selatan lho yang terkenal dengan reality show Runningman dan lainnya. Tentu banyak yang bingung kok keluar dari perusahaan elit sih.

Ternyata usut punya usut, selain masalah gaji ternyata masalah pekerjaan yang tidak sesuai jobdesk. Aaahh saya paham kondisimu,sayang. 

Kalau orang yang sudah menyandang status karyawan lama pasti menyadari ada 3 elemen penting dalam menikmati pekerjaan, yaitu : Gaji, Pekerjaan/Jobdesk dan Rekan Kerja.

Tiga hal itu sayangnya sulit sekali berada bersamaan. 

Perusahaan pertama saya bekerja memiliki pekerjaan dan rekan kerja yang oke banget, sayang gajinya kecil apalagi kalau belom sarjana. Begitu lulus kuliah saya pindah ke bagian lain tentu dengan kenaikan gaji. 

Enam tahun bekerja pasti mengalami kejenuhan, iseng coba cari kerjaan baru eh dapet dengan gaji yang oke banget. Di kantor kedua ini pengalaman saya bertambah karena berhadapan dengan bos langsung.

Baca juga     :   I (un)like My Boss - Keturunan Babi Ngepet  

Baca juga    :    I (un)like My Boss - Biang Rusuh  

Baca juga    :    I (un)like My Boss - si Kepoohhh 

Karena teman sekerjanya masih oke, jadi saya bertahan hampir dua tahun di Kantor kedua ini. 

Kantor ketiga enggak sampai dua tahun, soalnya gajinya enggak oke dan rekan kerja juga gitu deh. 

Dan terakhir kantor keempat, masih bekerja sampai sekarang. Sudah hampir 4 tahun, sebenarnya sudah enggak betah dari kapan tahu cuma karena sudah mempunyai anak jadi agak repot ya mencari pekerjaan baru. 

So buat kamu-kamu yang masih single atau belum ada tanggungan, carilah pengalaman bekerja sebanyak-banyaknya. Tapi inget ya jangan berharap ketiga elemen diatas selalu ada di kantormu. 

Nikmati setiap pekerjaanmu.

Ada kalanya memang kita muak dengan pekerjaan yang kita lakukan, coba ambil cuti dulu. Hehehe kalau emang masih muak, enggak salah kok mencari yang baru.




Love,


Anita  

Tuesday, January 1, 2019

THANK YOU & WELCOME

Lagi merasakan kebuntuan dalam menulis di blog ini. 
Buktinya total tulisan saya di tahun 2018 menurun dibanding tahun lalu. Haiiish.

Sungguh tahun 2018 yang kurang maksimal.
Tapi saya bersyukur.

Tahun 2018 membuka mata dan hati saya untuk semakin mengenal dunia. 

Menikmati masa-masa punya anak umur 2 tahun yang makin sering bikin kesel tapi selalu gemesin,
Menikmati perubahan pola pikir yang semakin terbuka dengan wawasan dan ilmu baru,
Aaaah nikmat mana lagi yang bisa kudustai sekarang.

Jika tahun sebelumnya saya mencoba membuat resolusi untuk tahun selanjutnya, kali ini saya ingin lebih berdamai dengan diri sendiri beserta keadaan. 

Tapi bukan berarti tahun 2019 menjadi ajang sesuka hati, banyak plan yang ada di otak namun belum berani direalisasikan. 


Banyak kejadian selama tahun 2018 yang menjadi pembelajaran hidup saya. Dari segi keuangan, keluarga dan diri sendiri.

Dan semoga tahun 2019 ini menjadi tahun yang spektakuler bagi saya, keluarga dan kalian.

Thank You, 2018.
and
Welcome, 2019.



Thank God atas pernyertaanMu setahun ini. 
Berilah kuasa untuk menanggung berkatMu di tahun 2019.


Love,

ANITA

 

KEHILANGAN

Kehilangan orang terdekat yang terpatri dalam ingatan saya hanyalah Nenek dari Mama dan Suami dari Sepupu. Terpatri karena kejadiannya saat...