Monday, April 22, 2019

BATASAN DALAM SHARING MAINAN

Saya baru saja selesai berlibur bersama keluarga dari Mama Mertua, enggak jauh sih cuma di daerah Ciawi. Itupun cuma beberapa hari, kebetulan ada libur.

Nah dari sekian banyak sepupu suami, yang sudah menikah dan punya anak kan cuma 2. Suami dan satu sepupu perempuan, anaknya perempuan dan lebih tua satu bulan dari Kael.

Sudah kebiasaan kalau mau pergi itu saya bawa beberapa mainan untuk Kael sebagai pengusir rasa bosan, nah pas kebetulan sinyal XL disana tuh parah abis. Dan Kaelpun lebih senang mengeksplor area sekitar Villa (meski emaknya lumayan capek ngikut dia jalan). 

Namun tetap saja ada kalanya saya kecapean dan mengajak Kael stay di dalam Vila. Maka amunisi saya keluarin dong. Dan si anak perempuan itu tertarik ikut main sambil bilang ' sharing ya'.

Oke, saya pikir berarti pengasuhannya sudah oke sampai anaknya bisa bicara seperti itu. Kaelpun tidak bermasalah selama mainan yang sedang dia mainkan tidak diganggu. 

Cukup sehari-dua hari saya perhatikan kok jadi aneh ya. Mainan yang saya bawa memang tidak banyak, kalau dihitung paling cuma 3 model permainan. Kelereng, Block, dan Potong Sayur. Akhir-akhir ini Kael memang sedang senang bermain kelereng, diputar pada kursi duduk yang ada bolongan ditengah. 

Nah begitu si anak perempuan itu mulai tertarik, dia secara spontan mengambil kelereng dari tangan Kael. Lah jelas Kael menolak tapi lagi-lagi si anak perempuan itu bilang 'harus sharing'. 

Memang Mama-nya sudah menasehati tidak boleh memaksa, namun lagi-lagi kalimat 'sharing' itu terucapkan begitu Kael tidak memberikan mainannya. Dan jika tetap tidak diberikan, si anak perempuan itu akan memasang wajah 'ngambek' terus pergi, namun tetap akan kembali. Hahaha. Apalagi si anak tidak membawa mainan sendiri saat liburan.

Selama ini saya lebih mengutamakan mengajarkan Kael untuk sharing mainan umum - yang artinya memang untuk banyak orang. 

 
Dia harus mengalah atau menunggu mainan tersebut tidak dimainkan kembali. Tidak boleh marah jika tidak diijinkan main. Jadi sampai saat ini lumayan berefek, Kael akan menunggu gilirannya naik tangga atau turun seluncuran.

Dan untuk mainan yang dia miliki, biasanya saya bertanya pada Kael apakah boleh dipinjamkan? Kalau memang tidak boleh ya memang itu hak Kael dong, makanya saya selalu membawa beberapa macam mainan agar tidak ada drama perebutan.
 
Jadi seharusnya batasan apa saja yang harus diajarkan pada anak dalam hal sharing mainan?
 
 
 
Salam Ibu dengan Treenager.
 
 
ANITA
 

KEHILANGAN

Kehilangan orang terdekat yang terpatri dalam ingatan saya hanyalah Nenek dari Mama dan Suami dari Sepupu. Terpatri karena kejadiannya saat...