Monday, May 6, 2019

KEHILANGAN

Kehilangan orang terdekat yang terpatri dalam ingatan saya hanyalah Nenek dari Mama dan Suami dari Sepupu. Terpatri karena kejadiannya saat saya sudah dewasa. Sewaktu Nenek dari Papa meninggal, usia saya masih kecil jelas tidak terekam banyak kebersamaan kami. 

Dan dalam beberapa tahun belakangan ini saya mulai menyadari bahwa usia kedua orangtua kami sudah tidak lagi muda. Keriput, tubuh renta serta pendengaran dan ingatan yang melambat makin terlihat. Cepat atau lambat saya harus merasakan kehilangan mereka. Setelah itu berpikir apakah saya sudah membahagiakan mereka?

Saat ini saya baru saja kehilangan Mama Mertua.

Hampir 10 tahun berjuang melawan penyakit KANKERnya, dia menghembuskan napas terakhirnya hari Selasa, 30 April 2019 pukul 15.00 wib di Rumah, bersama keluarga tersayang.

Tahun 2019 menjadi tahun yang berat bagi beliau. Sejak divonis usianya tak lagi panjang, kondisinya semakin drop ditambah tidak dilakukan kemoterapi untuk kanker yang menggerogoti ususnya. 

19 April lalu menjadi acara keluarga besar pertama dan terakhir baginya. Kepulangan liburan malah memperburuk kondisinya, beliau terkena infeksi dan dilakukan rawat inap di Rumah Sakit Dharmais selama tiga hari untuk pemberian antibiotik.

Sampai di rumah keadaan tidak membaik, semakin hari kondisinya semakin parah. Napaspun harus dibantu tabung oksigen, sudah tidak bisa turun dari ranjang dan tubuhpun semakin kurus. 

Sabtu, 27 April. Saya menginap di rumah beliau karena suamipun sejak itu diminta untuk menemaninya. Mama Mertua selalu minta ditemani, tidak mau sendirian dikamar. Kami sudah diminta untuk bersiap mengikhlaskan kepergiannya. Senandung pujian dan doa selalu terdengar untuknya. 

Minggu, 28 April. Pulang gereja disambut kedatangan banyak tamu untuk berkunjung, dari pagi hingga sore dan membuat Mama lelah. Saya pulang malam itu karena esoknya bekerja.Dan senin itu saya berusaha menyelesaikan kerjaan yang urgent.

Senin, 29 April malam. Awalnya hanya niat berkunjung namun berakhir menginap karena Mama terlihat tidak setuju begitu saya pamit, akhirnya sayapun mengalah dan menginap di ruang yang sama. Tidak berhenti suami mengajaknya berdoa dan bernyanyi pujian. 

Selasa, 30 April siang. Saat kami tinggalkan untuk pulang, beliau masih merespon. Saya dan suami mampir ke Tangcity untuk membeli pakaian bagus (untuk Mama) dan setengah 2 sore itu menerima pesan bahwa Mama sedang koma. Bergegas pulang dan menemukan Mama dalam kondisi tidak sadar dengan napas terengah-engah. 

Dengan mata kepala sendiri saya melihat kepergian Mama, napasnya perlahan putus dan nadinya tidak lagi terdetect. Jam 3 sore suster menyatakan Mama sudah meninggal. 

Selamat Jalan Mama...
Roh Jiwamu sudah kembali pada Tuhan.


Banyak kenangan bersama beliau selama ini yang membuat saya sadar belum seratus persen menjadi menantu yang baik. Meski kadang tidak sejalan tapi saya mencoba untuk melakukan yang terbaik.


Mama di kremasi hari Sabtu, 04 Mei 2019.


Kematian adalah awal dari kehidupan yang kekal.





Thanks,


-ANITA-





No comments:

Post a Comment

ADAPTASI

Setelah empat tahun empat bulan bekerja di perusahaan terakhir, akhirnya saya menyerah juga untuk double job sebagai pekerja plus merawat a...